Bab 40

10.6K 986 45
                                        

Senyum Rani mengembang sempurna saat Guntur kembali menggelar ambal di depan TV. Rani dengan semangat menumpuk dua buah bantal untuk sandarannya serta selimut untuk menutupi kakinya dari nyamuk-nyamuk nakal.

"Oh ya Bang, piza tadi kan masih ada, sayang kalau nggak dimakan."

Guntur kembali beranjak dan mengambil piza dari dapur yang ditaruh di atas piring. Guntur kembali dan nyaris terduduk saat Rani berseru.

"Panaskan dong Bang... mana enak makan dingin-dingin. Taruh aja di dalam ricecooker."

Tanpa komentar Guntur kembali ke belakang dan menaruh piring ke dalam ricecooker.

"Minum cola kayaknya enak," ujar Rani saat Guntur kembali.

"Air putih aja," sela suaminya itu, Rani cemberut seraya tersenyum.

Guntur balik lagi dengan botol air putih masih bersegel di tangannya.

"Ayo mulai. Mana kartunya tadi, Bang."

"Tunggu dulu."

"Tunggu apa?"

"Tunggu piza-mu. Nanti aku bolak-balik lagi."

Kali itu Rani langsung tertawa dan menepuk lengan Guntur. "Aku bisa kok kalau cuma ambil ke dapur."

Guntur berpura mengejek dengan lirikannya, meski bibirnya tak tahan untuk tidak ikut tersenyum.

Lima menit kemudian Guntur kembali mengambil piza Rani, lalu membuka kotak kartu yang baru dibelinya.

"Tunggu dulu."

Mata Guntur menyipit ketika menghentikan aksinya. "Siapa yang kalah harus ada hukuman dong."

"Apa? Corat-coret wajah?" celetuk Guntur tak menginginkan hal konyol seperti itu.

"Um, bukan..." Rani menggelengkan kepalanya. "Siapa yang menang berhak ajukan satu pertanyaan. Dan yang kalah wajib jawab sejujur-jujurnya."

Rani menaik-naikkan alisnya, dan tak disangka Guntur langsung mengangguki persyaratan Rani.

"Aku sudah lama banget nggak main ginian. Terakhir waktu kecil main sama sepupu," ucap Rani melihat Guntur mengocok kartu, lalu membagikan kartu untuknya.

Rani bermain serius dengan mulut terus mengunyah piza.

Saat kartu terakhir diletakkan...

"Aku menang! Aku menang, kan?"

"Abang nggak sengaja ngalah kan?"

"Jadi ini murni karena kemampuanku main kartu kan?" seru Rani lagi.

Saat Rani tertawa menampilkan deret gigi rapi dan putihnya, tanpa sadar senyum Guntur ikut mengembang.

Sampai sekarang pun Guntur masih tak habis pikir, mengapa Rani bisa tinggal di sini tanpa mengeluh dan ngotot minta pulang. Ditambah lagi, wanita cantik ini tengah mengandung anaknya, mendadak perut Guntur jadi teraduk, saat hati kecilnya mencetuskan dia ingin memiliki Rani di sini selamanya.

"Aku akan kasih pertanyaan dan Abang harus menjawab sejujur-jujurnya ya??"

Guntur menatap kian lekat, dan mengangguk.

"Kapan... dan dengan siapa Abang pertama kali ciuman?" Rani menyipitkan matanya tajam seperti petugas tengah menginterogasi tersangka.

Guntur tampak berpikir sesaat. "Itu dua pertanyaan."

Rani langsung mencebik. "Itu satu pertanyaan sekalian jalan."

"Tetap harus dipisah," balas Guntur.

"Ish... okee..." jantung Rani berdetak lebih cepat saat kembali bertanya. "Kapan pertama kali Abang berciuman?"

Jejak DustaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang