Bab 38

9.5K 947 22
                                        

Guntur membiarkan Pak Idrus menggelar lapak. Sementara dia langsung menuju ke pedagang buah-buahan. Sesaat langkah Guntur terhenti. Jambu air atau jambu biji? Ketika hendak mengambil ponselnya, Guntur langsung mengurungkan niatannya, Rani pasti sudah kembali tertidur. Lebih baik dia membeli keduanya, putus Guntur cepat.

Ya, pagi ini Guntur kembali berjualan ke pasar, setelah Rani memastikan dengan yakin kalau dia sehat-sehat saja.

Ketika menemukan penjual kenalannya, Guntur langsung melihat senang pada tumpukan jambu biji.

"Cari apa Bang Guntur?"

"Jambu biji, jambu air juga," sahut Guntur sembari melihat-lihat.

"Ada apa nih, Bang Guntur dari kemarin cari buah terus? Jualan buah juga sekarang, Bang?"

Guntur menggeleng. "Istriku lagi ngidam." Ada perasaan yang mengembang di dada Guntur ketika mengatakannya, dia seharusnya kesal dan marah dengan sikap Rani yang menyulitkannya, akan tetapi tidak begitu yang dirasakan Guntur, dia kesal tapi senang.

"Lho, kapan nikahnya Bang? Nggak undang-undang nih."

Guntur menatap segan. "Iya Kak. Memang nggak ada pesta-pesta."

"Udah mau jadi Bapak sekarang. Pantas semangat kali lah dari kemarin Bang Guntur ni."

Guntur melengkungkan senyumnya, sambil kembali memilih jambu biji.

Pukul setengah delapan Guntur tiba di rumah. Guntur langsung masuk ke dalam rumah, dan membiarkan Pak Idrus yang membongkar belanjaan.

Tak ada suara, jadi Guntur langsung membuka pintu kamar untuk mengecek Rani. Yang ternyata wanita itu sedang memainkan ponselnya, dan tampak sudah mandi.

"Apa itu, Bang?" tanya Rani langsung melihat plastik yang dibawa Guntur sambil beranjak duduk.

"Jambu," sahut Guntur singkat.

Wajah Rani langsung terheran-heran. "Jambu? Siapa yang minta jambu?"

Ekspresi Guntur berubah datar, bukankah kemarin Rani yang jelas-jelas membayangkan soal asinan atau manisan itu??

Rani beringsut mendekat. "Buah-buahan kemarin aja belum sempat dimakan, aku rencana bikin salad buah nanti. Terus sekarang Abang beli jambu, siapa yang mau ngabisin?"

Bibir Guntur menipis, "Kalau kamu tidak mau ya sudah, kasih ke—"

"Ika?? Ih... enggak-enggak. Lebih baik aku buat manisan biar tahan lama."

Gigi Guntur beradu. Kali ini Guntur langsung menimpali. "Bukannya kamu memang bilang pengin buat manisan kemarin? Makanya aku belikan jambu. Terus sekarang kamu bicara seolah-olah tidak menginginkan itu."

Bibir Rani mengerucut panjang, matanya mengerjap-erjap menahan diri agar tidak menangis, tetapi kenyataannya matanya terasa sangat panas dan ketika setitik cairan muncul, Rani buru-buru menyekanya.

Tubuh Guntur membeku. Tak sanggup menghela napas, karena kali ini dia kembali melakukan kesalahan.

"Aku yang makan," sahut Guntur dengan suara pelan. "Kalau tidak habis, aku yang habiskan."

Rani mendongak dengan bibir tertekuk ke bawah. "Aku kan cuma sekadar bicara, nggak pernah suruh Abang beli. Abang juga nggak tanya ke aku dulu kalau mau beli apa pun kan?"

Pandangan Guntur merunduk, ikut mengakui kesalahannya. Mungkin yang membuat Guntur kesal karena Rani tidak langsung menghargai tindakan spontannya.

"Maaf," gumam pria itu yang seketika membuat wajah Rani berseri-seri.

Rani turun mencari-cari sandalnya dan meraih bungkusan di tangan Guntur, "Ya udah. Simpan aja dulu. Besok-besok baru dimakan atau diolah."

Rani segera keluar, namun sesaat langkahnya terhenti.

Jejak DustaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang