Alasan

80 1 0
                                        

Hai ketemu lagi sama author di part yang baru tapi di cerita yang sama.

Kalian udah vote dan komen belum, kalo belum vote dan komen dulu yuk.






Siapa Menyangka By Glenn Samuel







Kamu & Kenangan








Hanna pernah membaca salah satu artikel yang berisi tentang remaja yang memasuki umur dua puluhan, atau lebih dikenal dengan. Quarter life crisis.

Pada usia 20 hingga 30 tahun, banyak individu menghadapi pergulatan batin yang tidak mudah. Fenomena ini dikenal dengan istilah quarter life crisis, sebuah periode transisi dari masa remaja ke dewasa yang penuh dengan tekanan, kebingungan, dan pertanyaan mendalam tentang arah hidup. Menurut Psikolog Remaja Direktorat Kemahasiswaan dan Karir (DKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Anita A'isah, S.Psi., M.Psi., masa ini kerap ditandai dengan adanya gap antara tuntutan hidup yang tinggi dan kemampuan individu yang belum sepenuhnya matang.

Akar dari keberhasilan seseorang dalam melewati fase tersebut tidak bisa hanya dilihat dari masa kini. Pola asuh dan pengalaman masa kecil turut membentuk bagaimana seseorang menghadapi tekanan di masa quarter life crisis. Tentunya, tidak dapat dipungkiri bahwa luka yang terjadi di masa kecil akan terbawa hingga dewasa dan memengaruhi bagaimana mereka menyikapi suatu tekanan atau masalah.

Meski demikian, quarter life crisis bukanlah akhir dari segalanya. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan generasi muda untuk melalui masa ini dengan lebih matang. Pertama, menerima luka masa lalu dan berdamai dengan hal itu. Kedua, menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Fokuslah pada hal-hal yang bisa diupayakan, seperti pengembangan



Sayangnya yang ia baca semua nya memiliki kesamaan antara yang dirinya rasakan pada saat umur dua puluhan.

Jika Hanna mencari tahu apa alasan keluarga mereka tak pernah mengizinkan anak-anak mereka kuliah jauh dari keluarga besar, maka dirinya tak pernah bertanya akan hal tersebut.

Ia hanya akan marah dan kesal kepada ayah dan mama selama satu minggu, sebelum pada akhirnya ia akan mulai berbaikan tanpa mencari tahu apa alasan sang orang tua tak menguliahkan dirinya keluar kota.

Hingga saat pembicara ia dengan sang kekasih membahas tentang hal ini ia baru penasaran akan hal tersebut.




"Karena umur dua puluhan kita belum dewasa."

"Hah?" Kebingungan Hanna dengan wajah melongo itu tentu saja langsung memancing tawa dari salah satu Pratama.

"Kamu lucu deh kalau lagi kebingungan kayak tadi." Gio berusaha menghentikan tawanya tapi tenyata tetap tidak bisa begitu melihat raut kebingungan lagi dari sang kekasih begitu itu berucap.

"Hah?"



'Tunggu dulu. Tadi Kak Gio bilang gue lucu? Seriusly,' batin Hanna sambil berusaha menyembunyikan rona merah pada pipinya yang mungkin saja akan segera tiba.



"Oke-oke aku bakal jelaskan sama kamu pelan-pelan biar kamu paham." Gio meneguk air terakhir pada botol minumnya sambil berdehem beberapa kali agar menstabilkan suaranya. "Jadi maksud dari perkataan aku 'Karena umur dua puluhan kita belum dewasa itu' sebenarnya karena ada penelitian nya loh. Oke deh saat ini kita nggak usah ngomong soal penelitian biar aku jelaskan nya lebih gampang. Di mulai dari diri kamu aja deh."





"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 05 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Kamu & Kenangan Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang