"Tapi aku lapar, masa tidak bisa mampir makan sebentar?" rengek Rani lagi, berjalan dengan terus menempel pada Guntur.
Tanpa Rani perlu mengeluarkan pertanyaan seperti itu, Guntur memang berniat mengajaknya makan.
"Mungkin bisa mampir bentar, makan di mobil," sahut Guntur menaikkan alis, menahan seringai.
"Oh... tidak. Terima kasih. Aku mau makan ditempat, kalau Abang nggak mau nungguin Abang kebangetan."
Kali itu Guntur melengkungkan senyum tipis. Rani memiringkan kepalanya, menatap pemandangan tak biasa itu dengan senyum begitu lebar.
Mereka tiba di sebelah mobil, dan sama-sama menghentikan langkah. Rani belum mau melepaskan genggaman tangannya meski dia tahu Guntur akan segera membuka pintu kemudi. Dia ingin melihat apakah Guntur akan melepaskan tangannya begitu saja, atau kembali melangkah memutari sisi mobil untuk mengantarnya.
Dan... harapan Rani terlalu muluk-muluk ketika Guntur melepas tangannya dan berucap, "Kenapa? Ada yang ketinggalan?"
Dan Guntur semakin heran saat Rani justru memutar bola matanya dan melangkah cepat memutari sisi pikap.
Sebelah alis Guntur terangkat, saat merasa tak ada tindakannya yang salah, Guntur mengangkat bahu dan langsung membuka pintu pikap, naik ke dalamnya.
Mereka berhenti di rumah makan lesehan.
Begitu selesai memesan, Guntur langsung berucap. "Coba mana nomor telepon Abangmu."
Rani menatap Guntur dengan hati mengembang, dia menyadari suaminya adalah orang yang tak pernah lepas dari tanggung jawab sedikit pun. Dan Rani merasa kembali ingin menangis saat Guntur benar-benar menggenggam tangannya tadi.
"Aku aja yang hubungi," ucap Rani meletakkan ponselnya di meja, dan menekan tombol loudspeaker.
Rani merengut saat Guntur mematikan tombol loudspeaker begitu panggilan tersambung, dan menarik ponsel Rani ke telinganya. Rani menempatkan telinganya begitu dekat dengan ponsel yang diraih Guntur.
"Halo, Ran," suara Abangnya langsung menyambut dari balik telepon. "Sudah sampai mana?"
"Ini—saya Bang. Guntur."
"Rani di mana?"
"Di sebelah saya."
Abang Rani tak lantas menyahut, membuat Guntur dan Rani menunggu.
"Kamu dengan Rani sedang dalam perjalanan ke Medan?"
"Tidak, Bang. Untuk itu saya ingin meminta izin."
Rani menelengkan kepalanya, terus memandangi Guntur dengan tatapan terpana. Mimpi apa dia semalam? Sebelum-sebelumnya Guntur bahkan tampak tak peduli padanya.
"Izin apa?" sahut Abangnya tegas dan keras.
Guntur berulang kali mengisi paru-parunya dengan oksigen, dan berusaha bernapas normal, meski jantungnya berdetak keras sekali. "Ada urusan yang harus saya selesaikan, jadi kami baru bisa berangkat lusa."
"Kalau niat ingin berangkat bersama, kenapa tidak menyelesaikan urusanmu dari kemarin-kemarin, dan datang tepat pada waktunya?"
Guntur tak tahu harus bagaimana menyikapi hal ini, entah memang Abang Rani ingin mengujinya.
"Iya Bang, saya minta maaf. Tadi Rani sudah akan pulang, tapi tidak jadi."
"Kenapa tidak jadi?"
Namun, baru Guntur hendak menyahut, Rani sudah lebih dulu menarik ponselnya.
"Abang, ih... yang penting Bang Guntur kan mau pulang sama Rani. Kalau mau interogasi nanti aja tunggu kita tatap muka, oke...? Abang, udahan dulu ya, makanan Rani sudah datang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Dusta
RomanceGuntur Pradana Ginting pernah menjadi korban salah tangkap. Dan itu disebabkan oleh anak dari kepala polisi di desanya yang mengaku telah diperkosa oleh Guntur. Guntur membenci wanita yang bernama Aulia Maharani itu. Sepuluh tahun berlalu ia ingin m...
