Rani belum bisa menghentikan isakannya meski dia telah mencoba sangat keras. Ini memalukan jika melihat wajahnya di cermin, itu pasti. Sementara Guntur masih setia mendekap tubuhnya.
Tadi abangnya menyuruh mereka ke ruang baca kakak iparnya, untuk saling berbicara, dan memutuskan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Dan Rani tak kuasa untuk tak meluapkan semua yang terjadi beberapa hari ini kepada Guntur.
Bibir Rani masih bergetar dan terisak-isak, saat mengangkat wajahnya, menatap figur Guntur yang sangat dekat dan nyata. Rani mengangsurkan sebelah tangannya untuk mengelus sisi wajah Guntur.
"Memang—aku yang salah. Abang nggak akan jadi susah dan menderita. Mama juga nggak akan menanggung malu," gumam Rani tersendat-sendat.
Tatapan Guntur kian meredup dan pedih. "Mungkin ini hikmahnya. Mana mungkin aku berani dekatin kamu kalau nggak ada kejadian itu," gumam Guntur lembut.
Dia tak pandai menghibur, dan sudah pasti wajahnya sangat tak menghibur. Akan tetapi ucapan Guntur berhasil membuat Rani cemberut dengan ekspresi senang bercampur sedih.
"Memangnya jika nggak ada kejadian itu, Abang pernah tertarik sama aku?" Rani tahu pertanyaan itu tidak cocok ditanyakan sekarang, akan tetapi dia ingin melepaskan sedikit kekusutan pikirannya.
"Siapa yang nggak tertarik sama kamu?"
Jawaban Guntur begitu umum, meski begitu, Rani tetap mengalungkan kembali lengannya ke tubuh Guntur, dan memajukan wajahnya untuk mengecup bibir pria itu.
Guntur menahan kepala Rani, dan memberikan ciuman yang lembut, hangat, serta begitu intim. Dia sangat merindukan Rani, dan semua masalah yang membelit membuatnya tak ingin melepas Rani dalam posisi ini.
Tetapi Guntur sadar, dia belum bisa memiliki Rani seperti ini. Masih ada tembok yang perlu dipanjatnya, dan tak tahu kapan dia akan melewatinya.
Guntur menjauhkan wajahnya dari bibir lembut Rani. Matanya menatap setiap inci wajah Rani, dan masih tak percaya wanita ini mau bersusah-susah mempertahankan dirinya di sisinya.
"Abang makan malam di sini aja?"
Guntur menggeleng. "Aku balik sekarang. Kamu masih demam, sebaiknya kamu istirahat."
Rani cemberut mendengar ungkapan sangat umum gitu. "Abang kan baru nyampe mau pergi ke mana?" bujuk Rani lagi.
"Aku mau nginap tempat Bibiku, sekaligus udah lama nggak ke sana."
Rani ingin menyatakan dia ngotot ikut dengan Guntur, tetapi dengan kondisinya seperti ini Mamanya pasti akan marah besar, dan Abangnya sudah pasti akan melarang.
"Besok Abang langsung balik?" tanya Rani lirih.
"Enggak. Besok aku ke sini lagi."
Dan jawaban itu membuat senyum Rani merekah.
"Jangan pikirkan apa pun, tidur yang nyenyak. Mau semua ini salahmu atau bukan semua sudah terjadi. Nggak ada satupun yang bisa mengubah masa lalu," ucap Guntur dengan nada keras.
Rani menatap Guntur dengan binar dipenuhi cinta. Dia mengecup pipi pria yang dianggap masih sah sebagai suaminya dengan hati mengembang hangat, untuk sesaat penat yang menyelubungi pikiran Rani sedikit terangkat.
***
Guntur datang keesokkan paginya. Dia tidak memberi kabar kepada Rani. Dan dia hadir dengan sopan sebagai tamu, permisi ke satpam untuk membolehkannya masuk.
Guntur sudah berdiri di depan teras rumah Rani yang besarnya berkali-kali lipat dari rumahnya dengan bahu menegap. Dia tidak akan sembunyi-sembunyi, jika kali ini dia bertemu dengan Mama Rani maka Guntur akan meminta izin bertemu secara jantan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Dusta
RomansaGuntur Pradana Ginting pernah menjadi korban salah tangkap. Dan itu disebabkan oleh anak dari kepala polisi di desanya yang mengaku telah diperkosa oleh Guntur. Guntur membenci wanita yang bernama Aulia Maharani itu. Sepuluh tahun berlalu ia ingin m...
