Bab 67

7.3K 920 62
                                        

Dahi Rani berkerut saat malam ini tak menemukan Mamanya di meja makan. Atau jangan-jangan Mamanya pergi dengan teman-temannya dan dia tak tahu? Seharian dia memang di kamar. Dan sejauh ini Rani berusaha menjadi anak yang baik budi dalam artian tidak mengonfrontasi Mamanya soal Guntur.

Rani jadi berpikir, mungkin dengan dia bersikap manis Mamanya jadi luluh dan melihat pengaruh baik yang ditimbulkan Guntur padanya.

"Mbak, Mama mana ya?" tanya Rani kepada salah satu pembantu rumah tangga mereka.

"Ibu di kamar, Non. Dari tadi siang kayaknya nggak ada keluar."

Alis Rani langsung bertaut dengan tatapan tersentak, atau jangan-jangan Mamanya sakit dia tak tahu?

Rani serta-merta bangkit dari kursinya menuju kamar Mamanya. Di depan pintu, Rani mengetuk pelan. "Ma... Rani mau masuk."

Tak ada tanggapan, dan hal itu membuat Rani bertambah panik. Jangan katakan Mamanya jadi sakit karena dirinya?

Tanpa menunggu lagi, Rani langsung membuka pintu yang bersyukur tidak dikunci. "Ma..." panggil Rani dengan agak keras. Mengedarkan pandangan dan tak menemukan sosok Mamanya di kamar.

Namun, tak lama Mamanya keluar dari pintu kamar mandi.

"Kenapa?" tanya Mamanya dengan nada biasa, tetapi menyoroti putrinya yang tampak gelisah.

"Mama sakit??"

Indah menggeleng. "Enggak. Siapa yang bilang Mama sakit?"

Napas Rani terhela panjang. "Jadi kenapa Mama nggak keluar kamar?"

Bola mata Indah bergerak aneh. "Lagi pengin di kamar aja," sahut Mamanya yang kemudian melangkah menuju kasur.

Tentu saja hal itu membuat Rani heran, dia masih berdiam, tak tahu harus mengorek informasi bagaimana. Tapi mungkin saja Mamanya jadi kepikiran karena dia.

"Nggak makan? Memangnya nggak laper?" tanya Rani yang ikut duduk di pinggir ranjang.

"Belum lapar."

Rani mengamati Mamanya lamat-lamat, atau sebaiknya dia keluar saja?

"Ran," sebut Mamanya sebelum Rani sempat memutuskan.

"Kenapa Ma?"

Indah menyoroti ke titik lain. Sudah seminggu berlalu Rani tak ada membahas tentang pria itu. Indah juga menunggu-nunggu kapan pria itu melaksanakan ucapannya. Akan tetapi, Rani masih bersikap seperti biasa. Mengapa pria itu tak mengadukan saja apa yang dilakukannya kepada Rani? Mengapa pria itu tidak berbuat jahat dengan membawa Rani pergi dari sini, padahal hal itu sangat mudah untuk dilakukan. Kenapa pria itu menahan diri? Pertanyaan itu terus menggayuti otak Indah. Dan faktanya, Rani lah yang datang mengejar pria itu, bukankah sangat mudah untuk menawan Rani atau mendoktrin anaknya agar membenci ibunya sendiri?

Indah kemudian menoleh ke putrinya. "Kamu masih berhubungan dengan dia?"

Rani menelan salivanya dengan susah payah sebelum mengangguk. "I-iya. Kenapa Ma?" tanya Rani takut-takut.

Indah tak kuasa menahan diri untuk tidak mendesah. Segala jawaban yang keluar dari sudut hatinya adalah hal yang tak diinginkannya. Bagaimana jika pria itu benar-benar tulus kepada putrinya? Dan jawaban yang dikatakan hati Indah benar-benar menyesakkan dadanya.

Mungkin itu sebabnya ada istilah yang diketahui orang lain hanya kulit luarnya, sementara di dalamnya... meski Indah berusaha menutupi, tapi hati kecilnya tidak bisa berbohong, dia cukup terkesan dengan sikap pria itu.

"Ma..." sebut Rani lagi.

"Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anaknya lebih dari mereka," gumam Mama Rani.

Jejak DustaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang