Bab 47

10.1K 1.1K 80
                                        


Rani sudah tak tahan, kakinya yang tadi menabrak duri batang daun sawit kini mengeluarkan darah. Tapi jalanan besar hanya terasa sedikit lagi berada di ujung matanya, hujan mulai menggujur, gelegar petir bergemuruh.

Titik-titik air sudah terasa di atas kepala Rani. Dengan napas tersengal-sengal Rani tak bisa menghalau air matanya yang turun, dan tetap menyeret langkahnya, dia harus menemukan seseorang untuk dimintai tolong.

Hanya saja, jika hujan sudah mulai turun apa akan ada orang yang lewat? Bagaimana jika Rani berada di sini semalaman? Mengingat berada di tengah sawit dalam keadaan gelap gulita membuat air mata Rani meluncur semakin deras. Dia terus melangkah tertatih, rasa sakit juga kebas bercampur jadi satu.

Petir sekali lagi terdengar menyambar, Rani semakin tak tahu di mana dia bisa berlindung, di tengah jalan atau di dalam pepohonan tidak ada satu pun tempat yang tepat, jika dia tak dibunuh Firman mungkin sekarang ancamannya adalah mati tersambar petir. Dimakan hewan buas.

Rani mengusap air matanya, yang tak berguna sama sekali karena dia kembali menangis. Kakinya sudah lelah, perutnya terasa sangat lapar, dan bagian bawah perutnya semakin nyeri. Belum lagi keadaan kakinya yang pasti sudah membiru.

Mata Rani sedikit melebar mendengar ada suara motor, dia mempercepat menyeret langkahnya. Namun, kalau motor itu hanya sendiri, bisa-bisa dia malah diperkosa? Rani mengulum bibir bawahnya kuat-kuat, tidak, warga kampung sini pasti mengenal Guntur.

Suara Rani sudah tersangkut di tenggorokan tapi yang keluar kecil sekali saat Rani berusaha berteriak. "To-long."

Rani mengambil napas begitu panjang, dan kembali berteriak sekuat tenaga, hingga rasanya pita suaranya nyaris putus, namun karena posisinya masih agak jauh, suara motor butut itu berlalu dengan begitu cepat menembus hujan.

Rani semakin semangat untuk mencapai jalan berbatu, mungkin nanti akan ada yang lewat lagi. Akan tetapi nyeri di perutnya semakin tak tertahankan. Sambil memegangi perutnya Rani kembali menyeret langkahnya.

***

Guntur mengendarai motornya dengan kekuatan maksimal. Sesekali dia mengusap wajahnya, sebab air hujan yang menghantam begitu lebat terasa perih dan mengaburkan pandangannya.

Mengapa di sepanjang perjalanan tidak ditemukan juga sosok Rani? Dan kini Guntur sudah mencapai di posisi yang dikatakan Firman.

"Rani!!" teriak Guntur seraya mengedarkan pandangan, tetap tak ada suara yang menyahut.

Denyut jantung Guntur semakin menggila, dia takut Rani terjerembab ke jurang, atau bahkan pingsan, hingga tak bisa mendengar teriakannya.

Atau jangan-jangan Firman membohonginya?

Ya Tuhan... di mana Rani?

Guntur semakin kalut dan takut. Jangan sampai hari gelap baru dia bisa menemukan Rani. Guntur kembali menghidupkan mesin motornya. Dia akan memutari jalan sekali lagi lewat jalur yang berbeda.

"Rani!!" teriak Guntur di sepanjang jalan. Tetap tak ada yang menyahut.

Guntur semakin khawatir.

Namun tak lama, wajah Guntur seperti mampu meremukkan sesuatu ketika dari ujung pandangnya menangkap seorang wanita berambut panjang terduduk di tanah. Tanpa perlu berpikir dua kali, Guntur sangat yakin itu adalah Rani.

Melihat kondisi Rani, Guntur tak bisa merasa lega sedikit pun. Perasaan Guntur justru bertambah kalut.

Dan Guntur mengegas motornya dengan kekuatan maksimal.

Guntur menyagakkan motornya dan meluncur turun begitu saja tanpa mematikan mesin. Berlari ke arah Rani.

Begitu menyadari itu benar sosok Guntur, Rani menangis sejadi-jadinya. "Abang..." lirihnya. Tangannya yang lemah langsung ditangkap Guntur.

Jejak DustaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang