Bab 55

6K 767 26
                                        

Rani memainkan jemarinya saat perhatian Guntur hanya fokus ke televisi yang menampilkan siaran berita. Rani sampai harus berdeham kecil untuk memaksa Guntur menampilkan ekspresi lain, tetapi yang dilihat Rani wajah Guntur datar saja.

Telapak kaki Rani beradu, dia sedikit tak nyaman tidak memakai sandal di lantai yang sedikit berpasir baginya.

"Kapan Abang masuk rumah sakit?" tanya Rani berusaha memulai obrolan.

Sementara, gigi geraham Guntur saling menekan kuat, hatinya tak ingin mengabaikan Rani dengan begitu kejamnya, akan tetapi logikanya memerintahkan untuk tetap diam. Sebab semakin dingin sikap Guntur, lama-kelamaan Rani pasti akan bosan, dan berpikir kembali jika lebih baik dia pulang ke rumah orang tuanya.

Diusir? Gimana ceritanya bisa jadi seperti itu? Setelah Rani mendadak berada di kampung pedalaman, yang pasti membuat keluarganya marah besar, sekarang Rani berada di sini dan entah apa kegaduhan yang terjadi. Mana mungkin keluarga Rani akan melepas Rani kepada pria sepertinya. Dan tekanan itu pasti akan menyulitkan Rani, Guntur tak ingin Rani menjadi bulan-bulanan yang ditarik sana-sini. Mengapa Rani tak melupakannya saja?

"Bang..." sebut Rani lagi, memajukan wajahnya agar Guntur menatapnya.

Dengan tenggorokan serasa tercekik, Guntur melirik sesaat. "Kemarin lusa."

"Siapa yang antar Abang ke sini?"

"Tetangga."

Rani mengerucutkan bibirnya sesaat. "Terus apa kata dokter?"

Rahang Guntur berkedut. "Tidak apa-apa."

"Nggak apa-apa gimana??"

Rani mengamati Guntur yang mengubah posisi bantalnya. "Aku mau istirahat."

Dada Rani bergetar, lalu dengan celingukan dia berpura memeriksa barang-barang di atas nakas. "Um, aku mau ke minimarket sebentar. Abang ada yang mau dititip nggak?"

Guntur menggeleng.

"Sakit lambung nggak bisa makan sembarangan. Aku coba cari di internet buah apa yang bisa dimakan."

"Tidak perlu. Aku makan nasi dari rumah sakit."

"Ya tapi tetap perlu ada tambahan vitamin. Ya udah aku cari tahu sendiri. Aku cuma keluar sebentar, kalau ada apa-apa Abang hubungi aku ya?"

Mata Guntur memejam, dan tidak menjawab.

Rani menatap Guntur dengan wajah keruh, tetapi dia menguatkan hatinya, sebelum berbalik dan memakai sepatunya.

***

Guntur sama sekali tidak bisa tertidur. Rani benar-benar membuatnya kepikiran, sementara isi kepalanya penuh tak mampu berpikir jernih.

Ada suara langkah, ketika Guntur mengira itu adalah Rani, dia bersiap untuk kembali memejamkan matanya, tetapi suara langkah itu sedikit berbeda.

Dan yang muncul memang bukan Rani, melainkan Firman.

"Tadi sepertinya aku melihat dia di sini. Itu benar dia kan?" ucap Firman yang kemudian mendapati barang lain di ruangan itu, dan semakin yakin yang dilihatnya di bawah tadi adalah Rani.

"Sudah kamu kasih upah pekerja?" tanya Guntur mengalihkan.

Firman mengangguk. "Aku bisa mengabari keluarganya kalau dia di sini," ucap Firman lagi.

"Tidak perlu, keluarganya pasti sudah tahu dia di sini."

Sementara dari balik pintu langkah Rani terhenti mendengar suara percakapan di dalam.

"Tapi Abang tetap tidak bisa membiarkan dia di sini. Dari kecil kita sudah hidup susah. Ditambah lagi dengan penderitaan Abang di penjara, Abang bekerja sangat keras hingga bisa hidup mapan seperti sekarang. Kalau wanita itu tetap berada di dekat Abang, selamanya keluarganya akan mengganggu Abang. Apa Abang tidak capek?"

Jejak DustaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang