Bab 53

8.3K 940 32
                                        

Rani mengganti-ganti chanel televisi. Kenapa dia tidak bangun siang-siang saja, pikirnya. Jadi Rani tak terlalu suntuk berpikir bagaimana cara menghabiskan harinya.

Rani berencana menunggu hingga tiga hari. Tapi baru satu hari terlalui tiap kali melihat ponsel dia jadi sangat ingin menghubungi Guntur. Atau dia telepon saja dan berpura tanya kabar seperti yang dilakukannya kepada Bi Sri? Tetapi mana mungkin Rani bisa bertahan bersikap biasa-biasa saja. Apalagi jika Guntur membalasnya dengan sikap biasa yang sama. Sudah pasti hati Rani akan hancur berkeping-keping.

Rani lagi-lagi jadi melamun, dan saat pintunya terbuka tiba-tiba, Rani kaget luar biasa.

"Ran kemasi barang-barang, Abang ajak kita liburan ke Danau Toba."

Rani menoleh dengan tatapan kecut. "Kok dadakan?"

"Menginap satu malam, mumpung besok Nauvan dan Narend libur," ucap Mama.

"Rani di rumah aja deh."

Bahu Mamanya langsung menegap, "Ngapain kamu di rumah saja. Di kamar terus, hidup seperti di gua. Sudah cepat." Mamanya kemudian berlalu begitu saja.

Wajah Rani tertekuk menatap ke arah pintu. Namun setelah dipikir-pikir, ada baiknya dia refreshing sedikit. Rani kemudian menggulingkan tubuhnya dari atas kasur dan bersiap-siap.

Dua puluh menit kemudian Rani memakai baju santai, sepatu dan membawa tas kecil juga tas travel yang tidak terlalu besar.

Rani baru hendak meletakkan kacamata hitamnya ke tas selempangnya ketika langkahnya melambat, menatap seorang pria berpangkas cepak berpostur sebelas dua belas dengan Abangnya tengah berbincang dengan Mamanya.

Rani menghentikan langkah dan berdiam diri dalam jarak yang lumayan, hingga Mamanya menangkap kehadirannya.

"Ran! Ke sini, kenalin ini teman Abangmu."

Rani menatap serius ke Mamanya, dengan mata menyoroti lebih dalam.

Dan melihat putrinya tak segera bergerak Mamanya segera mendekat dan menarik Rani.

Pria di hadapan Rani mengulurkan tangan dan tersenyum ramah, "Andre," sebutnya.

Rani hanya mengangguk tersenyum datar, dan tanpa menyentuh tangan itu dia menyebutkan namanya, "Rani." Sementara Mamanya sudah menyenggol-nyenggol lengannya yang sama sekali tak dipedulikan Rani.

Pria bernama Andre tersebut tampak mengerjap dan seperti menilai Rani dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Andre ini baru lulus ujian perwira, iya kan?"

Pria itu tersenyum jumawa, sementara Rani menahan diri untuk tidak memutar matanya. Rani merasa tak perlu bertanya lebih apakah pria ini beristri, lajang, atau bahkan duda. Tapi dari tampilannya sudah pasti dia sudah berumur seperti Abangnya.

Rani menoleh saat melihat Abangnya sibuk dengan bawaannya. Begitu Abangnya juga kedapatan menatapnya, Rani langsung menyoroti tajam.

"Sudah semua?" tanya Mamanya kepada Abangnya.

"Sudah Ma, ayo."

"Ran, kamu bareng Andre ya."

Mata Rani langsung melotot. "Enggak ah. Rani ikut mobil Abang aja."

"Ya masa Andre nyetir sendiri."

Bibir Rani menipis. "Ya, kalau gitu Mama juga naik di mobil yang sama, kan kosong."

Mamanya mengibaskan tangan. "Enggak ah. Mama mau bareng sama cucu-cucu Mama."

Rani menatap semakin jengkel, dia kemudian mengarahkan pandangan kembali ke Abangnya. Abangnya itu hanya menatapnya sekilas sebelum menutup pintu bagasi.

Jejak DustaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang