Ada banyak pertanyaan, tentu saja, terutama dari Bibi-Bibi Guntur. Guntur berusaha memilah apa informasi apa saja yang perlu diberikan dan mana yang harus disimpan sendiri. Tetapi Firman malah mengungkapkan secara blak-blakkan, berbicara tanpa rem seperti gayanya di warung kopi.
Dan tanggapan keluarga Guntur sontak saja beragam, hanya saja Guntur tahu tak ada yang bisa menghalangi dia melamar Rani, sebab keluarga Ayahnya tidak mempunyai kapasitas untuk melakukan itu. Guntur menyimpan banyak cerita tentang rumah tangga sepupunya yang juga berantakan, tetapi tak perlu diungkit.
Yang jelas pagi ini, mereka datang sebanyak empat mobil ke rumah keluarga Rani. Pemandangan mereka sangat kontras. Dan tentu saja Guntur tak dapat membungkam keluarganya yang jauh lebih berisik.
Acara diselenggarakan di halaman samping rumah orang tua Rani yang luas. Dan sejak tadi, Guntur tak bisa menahan lututnya yang terus bergoyang.
Guntur berkeringat dingin, tentu saja. Dia gugup setengah mati. Segala tegurannya untuk keluarga besarnya tak keluar dari bibirnya, sebab yang mampu dilakukan Guntur hanyalah terduduk kaku. Sambil sesekali mengedarkan pandangan, takjub dengan hiasan acara lamarannya, jika dikampung sudah pasti ini dinamakan pesta besar. Tetapi pesta besar sekali pun, tentu saja hiasannya tak akan seindah ini, bunganya juga bunga asli.
Dan sekarang, Guntur sedikit merasa bersyukur mengalah dari Rani yang ngotot mempersiapkan sendiri isi hantaran. Jika tidak, bisa-bisa dia malu dengan pilihannya. Dan melihat kotak mika dengan isi yang semuanya tampak mewah dan menarik, napas Guntur sedikit terhela lega, tapi tentunya, Guntur masih berdebat dengan Rani untuk membayar semuanya. Dan kali itu, tentu saja dia yang menang, sebab semua ini sudah menjadi tanggung jawabnya.
Bibir Guntur mulai berkerut dengan tampang berpikir, sepertinya dia harus menjual beberapa petak tanahnya. Atau bisa saja Guntur mengambil uang di bank, tetapi dia tak suka berutang.
Baru ketika Rani hadir didampingi keluarganya, bola mata Guntur terfokus ke satu-satunya wanita yang dia nantikan.
Guntur tak mampu mengalihkan matanya dari Rani, bahkan dia tak mendengar secara keseluruhan apa yang dikatakan juru bicara, dia hanya bolak-balik mengarahkan matanya ke Rani, Guntur tak tahu bagaimana penampakan bidadari, akan tetapi Rani benar-benar cantik, meski tidak ada riasan yang mencolok, sebab Guntur selalu melihat pengantin di daerahnya selalu memakai riasan mencolok, atau karena Rani belum jadi pengantin? Tetapi biasanya juga meski acara lamaran tetap mencolok.
Rani juga sangat anggun dengan gaun brokat dan manik berwarna keemasan, sesuai dengan corak batik yang dipakai Guntur. Ya, baju yang dikenakan Guntur memang Rani yang menyiapkan.
Tapi yang masih tak dipercayai Guntur, benarkah dia akan mempersunting wanita itu? Tangan Guntur bertambah basah.
Sepanjang acara, Gunturlah yang membuat acara sedikit tidak berjalan lancar, sebab ucapannya yang sedikit malah terbata-bata, dan kontan saja jadi bahan tertawaan kedua keluarga sebab sang calon pria tampak sangat gugup.
Rani yang sebenarnya ingin menangis haru, sampai tidak jadi menangis.
Ikbal meraih mikrofon setelah doa selesai dipanjatkan. "Sebelum acara ini berakhir, ada yang ingin dikatakan oleh Mama kami." Ikbal memberikan mikrofon ke Mamanya.
Dan kontan hal itu menjadi perhatian Rani dan Guntur. Mereka menatap menjurus ke Mama Rani dengan pandangan was-was.
"Sebelumnya saya ingin meminta maaf jika apa yang saya katakan mengungkit masa lalu yang menyakitkan bagi anak-anak kita, sebagaimana yang telah diketahui kedua keluarga, kami bersalah, dan sangat menyesalinya."
Dada Rani tambah berdebar-debar.
"Saya, sebagai satu-satunya orang tua yang dimiliki Rani. Pada kesempatan ini, saya memohon maaf sebesar-besarnya dari hati saya yang terdalam, atas apa—yang pernah dilakukan putri saya, almarhum suami saya, juga saya pribadi." Mama Rani sedikit menundukkan kepalanya, dan kala itu air mata Rani langsung menetes. Mama Rani kembali mengangkat wajahnya. "Guntur. Maukah kamu memaafkan kami?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Dusta
RomansaGuntur Pradana Ginting pernah menjadi korban salah tangkap. Dan itu disebabkan oleh anak dari kepala polisi di desanya yang mengaku telah diperkosa oleh Guntur. Guntur membenci wanita yang bernama Aulia Maharani itu. Sepuluh tahun berlalu ia ingin m...
