Pikap yang dikendarai Pak Idrus bergerak semakin mendekat. Dan semakin jelas tampak sosok Firman di sana, bersama seorang wanita yang tak dikenali Guntur.
"Siapa itu Bang?" tanya Rani dengan wajah penasaran. Guntur melirik sesaat ke arah Rani, dan hatinya semakin diliputi cemas.
"Itu adikmu kan, Gun? Firman," sahut Pak Idrus.
Rani melihat Guntur mengangguk. Dan keceriaan Rani langsung menghilang berganti dengan rasa penasaran sekaligus was-was. Adik Guntur? Mata Rani kian menyipit, dia tidak mengingatnya, karena setahu Rani adik kandung Guntur hanya Maya. Atau adik Guntur dari istri Ayahnya yang lain? Ya, seluruh warga desa juga tahu Ayahnya memiliki banyak istri dulu.
Mesin mobil telah dimatikan. Rani menghela napas panjang ketika turun.
Di sebelahnya. Guntur tak bisa menahan jantungnya yang berdetak lebih cepat, menantikan apa sekiranya yang akan diucapkan Firman. Hanya saja, jika dia membawa Rani menjauh cepat-cepat tindakannya justru akan membuat Rani curiga dan tak nantinya malah membuat Rani tak tenang. Bagaimana pun Guntur harus mencari cara agar bisa bicara berdua saja dengan Firman tanpa gelagat aneh.
Guntur maju lebih dulu ke teras, membiarkan Pak Idrus yang membongkar belanjaan, Ika juga sudah membuka kedai.
Rani merapatkan tubuhnya ke Guntur ketika tatapan saudara Guntur terlihat tak bersahabat saat menatapnya. Dan tatapan itu seperti menelanjangi Rani dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rani ingin mengalungkan tangannya ke lengan Guntur, hanya saja sepertinya sekarang waktunya tidak tepat.
"Kapan sampai?" tanya Guntur dengan nada ditekan senormal mungkin. "Kenapa kemari tidak memberi kabar?"
Firman tak lantas menjawab, hanya terang-terangan menatap ke arah Rani. "Siapa Bang?" balasnya.
Yang justru membuat rahang Guntur serta-merta mengetat sebab sangat tahu jika Firman pasti mengenali wanita yang ada di sebelahnya.
Rani melirik-lirik ke arah Guntur, menantikan jawaban apa sekiranya yang akan diberikan suaminya itu. Tapi mana mungkin Guntur mengakui Rani sebagai teman atau yang lainnya, sebab seluruh warga desa sini sudah tahu dia istrinya.
"Istriku."
Hanya saja jawaban Guntur tetap membuat tulang punggung Rani serasa tertusuk, sebab jawaban itu terdengar sangat kaku.
"Wah... tega Abang ni, nikah nggak kabar-kabarin."
Firman sepertinya sangat lihai berpura-pura, namun tindakan adiknya itu justru membuat Guntur tak tenang. Guntur lantas bergerak membuka pintu.
"Itu siapa?" tanya Guntur dengan alis terangkat.
"Ini istri baruku Bang, Mawar," jawab Firman kemudian.
Guntur menahan diri untuk tidak menggelengkan kepalanya, dan menanyakan ke mana istri lamanya. Setahu Guntur ini adalah wanita ketiga yang diperkenalkan adiknya sebagai istri.
"Aku—buatin minum."
"Firman ini adikku. Dia juga sudah sering datang ke sini. Biasanya dia bebas mau minum atau makan apa saja."
"Iya bukan tamu penting," balas Firman. "Nggak usah repot Kak." Namun saat mengatakannya Firman tetap memandangi Rani.
Rani sedikit berdeham dan menyembunyikan tubuhnya di belakang Guntur.
Begitu Guntur membuka pintu, Rani langsung tersenyum sungkan dan masuk ke kamarnya. Di sana dia bisa langsung bernapas lega, atmosfer tadi sungguh membuatnya tak nyaman.
Di luar, Guntur langsung menuju kamar mandi. Dengan sedikit mengintip saat Firman memasuki kamar mendiang Ibunya, seperti yang selalu dilakukannya ketika ke sini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Dusta
RomanceGuntur Pradana Ginting pernah menjadi korban salah tangkap. Dan itu disebabkan oleh anak dari kepala polisi di desanya yang mengaku telah diperkosa oleh Guntur. Guntur membenci wanita yang bernama Aulia Maharani itu. Sepuluh tahun berlalu ia ingin m...
