Bab 39

11.1K 1K 37
                                        

Belakangan hari lalu Rani memang sangat mudah tertidur. Hanya saja, seharian di kamar tanpa aktifitas apa pun justru membuatnya sulit tertidur. Hanya rebahan ternyata justru membuatnya suntuk.

Dan ketika Rani membuka akun media sosialnya, yang berseliweran muncul justru video masak.

Astaga... kenapa video pembuatan piza ini harus muncul sih! Gerutu Rani dalam hati.

Bibir Rani kian terbuka, dan kembali menutup sambil menggelengkan kepalanya. Rani langsung menjauhkan ponselnya, menelentangkan tubuhnya, tetapi rasa piza itu seperti sudah diujung lidahnya. Arghh...

Enggak. Enggak boleh! Dia tidak bisa mendapatkan piza secepat kilat dengan aplikasi ojek online di sini. Rani lantas mengelus perutnya, "Ngidam yang lain aja ya Sayang... tuh di kulkas salad buah yang kemarin juga belum kemakan."

Rani kembali menggulingkan tubuhnya dan menepuk-nepukkan kepalanya ke bantal.

"Ran... kenapa, kamu?"

Rani serta-merta membalikkan badannya, tak jauh dari ranjang berdiri Bi Sri tengah menggendong Melani. "Hah? Nggak kenapa-kenapa kok Bi."

"Pusing lagi?"

Mata Rani mengerjap-erjap. "Eng—nggak kok. Cuma—"

"Telepon Guntur aja biar Guntur langsung pulang. Melani biar ikut Bibi pulang aja ya."

"Enggak usah Bi..."

"Takut ganggu suamimu? Guntur mukanya aja yang galak, aslinya peduli, udah, Bibi suruh Ika yang teleponkan, ya?"

"Eh..."

Namun, Bi Sri sudah kembali keluar. Rani bergegas turun mengikuti Bi Sri. Tetapi, Bi Sri sudah keburu memanggil Ika.

Bibir Rani menipis, memberitahu Ika bisa dijamin semakin membuat huru-hara. Belum lagi dengan banyak pertanyaan nyelenehnya.

"Ika, teleponkan Guntur, suruh pulang. Rani pusing lagi."

"Iya Kak? Duh, kok keluar, mending tidur aja. Kalau pingsan di sini susah angkatnya."

Astaga... gerutu Rani keras dalam hati, sambil mengentakkan kaki, dia kembali ke dalam kamar.

Tapi... tak apalah, dia jadi bisa melihat suaminya meski baru satu jam yang lalu Guntur pergi.

Dan benar saja, terhitung tak sampai lima belas menit dari yang Rani hitung di jam dinding, Guntur sudah tiba dengan wajah panik.

"Kata Bi Sri kamu pusing lagi?" tanya Guntur cemas. "Aku mandi sebentar, kita ke bidan."

Rani langsung mengibaskan tangannya. "Enggak... aku nggak pusing. Cuma..."

"Cuma apa?"

"Tadi tuh aku cuma guling-guling di kasur, Bi Sri ngira aku pusing lagi."

Guntur belum bisa menghela napas lega, dia naik ke atas kasur tak peduli belum ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ditatapnya Rani sedemikian rupa. Tangan pria itu bahkan menyentuh leher Rani.

Rani jadi cemberut salah tingkah. "Serius..."

"Jadi ngapain kamu guling-guling?"

"Karena... liatin video masak," cicit Rani.

Guntur langsung mengernyit. "Apa hubungannya video masak sama guling-guling?"

"Y-ya... tadi tuh aku lihat video buat piza." Rani menggigit bibir bawahnya. "Aku—jadi pengin ke Pizza Hut. Tapi kan... di sini jauh ya?" ucap Rani dengan nada hati-hati.

Sorot mata Guntur otomatis menjadi lain.

"Terus—aku juga... mendadak pengin Chatime, biasa kan ada di mal. Kalau bisa pergi ke kota sih, bisa sekalian—" bibir bawah Rani tergigit-gigit.

Jejak DustaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang