Rani memandang lurus ke luar jendela. Dua keponakannya yang berusia sepuluh dan tujuh tahun sedang asik bermain. Sementara Rani hanya bisa menatap nelangsa dari kamarnya. Sudah hampir seminggu otaknya nyaris buntu.
Apa mungkin sampai mati dia begini saja?
Mana mungkin tak ada yang bisa dilakukannya. Pasti ada, kan? Tapi apa??
Dan hingga detik ini, juga tidak ada panggilan telepon dari Guntur. Tak ada satu pun chat masuk, hanya ada pesan pinjaman online yang menumpuk. Sepertinya dia harus mengurus kartu lamanya. Mungkin saja ada pesan dari Guntur di sana?? Saat hati Rani membuncah, namun baru sesaat tatapannya kembali tertunduk lesu saat hatinya berkata, 'mana mungkin'.
Tapi tidak ada salahnya mencoba kan? bisik batinnya yang lain berusaha menguatkan.
Baru seminggu rasa seabad berlalu, benarkah Guntur melupakannya begitu saja? Benarkah ucapannya waktu itu bahwa dia bisa hidup tanpa Rani? Air mata Rani kembali meleleh tanpa bisa dicegah, lalu kenapa Rani mengingat Guntur di setiap menit, kenapa rasa rindu mencengkeramnya begitu erat.
Apa hanya dia yang merasakannya sementara Guntur menjalani hidupnya dengan baik-baik saja??
"Enggak. Bang Guntur juga pasti kepikiran aku. Dia cuma terlalu gengsi hubungi aku duluan."
Rani tersenyum kecut, saat bodohnya dia terlihat menghibur diri sendiri.
Tapi tidak ada salahnya kan menghubungi Guntur lebih dulu? Rani mengerucutkan bibirnya, menguatkan hatinya, dia harus memperjelas segalanya, termasuk tentang statusnya, mana boleh Guntur menghilang begitu saja!
Akan tetapi, hanya tinggal satu kali tekan dan memanggil kontak Guntur ibu jari Rani malah gemetar. Batinnya diliputi ketakutan, takut jawaban Guntur akan sama, dan dia tak akan punya harapan lagi. Guntur akan menjalani hidup seperti biasanya, dan Rani hanya terus berkubang pada kesedihan dan kerinduan yang sama di sini.
Rani mencampakkan ponselnya, dan memeluk dirinya sendiri. Dia mungkin bisa bangkit dan mengeraskan hatinya, selamanya sendiri atau menemukan pria hanya untuk sekadar hidup bersama. Hanya saja... dia benar-benar tak sanggup, setiap kembali memikirkan segala kebaikan yang Guntur perbuat padanya, Rani sangat yakin pria itu mempunyai perasaan untuknya.
Rani hanya perlu tahu Guntur sama tersiksanya dengan dirinya, tetapi bagaimana caranya?
Rani menegapkan tubuhnya, dan kembali menyibak gorden. Malam ini sepertinya dia harus berbicara empat mata dengan Abangnya. Kalau perlu memohon sambil berlutut akan Rani lakukan, yang terpenting dia bisa bertemu kembali dengan Guntur dan memperjelas semuanya. Termasuk nasib statusnya.
Bukankah Guntur yang berinisiatif menikahinya? Maka Rani akan datang untuk menuntut tanggung jawab.
***
Rani menunggu hingga makan malam berakhir sebelum mengendap-endap ke rumah Abangnya. Rani masuk dari pintu samping yang terbuka.
"Kak, Bang Ikbal ada?" tanya Rani begitu bertemu dengan kakak iparnya.
"Oh, itu lagi di atas sama anak-anak."
Rani meringis, "Hm... kurang baik Kak."
Kak Rida hanya tersenyum. "Mau Kakak panggilin Abang?"
Rani langsung mengangguk-anggukkan kepalanya kuat.
Rani memutar kepalanya, sambil melangkah lalu duduk di sofa ruang tengah Abangnya.
Tak lama sosok Abangnya muncul, dan duduk tak jauh dari Rani.
"Kenapa lagi?" tanya Abangnya tanpa basa-basi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Dusta
RomanceGuntur Pradana Ginting pernah menjadi korban salah tangkap. Dan itu disebabkan oleh anak dari kepala polisi di desanya yang mengaku telah diperkosa oleh Guntur. Guntur membenci wanita yang bernama Aulia Maharani itu. Sepuluh tahun berlalu ia ingin m...
