Bab 56

8.9K 903 60
                                        

Guntur merasa lega karena hari ini dokter memperbolehkannya pulang. Guntur tahu dia tak mungkin mengurus administrasi sendiri, untuk itu Rani langsung bergerak cepat mengikuti perawat yang memanggil keluarga pasien.

Pada kesempatan itu, Guntur langsung meraih ponselnya. Firman pasti sebentar lagi akan sampai.

Entah bagaimana cara Rani bisa tetap bertahan di dekat Firman. Ya, Guntur sudah mengetahui yang terjadi sejelas-jelasnya ketika Firman kembali muncul di hadapannya. Guntur hanya berhasil melayangkan satu pukulan ke rahang Firman, akibat kondisinya yang juga sangat lemah. Rasa ngeri, marah, dan ujungnya tak berdaya bercampur aduk dalam diri Guntur.

Dan sekarang, sebisa mungkin Guntur tak ingin Rani bertatap muka dengan Firman.

Begitu panggilan terhubung, Guntur langsung berucap. "Kamu di mana?"

"Ini mau jalan balik ke rumah sakit."

"Tidak perlu ke sini."

"Kenapa?" pertanyaan itu ditanyakan dengan nada begitu tegang dan penasaran.

"Suruh saja Pak Idrus yang menjemput ke sini."

"Ya kenapa...?" ulang Firman dengan nada membentak.

Wajah Guntur mengetat saat menyahut. "Aku tidak mau kamu bertemu dengan Rani."

"Jadi sekarang Abang lebih mementingkan kebutuhannya dari pada diri Abang sendiri?" tanya Firman dengan nada keras, tak habis pikir.

"Kamu pulanglah."

"Oh! Dan sekarang Abang usir aku demi wanita itu!"

"Ini bukan hanya tentang Rani. Aku tak mau terjadi sesuatu ketika kalian saling bertemu. Aku tahu kamu selalu tak bisa mengontrol emosimu. Aku tidak ingin ada keributan apa pun. Tindakanku yang seperti ini, karena apa yang telah kamu lakukan ke Rani. Dan jangan lupa, secara tidak langsung kamu membuatku kehilangan darah dagingku."

Firman tak langsung menyahut. Tetapi kemudian dia berkata.

"Jadi Abang benar-benar tidak ingin mendengarkan kata-kataku? Jika bukan aku yang bertindak siapa lagi? Tidak ada yang bisa mengingatkan Abang kecuali aku. Abang benar-benar terserang cinta buta tolol—"

"Aku memang mencintainya!" Guntur meledakkan semua yang ada di diri dan kepalanya dengan tangan terkepal. Rasanya seperti melepaskan seluruh beban di pundaknya. Mengakui memang tak membuat segala permasalahannya selesai, tapi dia benci selalu dipojokkan. "Tapi aku tidak tolol, aku tahu apa yang harus kulakukan," gumam Guntur selanjutnya.

"Jangan ganggu Rani. Kalau kamu masih menghargaiku sebagai Abangmu. Tolong. Jangan ganggu Rani. Dia adalah urusanku."

Tak ada sahutan lagi, saat Guntur menjauhkan ponselnya, ternyata panggilannya telah dimatikan. Napasnya terembus berat, dia tak bisa berharap banyak Firman akan melakukan yang dia katakan, tetapi setidaknya Guntur sudah mengatakannya dengan jelas.

Yang perlu dilakukan selanjutnya adalah membuat Rani kembali ke rumahnya.

Cukup lama, baru Rani kembali muncul.

"Udah, kita udah boleh pulang," ucap Rani dengan senyum semringah.

"Berapa?"

"Apanya?"

"Total biayanya."

Rani ingat masih menyimpan di saku celananya kertas total biaya rumah sakit. "Eng... kertasnya udah aku buang."

Wajah Guntur menatap serius. "Berapa tadi yang kamu bayarkan," ulangnya.

"Um, berapa ya, lupa."

"Aku sedang tidak bercanda, Rani." Guntur berucap dengan wajah tegas.

Jejak DustaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang