Bab 45

9.9K 897 52
                                        

Rani benar-benar kesal, mengetahui ada manusia semuka badak itu. Setelah dua hari berlalu pun adik Guntur tetap bersikap sama saja, seperti tidak ada kejadian. Minimal mereka meminta maaf, kan?

Tetapi hari ini, pagi-pagi ketika Rani akhirnya keluar kamar untuk memandikan Melani, matanya langsung memicing. Istri Firman tampak membawa tas travel. Apa akhirnya mereka akan pulang??

Ya ampun... Rani sampai susah payah menahan senyumnya.

"Mau pulang?" tanya Rani keceplosan.

"Iya Kak. Istriku ada urusan penting."

"Oh..." gumam Rani sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Hati-hati di jalan ya," ucapnya basa-basi.

Istri Firman tersebut hanya mengangguk.

Rani menahan cibirannya.

"Bang Guntur masih di kedai ya?"

Rani mengangguk.

Namun belum sempat dua orang itu keluar, Guntur sudah muncul.

"Mau pulang?" tanya Guntur menahan diri untuk tidak terlalu terlihat bersemangat.

"Iya Bang, aku pinjam motor ya."

"Ngapain pakai motor, balikin lagi gimana? Biar diantar Pak Idrus saja."

"Aku mau antar istriku. Istriku yang mau pulang."

Mulut Rani langsung terbuka dengan wajah malas.

Sementara Guntur langsung mendapati tubuhnya membeku, menatap tajam dengan rahang mengeras. "Kenapa hanya istrimu yang pulang?"

"Mawar ada urusan penting."

"Urusan apa?"

"Urusan keluarga."

"Kenapa kamu tidak ikut menyelesaikan. Bukankah kamu suaminya?" cecar Guntur.

"Kami baru nikah beberapa bulan Bang. Enggak enaklah, ikut campur masalah keluarga Mawar. Ya kan?"

Dan wanita di sebelah Firman hanya mengangguk. Dahi Guntur kian berkerut.

"Kalau kamu di sini, setiap hari kamu harus ikut Abang ke ladang. Di rumah ini ada Rani. Dan Abang nggak mau tetangga jadi berkata aneh-aneh."

Kali itu giliran Firman yang menatap Guntur serius. "Ya nggak masalah. Aku kan sering ikut Abang ke ladang."

Guntur menahan dengusan kasar ketika memberikan kunci motornya kepada Firman.

Sepeninggalan mereka, Rani langsung mendekati Guntur seraya bersungut-sungut. "Kenapa sih dia nggak ikut pulang? Nggak setia banget," celetuk Rani tanpa sadar, dan segera mengatupkan bibirnya saat Guntur menoleh.

***

"Abang kok bengong?"

Guntur tersentak, namun tak langsung menoleh ke arah Rani, dia juga bingung akan menuliskan catatan apa ke dalam buku. Pikirannya meracau ke mana-mana. Dia masih belum percaya jika wanita yang dibawa Firman ke sini itu, pulang karena ada urusan penting. Guntur takut dugaan terburuknya benar, jika Firman sengaja memulangkan wanita itu.

Tapi apa yang akan dilakukan Firman?

"Bang..."

"Um. Ada pesanan orang. Tapi aku lupa."

"Ada nomor teleponnya?"

"Bentar aku kirim pesan ke Ika."

Mata Rani langsung mendelik. "Jangan! Um... maksudku... aku juga ada nomor Ika, biar aku saja yang kirimkan pesan." Rani langsung meraih ponselnya.

Jejak DustaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang