Cukup

105 1 0
                                        

Hai ketemu lagi sama author di part yang baru tapi di cerita yang sama.

Kalian udah vote dan komen belum, kalo belum vote dan komen dulu yuk.


Kamu & Kenangan




Kalau masalah bergadang sejujurnya ia cukup terbiasa akan kegiatan yang satu itu. Entah karena pekerjaan yang dipaksakan selesai pada saat itu hingga tidur menjelang subuh, atau karena ia sengaja bergadang demi menonton drama yang sedang seru-serunya setelah ia menabung episode. Tapi, dari sekian banyaknya alasan ia memilih untuk terjaga semalaman, berduaan saja dengan seorang pria hingga dini hari tak pernah terlintas dalam benaknya.

Gio baru mematikan mesin mobilnya setelah Jeep milik sang pengemudi telah terparkir rapi di basement apartemen gedung tiga. Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam untuk mengobrol di cafe dan menempuh perjalanan hampir tiga jam sebab macet yang mendadak karena kecelakaan di tol, mereka sampai pada tempat pertemuan akhir hari ini.

Hanna melirik jam pada sudut ponselnya setelah melepas seat belt Pukul 03.42 hampir subuh dan mereka baru sampai di apartemen.




"Ini main termalam gue sih Kak," ungkap Hanna tiba-tiba.

"Sorry. Gue seharusnya bisa lebih cepat pulangin lo, bukan udah waktu menjelang subuh gini." Raut penuh sesal itu benar-benar terlihat di tengah lampu mobil yang temeran.

"Nggak masalah Kak. Lagi pula gue juga setuju kok. Lo juga nggak perlu merasa bersalah gitu lagi pula gue juga yang kekeh minta nggak pulang cepat. Lagi pula tragedi di tol siapa yang bisa duga," kata Hanna saat langkanya dan lelaki itu beriringan memasuki gedung apartemen. "Kak Gio bakal tidur di sini?"


Gio menggangguk. Menekan tombol 7 hingga lift perlahan bergerak naik.


"Nggak takut mengangguk Kak, ke apart orang pagi-pagi buta gini?" tanya Hanna sambil bersandar di dinding lift.

"Nggak akan. Lagi pula gue ada kunci cadangan kok jadi nggak mungkin menganggu." Gio berucap yakin. Hingga pintu lift terbuka di lantai yang mereka tuju.

"Gue mendadak jadi penasaran deh sama sosok yang udah mau kasih Kak Gio tumpangan tempat tinggal kalau Kak Gio nggak pulang ke rumah."

"Kalau kalian ada waktu luang, gue akan temui kalian. Nggak dalam waktu dekat tapi bakal gue kenalin kok."

Begitu tiba di hadapan pintu unit tempat Gio bermalam malam ini. Kedua manusia itu dengan serentak menghentikan langkahnya.

"Terimakasih ya Kak karena udah ajak gue ajak jalan-jalan. Padahal urusan mood gue nggak bagus bukan karena kak Gio, tapi tetap aja kak Gio malah ajak gue jalan-jalan sampai bablas gini," senyum kecil itu terbit yang tentu di balas anggukan oleh sang pria.

"Tapi kayanya ini kali terakhir deh gue ajak lo jalan dan pulang selarut ini."

"Lah kenapa? Kak Gio kapok menghabiskan banyak waktu sama gue karena selama kita jalan gue terlalu banyak ngoceh, padahal Kak Gio bilang dermaga jadi tempat yang sepi? Aduh, gue jadi ngerasa nggak enak lagi, takut kalau kak Gio lagi butuh waktu sendiri dan pilih dermaga kepikiran sama ocehan gue yang nggak bermutu. Maaf ya—"

Dengan gerakan tiba-tiba Gio membungkam bibir Hanna dengan jari telunjuk nya yang menempel pada bibir perempuan itu. Walupun ya belum benar-benar menempel sejujurnya. "Gue nggak kapok kok ajak lo jalan, nggak nyesal juga karena tempat gue cari ketenangan mendadak jadi tempat yang nggak gue suka lagi karena dengar obrolan yang lo sebut ocehan itu. Gue malah berpikir seenggaknya tempat gue untuk lari sesaat ada kenangan lo di tempat itu. Ada langkah kaki kita yang jalan beriringan, ada obrolan panjang yang nggak penting tapi menyenangkan, ada waktu yang kita habiskan bersama, ada tawa kita juga di sana, ada hening yang menyenangkan, ada kenangan yang nggak pernah kita tahu apa mungkin aja hal tersebut mungkin lagi terjadi atau nggak. Atau yang tadi cukup yang pertama dan terakhir untuk kita. Tapi, satu hal." Gio menyentuh puncak kepala Hanna dengan pelan setelah memindahkan jari telunjuknya dari bibir sang perempuan, "gue nggak pernah nyesal pernah ajak lo ke tempat yang gue suka. Kenapa gue bilang ini jadi terakhir kali gue ajak lo jalan dan pulang selarut ini? Karena kita tinggal di negara yang ada batasan norma. Gue nggak mau lo di cap jadi cewek yang gampangan karena mau aja di ajak jalan sama cowok yang nggak jelas statusnya mana pulang larut lagi. Gue nggak mau stement buruk orang-orang itu mengarah kepada lo Silsila Hanna. Walupun kita tinggal di lingkungan yang orang-orang nggak bakal sibuk urus-urusan orang lain tapi tetap aja tempat yang kita pilih untuk jalan-jalan itu tempat umum. Tempat yang siapa aja bisa datang, dan tempat dimana orang bebas berspekulasi apapun yang mereka mau tanpa perlu tau lebih jauh. Jadi gue harap lo ngerti." Alih-alih mengacak rambut seperti yang banyak orang lakukan, Gio malah merapikan rambut sang wanita. Setidaknya sapuan angin usil yang sedari tadi menerbangkan helai-helai rambut Hanna menjadi sedikit lebih rapi. Gio yang tengah merapikan rambut sang perempuan di buat tersentak kaget begitu tubuhnya merasakan tubuh lain yang medekap tubuhnya, hingga tak lama setelahnya lingkaran pada punggungnya dirasakan di susul dengan kepala Hanna yang bersandar pada dada bidangnya membuat ia yang terkejut mendapatkan perlakuan tiba-tiba Hanna di buat membeku selama sesaat sebelum memilih menyisir rambut wanita tersebut dengan pelan mengunakan jari-jarinya. "Kenapa?"



Kamu & Kenangan Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang