Bab 64

6.7K 901 29
                                        

Rani aktif berkomunikasi dengan Guntur tiap siang dan malam. Wajah Mamanya masih seketat hari-hari sebelumnya. Dan membuat dada Rani menggebu-gebu sebab sepertinya waktu pun tak mengizinkannya meluruskan segala hal dengan Mamanya. Sudah tiga hari Mamanya pergi berlibur dengan teman-temannya. Dan hari-hari berikutnya Mamanya disibukkan dengan berbagai kegiatan, serta mengurus toko kue Oma. Ketika Rani ingin meminta waktu mengobrol malamnya, Mamanya, biasanya sudah di kamar dan tidak keluar lagi.

Makan malam kali ini Mamanya ikut di meja makan. Yang sebelum-sebelumnya hanya di isi berdua oleh Rani dan Oma. Tetapi ekspresi Mamanya masih sama, jika tidak sedang mengunyah, rasanya mulut Mamanya seperti terjahit.

Selesai makan malam, Mamanya langsung kembali ke kamarnya.

Rani ikut kembali ke kamarnya. Tapi sesaat dia bangkit lagi. Rani merasa harus mengusahakan sesuatu, dia tak bisa berdiam diri saja hingga menunggu Guntur datang. Rani kembali turun ke bawah menuju kamar Mamanya.

Di depan pintu kamar Mamanya, napas Rani mengembus keras, sebelum membulatkan tekad untuk mengetuk. "Ma..." sebutnya. "Ini Rani..."

Menunggu hingga beberapa detik baru pintu terbuka. Mamanya sudah berganti pakaian tidur.

"Rani nggak boleh masuk, nih?" Rani berusaha mengeluarkan nada seloroh.

Mamanya melangkah menjauh, membiarkan Rani masuk dan menutup pintu.

"Apa? Langsung saja. Mama tahu kamu nggak datang ke kamar Mama tanpa tujuan."

Sejenak Rani mengerucutkan bibirnya. Namun dia tak langsung menyahuti ucapan Mamanya. Rani malah mengedarkan pandangannya. Dan tatapannya tertumpu pada lemari kaca Mamanya.

"Ini lemari baru, Ma?" Tanya Rani yang tadinya berniat basa-basi malah betulan penasaran dengan lemari kaca Mamanya. "Aku nggak tahu koleksi tas Mama jadi sebanyak ini?" gumam Rani lagi, lalu membuka pintu lemari dan mengambil satu tas dari dalamnya.

Bola mata Indah bergerak, tubuhnya jadi ikut tergerak mendekat ke arah Rani yang memegang-megang koleksinya.

"Yang itu hadiah," gumam Mamanya.

Rani bergerak ke arah kaca rias. Agak geli menenteng tas besar yang terkesan glamor itu.

"Kalau aku pakai beginian di kampung sih, bisa jadi bahan pelototan ibu-ibu," celetuk Rani.

Dari balik cermin mereka sama-sama terdiam.

Mama Rani lebih dulu memalingkan tubuh, disusul oleh Rani yang memutar tubuhnya.

"Ma."

"Apa?" sahut Mamanya sinis.

"Dulu... Mama menikah dengan Papa karena saling mencintai, kan?"

"Enggak," sahut Mamanya cepat.

Bola mata Rani kontan melebar dan langsung mendekati Mamanya. "Kok bisa? Kayaknya Mama asik-asik aja ke mana pun bareng Papa."

"Ya kenapa? Memangnya harus saling mencintai dulu baru menikah? Baru berkomitmen saling setia? Papamu secara bertanggung jawab datang melamar Mama, dan Mama terima. Malah kebanyakan orang yang mengaku saling mencintai pernikahannya kandas di tengah jalan. Tidak mampu menjaga kesetiaan."

Wajah Rani langsung keruh saat sadar Mamanya menyindirnya terang-terangan. "Bang Guntur nggak begitu Ma... yang Mama tuduhkan itu sama sekali tidak benar. Rani tahu sendiri gimana kehidupan Bang Guntur."

"Kalau kamu ke kamar Mama cuma mau bicara pembelaan-pembelaan tentang dia mending kamu keluar saja, Mama mau tidur."

Akan tetapi Rani tetap bertahan di posisinya. "Kenapa Mama begitu membenci Bang Guntur? Rani, Ma... Rani yang salah... Berapa banyak lagi Rani harus bersumpah jika Bang Guntur nggak melakukan apa pun yang menyakiti Rani."

Jejak DustaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang