Bab 43

10.2K 931 13
                                        

"Bang jorok banget..." seru Rani histeris di belakang Guntur.

Wajah Guntur yang sejak tadi mengeras tambah menyorot emosi. Yang terpampang dihadapannya, adalah meja di depan ruang TV yang penuh dengan tumpukan kulit kacang, sampah plastik serta abu rokok di atasnya.

Tanpa menoleh ke Rani, Guntur langsung mengambil tong sampah dari dapur dan membersihkan semua sampah dari atas meja juga yang berserakan di bawah, jika tak ingin Rani yang turun tangan dengan keras kepalanya.

Sementara Rani menatap dengan pandangan kesal, kenapa ada orang yang usianya sudah tak muda lagi tapi joroknya melebihi anak TK. Pagi-pagi suaminya harus ke pasar dan dengan terpaksa membersihkan semua ini!

"Kamu di kamar saja," ucap Guntur.

Rani masih bertahan di tempatnya dengan gigi-gigi merapat, dia mengikuti Guntur kembali ke dapur dan membeliak melihat meja yang juga ditumpuki piring kotor.

"Astaga..." seru Rani. "Ini dari tadi malam? Semut dan kecoanya naik, Bang!"

Bibir Guntur semakin menipis saat menumpuk piring juga gelas dan meletakkannya ke tempat cuci piring dan menyiramnya begitu saja.

"Kamar mandinya bau rokok!"

Napas Guntur kembali tertahan. "Masuklah," titah Guntur yang membuat Rani sedikit menciut. "Ini aku sikat sekalian mandi."

Dengan wajah tertekuk Rani kembali masuk ke dalam kamar, tetap duduk di pinggir ranjang menunggu Guntur. Memikirkan rumahnya yang jorok rasanya... Argh...!

Tak lama berselang, pintu kembali terbuka, Rani langsung beranjak berdiri. Ditatapnya suaminya sedemikian rupa.

Dan Guntur semakin tak bisa lagi menutupi kegelisahannya.

"Jangan keluar sampai aku ada di rumah."

"Memang kenapa, Bang?" tanya Rani juga dengan sorot khawatir.

"Cukup bilang saja, iya."

"I-iya. Tapi kenapa?" tanya Rani panik dengan wajah penasaran.

Guntur berusaha memeras otaknya. "Kalau ada yang jorok takutnya kamu langsung bersih-bersih."

Rani langsung mendengus, lalu mencebik. "Tapi ya mana mungkin aku nggak keluar, kalau aku mau ke kamar mandi gimana??"

"Lakukan dengan cepat, dan langsung kembali ke kamarmu."

Rani masih cemberut.

"Jangan memunculkan wajah di depan mereka." Guntur akhirnya mencetuskan titahnya yang pasti terdengar janggal.

"Kenapa?"

Dahi Guntur berkerut tegang. "Jangan mengakrabkan diri di depan keluargaku."

Sorot mata Rani terkejut sesaat sebelum langsung meredup, melengos dengan wajah kecut. Tak mengira Guntur mengatakan kalimat itu, yang bagi Rani sangat terang-terangan.

Sementara bagi Guntur, perubahan ekspresi Rani yang sangat jelas ditangkapnya membuat perutnya menegang. Jakunnya bergerak-gerak ingin menyampaikan kalimat penghibur lain, namun urung dikatakan.

"Aku pergi," ucap Guntur dengan nada pelan.

Rani hanya melirik. Dan melihat Guntur yang keluar dari kamar membuat wajah Rani semakin keruh.

***

Guntur menyelesaikan pekerjaannya di kedai seperti biasa. Tapi ketegangan dalam dirinya sulit menyurut. Tulang lehernya terasa kaku, apalagi beberapa kali dia kedapatan melirik Rani yang menggendong Melani untuk bercengkerama di pagi hari.

Jejak DustaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang