Sampai juga dipenghujung ceritaa :*
.
.
"Jadi berangkat besok pagi, kan?" tanya Rani dalam panggilan video.
"Iya..." sahut Guntur. Semalam Guntur mengatakan dia akan berangkat malam, tetapi Rani melarangnya dengan alasan malam-malam jalan sepi bagaimana kalau terjadi sesuatu, semakin mendekati hari H, Rani semakin cerewet, dia takut saja jika semuanya tidak berjalan sesuai rencana. Rani bahkan sempat menawarkan Guntur untuk naik pesawat, dan ya... tentu saja Guntur menolak, urusan tetek bengek di bandara mana dia paham.
"Abang udah makan?"
"Belum."
"Kok belum??"
"Ya mau makan kamu sudah telepon duluan."
Guntur menahan seringai melihat wajah samar Rani yang cemberut.
"Itu Kak Rani, Bang?" tanya Ika yang keluar dari kedai.
Guntur mengangguki.
Ika secepat kilat langsung mendekat dan menampakkan wajahnya di layar.
Di tempat lain, Rani langsung menatap syok. "Kamu ngapain disitu!" seru Rani dengan dada terbakar melihat Ika dekat-dekat dengan suaminya.
"Ada yang mau kubilang sama Kakak, lho..."
"Jauh-jauh dari situ!" seru Rani panik, enak saja dia dekat-dekat dengan Guntur.
"Kenapa Kak? Nggak ada sinyal ya?"
"Iya!" seru Rani menggebu-gebu. "Coba jauh-jauh dari Bang Guntur, pasti ada sinyal tuh!"
"Oh... bentar ya." Ika merampas begitu saja ponsel Guntur berjalan jauh ke halaman. "Udah jelas belum, Kak?"
"Udah!" sungut Rani.
"Kak..." seru Ika panjang. "Aku boleh ikut ke Medan ya... aku udah tanya ke Bang Guntur, katanya aku boleh datang kalau diundang. Kak Rani undang aku kan??"
Dengan wajah masih menahan dongkol, Rani menaikkan alisnya. "Hm... gimana ya. Memang nggak boleh masuk kalau nggak ada undangan."
"Ya terus itu keluarga Bi Sri. Keluarga Pak Idrus, gimana? Tadi aku tanya juga nggak ada undangan kok."
Bibir Rani menipis. "Kalau mereka ada akses khusus lewat Bang Guntur," karang Rani.
"Ya udah, kalau gitu aku sama aja ya kan?"
"Kamu kan bukan saudara!" sela Rani cepat. "Yang boleh pake akses khusus itu hanya saudara."
"Ih... kok gitu sih Kak. Bi Sri juga saudara ketemu gede kok sama Bang Guntur. Aku diakuin saudara kan juga bisa..."
"Hm... gimana ya?"
"Ayolah Kak. Aku juga sekalian mau pulang kampung sebentar ke Kisaran. Udah lama aku nggak lihat anakku lho Kak," rayu Ika.
Rani menaikkan sebelah alisnya, lalu berkata, "Ah! Kamu bisa masuk."
"Serius Kak? Ih baik kali—"
"Tapi dari pintu belakang. Cuci piring," potong Rani.
"Ih... Kak Rani ini! Aku mau dandan yang cantik lho... masa disuruh cuci piring. Serius lah Kak... boleh ya? Biar aku ngangsur baju baru sama Kak Rita."
"Apa itu ngangsur?"
"Ya ampun Kak... ya ambil baju, tapi bayarnya cicil."
Astaga... Rani memutar bola matanya.
"Ya Kak. Boleh ya..."
"Oke. Boleh. Asal ponsel yang kamu pegang ini udah berpindah ke tangan Bang Guntur dalam waktu satu detik."
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Dusta
RomansaGuntur Pradana Ginting pernah menjadi korban salah tangkap. Dan itu disebabkan oleh anak dari kepala polisi di desanya yang mengaku telah diperkosa oleh Guntur. Guntur membenci wanita yang bernama Aulia Maharani itu. Sepuluh tahun berlalu ia ingin m...
