Bab 46

8.6K 1K 72
                                        

Rani duduk merapat ke jendela, seraya memeluk plastik bekalnya. Dia tidak terlalu suka dengan Firman dan masih agak was-was. Sepanjang perjalanan seperti biasa, hanya ada pemandangan pohon sawit.

Jalanan ini menuju tempat awal Rani dibawa ke sini oleh Guntur, ladang sawit Guntur sampai di sini juga? Jalanan menanjak dan berkelok, agak seram. Sekarang Rani jadi sedikit menyesal karena terlalu bersemangat ingin tahu tempat panen Guntur. Tahu begini dia di rumah saja tadi, lagipula, tubuhnya lagi tidak se-fit biasanya.

Mata Rani membeliak saat Firman membelokkan pikap ke dalam jalanan ke tengah-tengah pohon sawit.

"Loh, kok lewat sini??" tanya Rani menoleh bingung.

"Memang jalannya lewat sini Kak," sahut Firman.

Dahi Rani tambah mengerut. Apa ini lokasi yang dimaksud Firman? Tapi ketika jauh dari jalan utama rasanya jauh lebih menakutkan.

Rani mengulum bibir bawahnya kuat-kuat. Dan langsung menghidupkan ponselnya. Matanya langsung membeliak, menatap sinyal selular yang nihil.

"Nggak ada sinyal ya?"

"Di tengah ladang memang susah sinyal Kak."

"Eng... gitu ya. Balik aja bisa nggak sih? Bang Guntur suruh beli nasi bungkus aja."

"Lho, sebentar lagi nyampe loh Kak."

"Tapi nggak ada orang gini."

"Itu... di depan."

Mata Rani menyipit, sepanjang pandangannya tak ada apa pun di depan kecuali jalan setapak yang cukup sulit dilewati pikap ini.

Tapi lama-kelamaan Rani melihat ada jalanan berbatu lagi. Napas Rani terhela panjang. Namun, begitu pikap melaju lebih dekat ternyata di sebelah jalan tersebut ada sungai yang sangat besar, membuat ketakutan Rani tak menyingkir sama sekali.

Mobil mendadak berhenti, Rani menatap ke sekeliling, tak ada satu pun orang di sana.

"Ayo Kak. Turun."

Rani menoleh bingung. "Bang Guntur mana?"

"Ada. Turun dulu."

Dengan dahi mengernyit, Rani membuka pintu perlahan dan turun dengan hati-hati.

Firman tampak berjalan, dan dengan ogah-ogahan Rani terpaksa mengikutinya.

"Masih lama lagi nggak sih?" tanya Rani mulai panik juga kakinya yang sakit.

Kali itu Firman tak menjawab, dan malah membalik badannya, membuat gerakan Rani serta-merta terhenti.

"Coba pinjam ponsel Kakak. Kayaknya lokasi panennya udah pindah."

Mata Rani serta-merta membeliak. Namun belum sempat Rani berkata akan menghubungi Guntur, Firman sudah merebut ponselnya.

"Eh, jangan main tarik aja gitu dong!" omel Rani, dan semakin membeliak saat Firman justru membuang ponselnya ke sungai. "Ya ampun! Itu ponselku! Kamu?!!" Rani marah sekali, namun saat melihat ke arah Firman dia jadi bergidik dan segera memundurkan langkahnya.

Namun terlambat, karena Firman telah menangkap pergelangan tangannya erat.

"Kamu mau ngapain?!" pekik Rani.

"Teriak saja tidak akan ada yang dengar," sahut Firman dengan mata berkilat.

Rani merasa seolah darahnya berhenti mengalir, dan ketakutan mencekiknya hingga sulit bernapas. "A-apa mau kamu?? U-uang? Berapa? Aku bisa kasih."

Firman lantas tertawa keras. "Boleh juga. Tapi yang terutama mau kulakukan ini..."

Rani tersentak hingga kepalanya terhuyung ke samping dengan sangat keras, sebab pipinya ditampar dengan kuat begitu saja.

Jejak DustaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang