"Gue suka sama lo Kak."
Ungkapan cinta yang di ungkapkan oleh remaja labil begitu duduk di kelas satu SMA tentu bukanlah perkataan yang bisa dianggap serius. Karena cinta monyet kerap hadir mengisi masa remaja yang menyenangkan.
Sudah cukup sepuluh...
Hai ketemu lagi sama author di part yang baru tapi di cerita yang sama.
Kupu-kupu By Tiara Andini
Kalian udah vote dan komen belum, kalo belum vote dan komen dulu yuk.
Kamu & Kenangan
Perempuan dengan hills setinggi dua centi itu baru saja keluar dari ruangan rapat di lantai utama, Setelah berdiskusi singkat soal projek yang aka mereka kerjakan.
Jadi begitu selesai jam makan siang ia lebih memilih untuk langsung masuk pada ruangan meting. Membiarkan ketiga rekannya untuk naik lebih dahulu.
Sesudah urusan rapat selesai. Perempuan dengan rambut yang saat ini di ikat ekor kuda dengan sisi kiri dan kanan yang masih terdapat helai rambut di jepit dengan jepitan berwarna biru tua.
Menekan tombol lift hingga tak lama setelahnya pintu kaca itu terbuka. Memperlihatkan sosok pria dengan balutan kemeja berwarna biru tua yang lengannya sudah di gulung setengah. Memperlihatkan otot-otot tangan yang kali ini terlihat dengan jelas, serta celana bahan hitam dan jangan lupakan sepatu sneakers dan juga jam tangan menambah pesona seorang Gionil Aksara Pratama hari ini. Foreman di KBS yang diam-diam mencuri perhatian para perempuan di gedung perkantoran ini.
"Nggak jadi masuk?" Gio menjentikkan jarinya tepat di hadapan sang perempuan membuat Hanna yang ternyata tengah melamun di buat tersadar.
"Ma-masuk kok Pak," ucap Hanna gugup.
Gio mengangguk kecil. Berdiri di sisi kanan dan Hanna di sisi kiri. Membiarkan keheningan terjadi di antara mereka.
"Nanti malam mau makan bareng nggak Kak?" tanya Hanna pelan.
"Boleh aja," setuju Gio, "mau gue atau lo yang tentuin tempat makan nya?"
"Kalau tempat makanya kali ini gue tentukan boleh nggak Kak," cicit Hanna ragu.
Gio tersenyum kecil, sebelum pada akhirnya menarik pergelangan tangan Hanna hingga jatuh mengenai tubuh bagian atasnya.
"Kak Gio!!" pekik Hanna tertahan. Begitu menyadari bahwa jarak mereka terlampau dekat.
Gio yang mendengar pekikan Hanna hanya tersenyum kecil aja. "Kangen Han," beber Gio langsung tanpa aba-aba. Membuat Hanna yang mendegar nya di buat terdiam selama beberapa saat.
"Kita nggak ketemu tiga hari loh. Semenjak setelah ke dermaga," sambung Gio.
"Kita nggak ketemu tiga hari tapi kan tetap intens komunikasi Kak," kata Hanna setelah Gio membiarkan Hanna memberi jarak, hingga saat ini mereka berdiri saling bersisian dengan tangan Gio yang berada pada pergelangan tangannya. "Lagi pula berani banget ngomong kangen di hubungan ini," candanya.
Gio menatap Hanna intens. "Ini ngode ajak jadian? Kalau iya sih ayok aja gue mah," senyum Gio smirk.
"Enggak ya Kak." Geleng Hanna cepat-cepat.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.