Rani tak berhenti memainkan jemarinya, berikut kakinya yang bergoyang tak tenang, matanya menatap jengkel ke jalanan, terus menimbang dalam hati kapan dia akan sampai ke rumah. Ucapan pria di sebelahnya hanya Rani jawab singkat-singkat saja, bahkan terkadang hanya melongo karena tak fokus dengan apa yang ditanyakan.
Darahnya semakin berdesir kala tak satu pun pesannya yang dibalas. Itu pasti kerjaan Firman berengsek! Memangnya siapa dia berani menghalang-halangi hubungan Rani dengan Guntur, rutuk Rani dalam hati. Baiklah, jika pria itu tak mau memberikan informasi tentang Guntur, Rani bisa menelepon Bi Sri.
Begitu sampai di kota detak jantung Rani semakin menggila, dia sudah tak sabaran untuk segera ke kamarnya, lalu mandi dan bergegas pergi. Dari tadi Rani sibuk berselancar, dan mencari di mana sekiranya terminal bus menuju ke Pekanbaru. Dan jika dia pergi malam begini, besok pagi dia pasti sudah sampai.
"Ran—"
Panggilan itu diabaikan, sebab begitu mobil berhenti, Rani langsung keluar dari mobil bahkan setengah berlari masuk ke rumah. Dia melirik jam tangan sudah pukul delapan lewat. Jika boleh di bilang jantungnya sudah pasti sangat ingin keluar dari sarangnya.
Begitu sampai di kamar Rani mencampakkan semua barangnya bahkan menelanjangi seluruh tubuhnya sebelum berlari ke kamar mandi. Itu adalah rekor mandi super cepat yang dilakukan Rani, dan tanpa polesan sedikit pun hanya sempat menyisir rambut sesaat, Rani mengambil tasnya yang lain lalu memasukkan satu potong baju ke ranselnya, berikut dompet dan ponselnya, kemudian memakai sepatunya yang lain.
Rani kemudian menuju meja belajarnya mengambil secarik kertas. Menuliskan dengan acakadut.
'Ma. Rani pergi. Bang Guntur sakit. Jangan susul Rani. Rani sudah besar dan tahu apa yang Rani lakukan—' tetapi sekilas gerakan tangan Rani terhenti. Dia tahu Mamanya bahkan bisa lebih nekat darinya.
Rani meremas kertasnya. Dia takut jika dengan cara seperti ini Mamanya justru akan menyusulnya dan membuat kegaduhan lagi. Guntur sedang sakit, nantinya malah hanya akan mengganggu suaminya.
Dengan napas terembus keras, Rani mengentakkan langkah, keluar dan menutup pintu kamarnya.
Rani turun dengan cepat, dan malah langsung bertemu dengan Mamanya.
"Mau ke mana kamu?"
Rani menipiskan bibirnya sesaat, menguatkan tekadnya. "Bang Guntur sakit Ma, Rani mau ke Pekanbaru—"
"Enggak. Masuk!"
"Enggak bisa Ma. Bang Guntur butuh Rani. Rani harus rawat Bang Guntur. Rani istrinya..."
"Jangan bilang kata-kata itu lagi di depan Mama—"
"Maaf Ma, kali ini Rani nggak bisa ikutin kata-kata Mama."
"Rani!" bentak Mamanya yang langsung meraih lengannya.
Rani meringis kalut, tentunya tenaganya lebih besar hingga bisa melepaskan cekalan tangan Mamanya. "Maafin Rani, Ma."
"Kalau kamu melangkah keluar. Kamu bukan anak Mama lagi."
"Tapi selamanya, Mama tetap Mama Rani," balas Rani.
"Ada apa ini ribut-ribut?"
Rani menahan geramannya. Jika Omanya juga ikut menghalangi tanpa perlu membalas perkataan siapa pun Rani akan lari secepat mungkin.
"Rani mau pergi dari rumah cuma mau temui orang nggak jelas," sahut Mamanya dengan nada berapi-api.
"Benar itu Rani?" tanya Omanya.
"Enggak Oma. Suami Rani sakit, masuk rumah sakit, tentu aja Rani harus datang untuk menjaganya."
"Betul itu!" sahut Omanya membuat Rani terkejut. "Kamu harus tetap setia dengan suamimu dalam kondisi apa pun. Ya sudah, sana segera berangkat."
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Dusta
RomanceGuntur Pradana Ginting pernah menjadi korban salah tangkap. Dan itu disebabkan oleh anak dari kepala polisi di desanya yang mengaku telah diperkosa oleh Guntur. Guntur membenci wanita yang bernama Aulia Maharani itu. Sepuluh tahun berlalu ia ingin m...
