Berhari-hari Rani berusaha menguraikan benang kusut di kepalanya. Dan ketika mencapai intinya, maka tetap ditemukan dialah akar permasalahan. Tidak ada satu pun yang patut dipersalahkan kecuali dirinya.
Dengan mata bengkak dan lingkar mata menghitam, gabungan dari menangis dan tidak tidur, Rani duduk di kursi meja belajarnya, dia baru saja menyibak gorden membiarkan cahaya memasuki kamarnya yang gelap, berharap cerah itu juga bersinar di hatinya.
Rani tahu dia tak pernah bangun siang seperti belakangan hari ini, juga tidak langsung mandi seperti yang selalu dia lakukan. Rani merasa apa pun yang dia lakukan tidak berguna. Dia ingin bersikap egois, kabur, muncul di hadapan Guntur lalu memeluk pria itu. Meninggalkan segala yang membuat isi kepalanya berat di belakang tanpa menoleh lagi.
Namun, Rani tahu jika dia melakukan itu dia tidak akan baik-baik saja. Jejak dustanya mengelilingi hingga Rani tak tahu langkah mana yang lebih baik.
Mungkinkah dia bisa hidup dengan Guntur tanpa ketahuan orang-orang? Dengan begitu Mamanya tak perlu malu dan menjawab pertanyaan banyak orang kan?
Namun ketika mendengar solusi itu, perasaan Rani kian terpuruk. Matanya yang bengkak kembali mengeluarkan air mata yang terasa perih.
Ponsel Rani berdering. Rani memaksa dirinya untuk bangkit dan meraih ponselnya yang tergeletak sembarangan di atas kasur.
"Halo, Abang..." sahut Rani dengan suara menggoda yang dibuat-buat.
"Sedang apa?" balas Guntur dengan nada tanpa basa-basi.
Rani mengembangkan senyum masam. "Di kamar."
"Setiap aku telepon, jawabanmu pasti di kamar. Keluarlah cari udara segar. Jangan di kamar terus."
"Hmm..." gumam Rani panjang. "Tapi bingung juga kalau harus keluar sendirian."
"Masa tidak ada yang bisa kamu ajak keluar."
"Tidak ada. Kalau ada Abang aku bisa keluar sama Abang," imbuh Rani.
Guntur tak langsung menjawab. "Tapi untuk sekarang itu tidak mungkin."
"Abang nggak kangen aku?"
"Tanpa perlu kujawab kamu tahu jawabannya."
Wajah Rani bertambah sendu dengan bibir melengkung ke bawah. "Aku kangen banget."
"Iya... sama," balas Guntur.
"Bang."
"Hm?"
"Melani anak kita, kan?"
"Kenapa tanya seperti itu?"
"Kalau seandainya... kita sama-sama tapi nggak usah punya anak, gimana? Kan udah ada Melani."
"Kamu ini bicara apa?"
Nada tegas itu menusuk telinga Rani. Senyum Rani melengkung kecut, sedikit lagi dia nyaris tak waras. Rani mengusap-usap wajahnya, sembari menyahut. "Enggak... aku lagi ngomong ngaco aja, nggak usah Abang pikirin. Pengaruh drama yang baru aja aku tonton semalam."
"Ada apa? Kamu bertengkar dengan Mamamu?"
Mata Rani langsung memejam. Cairan dari pelupuk matanya meluncur turun. Guntur langsung bisa menebak isi kepalanya, yang membuat Rani tak bisa langsung menjawab. Apalagi berbohong.
"Jangan menekan Mamamu. Tunggu aku datang. Kita usaha lagi bicara baik-baik."
Tangisan Rani lolos, dan spontan Rani menjauhkan tangannya. Tidak akan ada titik temu, sebab yang bersalah bukanlah Guntur. Guntur tak memiliki kesalahan apa pun yang membuat pria itu harus bertanggung jawab, atau berbuat sesuatu untuk meluluhkan hati Mama Rani.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Dusta
RomanceGuntur Pradana Ginting pernah menjadi korban salah tangkap. Dan itu disebabkan oleh anak dari kepala polisi di desanya yang mengaku telah diperkosa oleh Guntur. Guntur membenci wanita yang bernama Aulia Maharani itu. Sepuluh tahun berlalu ia ingin m...
