Bab 69

6K 721 25
                                        

Tersisa Epilog ya guys. 

Setelah upload Epilog, aku bakalan adain paket khusus super duper diskon di Karyakarsa. Isi paketnya, semua Extrapart, Special Part sampai Special Part terbaru Jejak Dusta.

Paket super terbatas. Pokoknya siapa cepat dia dapat ;)

.

.


"Abang nanti ke sini, kan?"

"Ngapain?"

Rani yang menarik lengan Guntur kontan membuat langkah mereka berhenti. "Kok ngapain?" protes Rani.

Kening Guntur mengernyit. "Ya maksudnya ada acara lain?" tanyanya heran.

Rani serta-merta memutar bola matanya. "Abang besok udah balik lagi, memangnya nggak mau habisin waktu sama aku? Kita udah sebulanan nggak ketemu, memangnya Abang nggak kangen aku?"

Kedua alis Guntur terangkat, dia masih heran meski sesaat kemudian senyum tipisnya mengembang. "Ya kangen."

Pipi Rani bersemu. "Ya terus kenapa masih tanya?" balas Rani.

"Aneh aja, saat rombongan sudah pulang aku malah balik lagi."

Rani langsung cemberut. "Ayo dong.... Kita kan nggak pernah kencan."

"Kencan apa?" tanya Guntur bingung. "Kita mau menikah ulang, bukan lagi harus berkencan dulu."

Astaga... Rani mengembuskan napas panjang. "Mau kapan pun ya sah-sah aja kalau mau kencan Abang... udah nikah sekali pun, kalau mau kencan ya boleh-boleh aja. Nggak ada larangan."

"Setahuku kencan itu untuk orang-orang belum menikah."

Ya ampun... Rani gemas sekali. "Terserah apa sebutannya. Kita jalan-jalan. Naik mobil baru..." ucap Rani semringah.

"Itu mana boleh buat jalan-jalan dulu," sergah Guntur.

Mata Rani kontan menyipit. "Oke... Nggak pakai mobil itu juga banyak mobil lain. Kalau Abang nggak datang, aku jemput!"

Guntur kontan menyentil dahi Rani. "Aku yang melarang kamu kelayapan sendirian."

Rani cemberut menahan senyum. "Ya terus gimana? Atau Abang ngapain pulang coba? Mending di sini aja, alat mandi lengkap. Baju gampang. Aku bisa pinjam ke Bang Ikbal—"

"Mana boleh begitu, aku akan tetap pulang dengan keluargaku."

Guntur kembali menarik langkah, hingga Rani mau tak mau mengikuti, mereka menapaki anak tangga.

"Atau nanti Abang sekalian nginap di sini aja, ya? Aku izinin ke Mama. Jadi besok langsung balik ke Pekanbaru dari sini, nggak bolak-balik."

"Enggak."

Cemberutan Rani semakin panjang.

"Iya dong..." rayunya lagi.

"Enggak," tolak Guntur tegas.

"Abang ih... dulu aja main ajak aku tinggal dan nikah gitu aja, sekarang malah formal banget," celetuk Rani.

Melihat Guntur yang langsung berhenti dan menatapnya tajam, membuat Rani membeliakkan mata dengan dada berdebar, astaga... dia hanya berniat bercanda tadi.

"Dulu aku salah. Sekarang aku memperbaiki kesalahanku, dan harus memperlakukanmu dengan hormat."

Rani menelan ludah dengan susah payah, tak menyangka Guntur menanggapi dengan begitu serius. "Hm. A-aku nggak maksud ungkit hal itu. Maaf," gumam Rani dengan wajah masih tertekuk sekaligus takut-takut melirik Guntur.

Jejak DustaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang