Bab 49

9.1K 919 29
                                        

Setelah empat hari berada di rumah sakit akhirnya Rani diperbolehkan pulang. Langkah Rani masih terpincang-pincang akibat luka di kakinya. Guntur memapah Rani agar bisa masuk ke dalam pikap.

Sepanjang perjalanan pulang, mulut Rani terasa kering, sebab tak ada yang memulai obrolan. Sedangkan Rani lagi tak berminat membahas apa pun.

Semakin dekat ke rumah entah mengapa dada Rani semakin berdesir. Entah kenapa perasaannya menjadi tak enak, padahal sudah jelas Firman tidak ada di sana. Mungkin juga karena kebahagiaan yang dinantikannya telah hilang, hingga Rani tak tahu apa lagi yang sangat diinginkannya kecuali Guntur.

Rani semakin takut kehilangan Guntur, apalagi dengan tidak ada pengikat di antara mereka lagi saat ini.

Rani menangkupkan tangannya ke perut, sejenak ketakutan masih mengaduk-aduk dalam dirinya, Guntur sudah jelas bersikap baik, hanya saja Rani belum berani menanyakan perihal kesepakatan awal yang dicetuskan Guntur. Akankah pria ini masih mengingatnya? Sementara Guntur tak pernah menyatakan kalimat apa pun agar Rani tetap tinggal selamanya.

Ditambah dengan keluarga Rani yang sampai saat ini masih menjadi beban pikiran tersendiri bagi Rani.

Bagaimana pun, cara yang paling ampuh adalah membuat Guntur jatuh cinta padanya. Namun, lagi-lagi Rani dibuat pusing tujuh keliling, bagaimana cara mengetahui pria ini juga mempunyai rasa yang sama padanya? Bertanya langsung? Bagaimana jika Guntur mengelak, atau bahkan jawabannya tak sesuai harapan Rani, mau ditaruh di mana mukanya?

Tapi jika sikap Guntur selama ini hanya bentuk empati atas musibah yang dialami Rani, dan merasa bertanggung jawab karena tak ada satupun yang dikenali Rani di sini selain dia, bagaimana?? Napas Rani terembus kasar, hatinya mendadak membara, jika itu yang keluar dari mulut Guntur adu fisik pun Rani lakoni, Rani akan membuat Guntur mengakui dia punya perasaan yang sama dengan Rani, meski itu kebohongan sekali pun!

Semangat yang ada dalam diri Rani membuatnya menggepalkan tangan erat. Setelah kepahitan yang dialaminya, Guntur tidak boleh membuangnya begitu saja!

Mesin mobil telah dimatikan.

"Ya Allah... Kak Rani...!"

Pekikan Ika justru membuat Rani urung turun dan ingin berpura-pura pingsan saja. Tapi itu tak jadi kenyataan, karena meski Rani tak turun, Guntur sudah memutari sisi pikap dan membukakan pintu untuknya.

Rani cemberut seraya melirik ke arah Ika, wanita itu harus melihat dengan jelas betapa suaminya peduli padanya, dan jangan sampai berpikiran untuk menggoda Guntur lagi. Lihat saja!

Rani berjalan tertatih dibantu oleh Guntur masuk ke dalam rumah, dan langsung menuju kamar.

"Mau langsung mandi," gumam Rani ketika duduk di pinggir ranjang.

"Istirahat saja dulu, mandinya nanti—"

"Ih... nggak mau. Lihat nih, rambutku sudah kayak sarang burung berhari-hari kena hujan."

Bibir Guntur menipis sesaat, setelah meletakkan barang-barang, dia kembali ke Rani. "Tunggu sebentar, aku panaskan air dulu."

Rani langsung semringah dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

Beberapa menit kemudian Guntur kembali. Rani sudah sangat tak sabar ingin mengguyur kepalanya dengan air.

Sampai di kamar mandi, Rani duduk di kursi kecil, dan di sebelahnya sudah tersedia seember besar air hangat.

Rani langsung membuka piamanya.

"Kalau ada bathup ini pasti enak sekali," celetuk Rani.

Guntur diam saja.

Jejak DustaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang