Bab 63

7.4K 928 23
                                        

Rani kebingungan saat Guntur mendadak berdiri. "Abang mau ke mana??" tanyanya dengan tatapan gelisah.

"Ya—"

"Mau langsung pulang??"

Wajah Guntur mengeras. Guntur merasa tak berguna, sekaligus bingung harus berbuat bagaimana.

"Mungkin aku akan ke tempat Bibiku dulu."

"Lalu setelah itu?"

Guntur menatap begitu dalam. "Pulang," gumamnya.

Rani mendelik dengan mata terselimuti panas menyengat. "Bukannya Abang bilang mau mengusahakan segalanya?" ujar Rani panik. "Abang mau menyerah sekarang?"

Guntur mendesah, lalu menggeleng. "Mamamu sedang tidak bisa diajak bicara. Kalau besok kita mengajaknya bicara di saat dia masih emosi, pasti ujungnya akan begini lagi. Kita harus memberi jeda."

Rani menatap Guntur dengan mata berkaca-kaca. Betapa baiknya pria ini, betapa sayangnya dia kepada pria ini, dan kenapa Mamanya tidak bisa menyadari ketulusan Guntur sedikit... saja.

"Jadi Abang beneran mau pulang besok?" tanya Rani dengan wajah kusut dan getir.

Guntur mengangguk.

Dada Rani naik turun, dia tidak siap jika harus berpisah lagi dengan Guntur. "Oke, aku izin sama Bang Ikbal dulu. Kita akan kembali sama-sama, terus ke sini lagi—"

"Enggak." Potong Guntur. "Aku pulang sendirian."

"Bang..." seru Rani panjang dengan wajah mau menangis.

"Kamu tetap di sini. Nanti dikira Mamamu, aku membawa pengaruh buruk."

"Terus kita saling nggak ketemu lagi?" ujar Rani cemas.

"Bulan depan aku ke sini lagi."

"Bulan depan??"

"Anggap saja aku sedang merantau," gumam Guntur menyunggingkan senyum meski matanya menyimpan kepedihan.

Bibir Rani mengerucut, menepuk dada Guntur. "Jangan bercanda... Abang sih enak, kalau asik kerja pasti lupain aku. Terus aku di sini setiap hari mikirin Abang."

"Ya... buat juga kegiatanmu."

"Ngomong doang sih enak..." rajuk Rani.

"Zaman sudah canggih. Bisa sering-sering telepon, kan?"

"Kebiasaan nanti nggak Abang angkat."

"Ya, kamu teleponnya lihat waktu, kalau malam aku selalu di rumah."

Cemberutan Rani semakin panjang. "Belum lagi sinyal di sana putus-putus..." gerutu Rani.

"Bisa kirim pesan," sahut Guntur.

Mata Rani memejam sesaat. Masih tidak bisa menerima keadaan ini.

Guntur melirik ke sekitarnya dengan tatapan semakin tak nyaman. "Aku—keluar sekarang ya."

Mata Rani semakin membeliak. Tidak mungkin dia akan berpisah sekarang kan?? Secepat ini?? Baru juga beberapa hari yang lalu mereka tidur satu kamar lagi.

"Serius Abang mau pergi sekarang??"

Guntur mengangguk.

"Tapi, Bang..." Rani gelagapan. "Abang jangan nginap di rumah Bibi Abang. Mending aku carikan hotel, ya?"

Dahi Guntur mengerut.

"Ini masih siang, masa aku mau ditinggalin di sini gitu aja...?" rajuk Rani panik. "Kita masih bisa sama-sama sampai besok, iya kan?"

Jejak DustaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang