Rani mengunyah cracker sembari mengayun Melani. Sudah sejak tadi perutnya minta diisi, hanya saja Melani agak rewel jadi Rani dengan terpaksa minum susu yang telah dibuatkan Guntur dalam keadaan dingin dan nyemil cracker sedikit-sedikit.
Saat kembali menyumbulkan kepala ke dalam ayunan, Rani mendesah lega karena akhirnya Melani tertidur.
Rani menuntaskan nyanyiannya yang berupa gumaman nada hingga akhirnya bangkit dari pinggir ranjang. Rani memunguti semua sampah sebelum keluar, dan begitu keluar ada saja bagian lantai yang jorok yang didapatinya. Rani berusaha tak memedulikannya dan tetap lanjut berjalan, ketika menemukan pasangan itu di ruang tengah mau tak mau Rani tersenyum sungkan, ya, bagaimana pun mereka adalah saudara Guntur, kenyataan yang sebenarnya membuat jengkel.
Dan senyum kikuk Rani belum juga berakhir kala dia menyibak tirai menuju dapur matanya langsung melotot, lagi-lagi piring berserakan. Apa mereka tidak tahu di mana tempat yang tepat untuk meletakkan piring?! Emosi Rani mendadak tersulut, dia mencoba meredamnya dengan menarik napas lalu mengembuskannya.
Rahang Rani mengetat saat menumpuk piring dan menaruhnya di tempat cuci piring, lalu menyingkirkan bungkus plastik katering ke tong sampah. Rani mengelap meja hingga bersih baru menyingkap tudung saji...
Astaga... rasanya air mata Rani akan jatuh detik itu juga. Semua lauk dan sayuran telah habis?! Sebanyak apa makan dua orang itu??
"Kak."
Rani nyaris melompat saat Firman tiba-tiba muncul.
"Maaf ya sayurnya kami habiskan."
Sudut bibir Rani berkedut menahan komentar negatif jika dia membuka mulut.
"Tadi Mawar mau masak, tapi aku larang. Soalnya masakan dia nggak enak," ujar Firman sambil cengengesan. "Jadi daripada dia masak terus nggak ada yang makan, ya kan? Jadi sebaiknya nggak usah."
"Oh," gumam Rani begitu pelan.
"Kakak bisa masak?"
Rani mengangguk kaku. "Bisa."
"Ya maksudnya kalau nggak bisa, aku kan bisa keluar beli sayur."
Lalu rasanya tidak seenak katering langganan?
Rani langsung menggeleng. "Enggak usah. Aku bisa masak sendiri."
Firman langsung menyeringai. "Bagus deh kalau begitu," sahutnya santai dan kembali menghilang dari balik tirai.
Rani mendengus tak habis pikir, dan kembali ke kamarnya untuk mengambil uang.
"Lho, Kak Rani mau masak?" tanya Ika ketika Rani muncul di kedai dan melihat-lihat ke meja sayuran.
Rani mengangguk. Sebenarnya dia juga sedang tak berselera masak. Entah karena bawaan bayi atau memang sudah keenakan dengan kateringan. Dan yang lainnya, mungkin karena dia harus memasak untuk dua orang di dalam sana.
Wajah Rani semakin tertekuk. Mungkin dia bisa memasak ala kadarnya saja. Tapi Guntur juga harus makan malam ini, kan? Mana mungkin Rani mengabaikan kebutuhan suaminya begitu saja.
Mungkin kali ini Rani akan memasak capcay saja, cukup satu menu sudah cukup, sayur dan seafood tercampur jadi satu.
Rani mengambil sayuran, udang dan bakso ikan dalam porsi lebih banyak.
"Ka."
"Ya Kak?"
"Bisa tolong jagain Melani bentar nggak, selagi aku masak."
"Lho, kan ada adeknya Bang Guntur Kak?"
Rani langsung cemberut dan mengibaskan tangannya. "Dia ngerokok!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Dusta
RomanceGuntur Pradana Ginting pernah menjadi korban salah tangkap. Dan itu disebabkan oleh anak dari kepala polisi di desanya yang mengaku telah diperkosa oleh Guntur. Guntur membenci wanita yang bernama Aulia Maharani itu. Sepuluh tahun berlalu ia ingin m...
