Bang Ikbal : Paling lambat besok kamu sudah harus berada di rumah. Jika tidak Abang akan menyusulmu.
Rani mencampakkan ponselnya dengan wajah keruh dan bibir bawah tergigit kuat-kuat. Rani sudah sering menyindir Guntur, tapi pria itu seperti tak terpengaruh, tetap bekerja seperti biasanya. Apa Guntur tetap akan merelakannya begitu saja? Seperti ucapannya bahwa perasaan bukanlah sesuatu yang penting baginya?
Atau Rani harus menjalankan rencana kedua? Pura-pura sakit. Kalau Rani pura-pura sekarat, dia bisa meminta permintaan besar kepada Guntur, iya kan?
Ya... kalau ketahuan bohong, habislah dia, ejek batin Rani yang lain.
Guntur jadi punya kebiasaan makan di depan TV, Rani tahu itu untuk menghindarinya, karena Rani tak suka jika ada kotor makanan di tempat lain kecuali di meja makan. Rani sudah bolak-balik mengomel pada Guntur, tetapi pria itu tetap tak mengindahkan.
Kali itu Rani keluar dan mendapati Guntur sedang makan. Rani mendekat sama sekali tak menutupi wajah kusutnya di depan Guntur.
Diam-diam Guntur melirik Rani. Setiap pergerakan wanita itu selalu menarik perhatiannya, sekaligus ada perasaan was-was dengan ulah apa lagi yang akan dilakukan Rani.
"Bang," ucap Rani.
Guntur menoleh.
"Abang ikut denganku ke Medan ya? Abang tenang saja, aku yang akan bicara dengan keluargaku. Abang cukup hadir saja," ucap Rani tak lagi malu mengungkapkan tujuannya.
Guntur menatap Rani lekat-lekat, dan serius.
Namun, kening Rani semakin berkerut dengan tatapan kalut sebab Guntur tak juga menyahuti ucapannya.
"Kalau sampai Abangku menjemput, atau aku pulang tanpa Abang, aku pasti susah mencari cara untuk kembali ke sini..."
Bibir Rani merengut menahan getaran, dengan mata yang menyengat panas, sebab bibir Guntur terkunci rapat masih menatapnya dalam-dalam.
"Apa Abang sanggup berbulan-bulan tanpaku? Seumur hidup tanpaku??" Rani mengerjap-erjapkan matanya berharap Guntur menjawab ucapannya, dan dirasanya matanya semakin panas. "Oke... aku yang nggak sanggup seumur hidup tanpa Abang. Jadi kupastikan akan datang lagi," putus Rani dengan bibir bergetar.
Rani mengentakkan kaki berdiri, namun Guntur tetap tak ada reaksi.
"Besok aku harus pulang!" seru Rani berharap Guntur mengatakan sesuatu. "Awas saja, kalau Abang berani kemasi barang-barangku seperti sebelumnya!"
Wajah Rani berpura marah, namun matanya tak bisa membohongi, dia menyoroti Guntur dengan pedih. Rani membalikkan badan, berjalan cepat menuju kamar, serta membanting pintu.
***
Rani tak bangun pagi-pagi seperti biasanya untuk melihat suaminya yang pergi ke pasar meski Guntur tak mempedulikannya. Kali ini dia hanya mendengar suara mesin pikap, dan terus berbaring miring dengan airmata mengalir melewati pelipisnya.
Apa semua ini memang konyol? Apa memperjuangkan Guntur memang sesuatu yang konyol?
Namun, perasaannya bukan sesuatu yang dapat dihapus begitu saja. Mengapa Guntur tetap bisa bertahan dengan pendiriannya? Mengapa Rani tidak bisa??
Mengapa hanya Rani yang tak sanggup berpisah dengannya?
Berjam-jam berlalu Rani tetap tak kembali tertidur.
Tatapan Rani kosong, hingga dia mendengar rengekan Melani, dia tak tahu kapan tepatnya bayi itu terbangun, karena biasanya Melani tidak menangis ketika bangun.
Rani bangkit, dan membuatkan susu untuk Melani. Setelah selesai menyusu, Rani meletakkan Melani di sudut tempat tidur. Lalu turun untuk keluar sebentar, sebab air di termos sudah habis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Dusta
RomanceGuntur Pradana Ginting pernah menjadi korban salah tangkap. Dan itu disebabkan oleh anak dari kepala polisi di desanya yang mengaku telah diperkosa oleh Guntur. Guntur membenci wanita yang bernama Aulia Maharani itu. Sepuluh tahun berlalu ia ingin m...
