Setelah mati lampu panjaang di Sumatera, aku kasih bonus update lagi. Hehe...
.
.
"Tabah ya Ran," ucapan Kak Yuli justru membuat airmata menggenang di pelupuk mata Rani semakin meluncur turun.
Rasa sakit yang dirasakan Rani tak terperikan, namun sakit dihatinya menusuk jauh lebih sakit. Rani tak dapat mengatakan apa pun, hanya air matanya yang terus-menerus meluncur turun. Buah cintanya telah pergi, dan sekarang semuanya terasa demikian hampa.
Guntur tetap di sisinya, duduk di sebelahnya. Wajah Guntur jelas sangat kusut, tetapi dia tidak menangis seperti Rani. Hanya terkadang kedapatan menatap sesuatu, entah apa, yang jelas bukan Rani yang ditatap pria itu.
Saat ada petugas datang, Guntur langsung kembali berdiri dari duduknya, mengurus segala hal yang berkenaan dengan administrasi. Dan ketika kembali pria itu kembali duduk, lalu diam.
Ketika jadwal makan tiba, Guntur kembali bergerak menyiapkannya untuk Rani. Tak ada yang salah dengan sikap Guntur, pria itu mengurus segalanya dengan baik.
Namun, ada hal lain yang membuat hati Rani bertambah sakit, Guntur tidak menanyainya, sedikit pun. Bagaimana perasaannya? Seberat apa yang dilaluinya dalam ruangan penuh orang tak dikenalnya. Seberat apa rasa sakitnya? Tak ada satupun yang keluar dari mulut Guntur terkecuali pertanyaan. Mau minum? Makan?
Rani tak menutupi lirikannya terhadap Guntur, namun lagi-lagi lelaki itu seperti menghindari tatapannya, dan justru memfokuskan perhatiannya ke televisi.
Rani tak ingin memikirkan apa pun, tetapi sialnya pikirannya penuh dengan beragam dugaan. Setelah bayinya lenyap apa perhatian Guntur juga lenyap? Apa suaminya itu bertanggung jawab hanya semata-mata tak ada siapa pun di sini selain Guntur?
Air mata Rani kembali meleleh. Apa akhirnya Guntur menyadari bahwa bebannya sudah terangkat? Dia jadi tak perlu susah payah mempertahankan anaknya, sebab sekarang anak itu sudah tidak ada. Atau bahkan, setelah ini Guntur akan bersikap seperti semula.
"Matikan," gumam Rani dengan suara serak.
Guntur langsung tersentak menoleh, dan mematikan siaran televisi.
Keheningan menekan begitu lama, terdapat kerutan di dahi Guntur, namun pria itu tetap tak mengeluarkan sepatah kata.
Rani menyudut cairan dari hidungnya, dan sangat jelas terdengar dia kembali terisak.
Bibir Guntur merapat ketika menoleh. "Ada yang sakit?" ujarnya.
"Banyak," gumam Rani sinis.
"Mau kupanggilkan perawat?"
"Enggak."
Tatapan Guntur merunduk, Rani menantikan kalimat lain yang keluar dari bibir pria itu, namun nihil.
Keheningan itu tak berlangsung lama, meski Rani sudah sangat ingin mengonfrontasi apa yang dipikirkan Guntur. Hanya saja, pintu terbuka, bukan perawat, melainkan Bi Sri yang ditemani Pak Idrus dan membawa serta Melani.
"Kenapa bawa Melani, Bi?" tanya Guntur saat Bi Sri meletakkan tas yang berisi baju ganti untuk mereka.
"Nggak ada yang jagain di rumah." Bi Sri kemudian mendekat ke Rani. "Rani gimana keadaannya?"
Rani hanya bisa menatap tanpa berkata apa pun. Mana mungkin dia menjawab baik-baik saja, sementara fisik dan hatinya sama sekali tak baik-baik saja. Tetapi siapa yang bisa mengerti kondisinya saat ini? Suaminya saja tak berusaha menghiburnya.
Rani memperhatikan Guntur yang meraih Melani ke dalam gendongannya. Manik mata Rani sedikit membesar saat tak lama Guntur yang keluar sambil membawa serta Melani.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Dusta
RomansaGuntur Pradana Ginting pernah menjadi korban salah tangkap. Dan itu disebabkan oleh anak dari kepala polisi di desanya yang mengaku telah diperkosa oleh Guntur. Guntur membenci wanita yang bernama Aulia Maharani itu. Sepuluh tahun berlalu ia ingin m...
