Ada pesan di instagram dari Mama. Dan sejak semalam Rani tak berani membukanya. Dan sejak semalam pula Rani jadi sulit tidur nyenyak, dia bolak-balik terbangun. Dan ketika terbangun dia memastikan Guntur masih berada dalam dekapannya. Dia terus memeluk tubuh Guntur seakan tak ingin melepasnya sedetik pun.
Rani tak berani melihat ponselnya, hingga kepalanya terasa sakit akibat tak bisa memikirkan apa pun untuk menyelesaikan masalahnya. Sedangkan untuk menyingkirkan sejenak juga dia jadi tambah gelisah.
"Abang... hari ini ke pasar?" tanya Rani menatap was-was.
Guntur menggeleng. "Mungkin besok."
Napas Rani terembus panjang.
"Hari ini aku mau masak."
"Enggak usahlah," sahut Guntur, dan pria itu langsung melihat wajah Rani yang tertekuk. "Istirahat aja dulu sampai kakimu benar-benar baik."
"Kakiku sudah sembuh!" balas Rani.
Tatapan Guntur merunduk ke kaki Rani yang memperlihatkan bekas luka. "Terserah kamu sajalah," ucapnya kemudian.
Rani melirik getir, dia sangat tidak suka jawaban seperti itu, seolah apa yang akan dilakukannya tak berarti apa pun. Kenapa dia jadi sangat sensitif akan ucapan Guntur selepas dari keluar rumah sakit?
Rani menelan ludah dengan susah payah, dan dia juga harus bertahan memahami sifat Guntur, hanya saja kenapa saat ini rasanya terlalu sulit. Apa karena pesan Mamanya yang sampai sekarang belum mampu Rani balas?
Bagaimana cara membagikan beban ini kepada Guntur?
Guntur memperhatikan tampang Rani yang jadi sangat lesu. Akhir-akhir ini Rani memang tampak sedikit berbeda, wanita ini jadi sering terlihat uring-uringan. Atau mungkin Rani masih belum bisa menerima kehilangan bayi mereka? Ini juga berat untuk Guntur, hanya saja Guntur lebih memilih menyibukkan diri, hingga tak sengaja mengingat ke kejadian itu lagi. Tetapi mungkin berbeda dengan Rani, wanita ini hanya sendirian di rumah, dan tidak ada teman ngobrol.
"Mau masak apa?"
Rani tersentak, memutuskan lamunannya. "Um... ya lihat nanti, ada sayur apa."
Guntur mengangguk, lalu menundukkan kepalanya ke bawah, bagaimana cara melepas rangkulan Rani, sementara dia ingin ke kamar mandi.
"Ran."
"Hmm..."
"Aku mau bangun."
Rani menatap bingung sesaat, sebelum akhirnya dengan cemberut melepaskan kalungan tangannya.
***
"Abang kok udah pulang?" tanya Rani dengan wajah terkejut sementara dia masih berkutat memetik kangkung.
"Cuma cek sebentar tadi," sahut Guntur yang menuju kamar mandi.
"Tapi aku belum selesai masak."
"Ya enggak kenapa-kenapa," balas Guntur dari dalam kamar mandi.
Bibir Rani mengerucut seraya melengkungkan senyum.
Tak lama Guntur kembali keluar dari kamar mandi.
"Terus itu mau ke mana?"
Guntur menaikkan alisnya, "Nggak ke mana-mana."
"Bukan mau nungguin kedai bareng Ika, kan?" tanya Rani terlalu terus-terang.
Mata Guntur menyipit seraya menggelengkan kepala dan tetap melangkah.
"Ih... bukan dijawab," gerutu Rani. Tapi tak lama dia mendengar suara televisi. Rani sedikit lega, meski kemudian dia kembali menggerutu. "Di sini kek, temenin aku masak," gumamnya sambil cemberut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Dusta
RomansaGuntur Pradana Ginting pernah menjadi korban salah tangkap. Dan itu disebabkan oleh anak dari kepala polisi di desanya yang mengaku telah diperkosa oleh Guntur. Guntur membenci wanita yang bernama Aulia Maharani itu. Sepuluh tahun berlalu ia ingin m...
