Bab 57

7.6K 904 21
                                        

Sudah lebih dari tiga hari dan sama sekali tidak ada perubahan berarti. Hanya Guntur yang mau memakan masakan Rani, selebihnya, Rani bahkan tak memiliki kesempatan mengobrol panjang dengan Guntur.

Guntur juga sudah mulai kerja secara normal, dan akibatnya Rani semakin diabaikan. Mau mengomel bagaimana pun Guntur tetap mengabaikannya. Sepertinya Guntur berniat memperlakukan Rani seperti itu, agar Rani pergi dengan sendirinya.

Dan di saat seperti ini, Rani merasa bosan sebosannya. Dua hari kemarin dia mengisi kegiatan dengan membersihkan seluruh rumah. Biasanya Rani tak terlalu bosan jika ada Melani. Tadi Melani memang dibawa ke sini dan Rani bisa melepas rasa rindu, tapi Bi Sri memaksa membawa Melani ikut pulang bersamanya, karena belum ada perintah dari Guntur.

Bi Sri juga menanyakan perihal keluarganya, yang tak bisa dijawab secara pasti oleh Rani, mungkin itu juga yang menjadi alasan Bi Sri tidak mau meninggalkan Melani pada Rani.

Tapi, jika begini Rani jadi buntu harus berbuat apa? Baru begini saja Rani tidak tahu langkah selanjutnya yang harus diambil, belum lagi menjelaskan kepada Guntur tentang permintaan Abangnya.

Rani mengembuskan napas keras, meraih ponselnya dan langsung menghubungi Guntur. Panggilan pertama tidak diangkat. Rani mencoba lagi. Dan panggilan yang kedua nyaris berakhir baru terhubung.

"Halo." Suara yang sangat dikenali Rani langsung menusuk indera pendengarannya.

"Udah jam satu, Abang kok belum pulang?"

"Aku tidak pulang."

"Lho, kok nggak pulang? Ini aku udah masak banyak, Abang..."

Tak langsung ada jawaban.

"Aku tutup dulu. Aku mau makan."

"Ih... Abang, tapi—"

Mata Rani mengerjap-erjap. "Ih...!" Guntur pasti sudah benar-benar terpengaruh oleh ucapan Firman! Geram Rani dalam hati.

Rani harus melakukan sesuatu. Bagaimana pun Rani harus melakukan sesuatu!

***

Guntur pulang ke rumah saat mata hari sudah mau tenggelam. Dia yang mengantar pulang para pekerja, meski pekerjaan itu bisa dilakukan oleh Pak Idrus atau Jaka.

Guntur tak ingin berada di rumah karena tak mau melihat kebiasaan Rani yang suka bersih-bersih. Rani memang seperti itu, Guntur sudah paham. Tetapi yang tak di sukai Guntur adalah, sejak tiba di sini Rani tidak ada berhentinya. Untuk menghindari perdebatan dengan Rani, setelah mengurus kedai, Guntur langsung ke kebun dan baru pulang hingga sore hari.

Guntur turun dari pikapnya, dan masuk ke dalam rumah setelah melepas botnya. Dia langsung menuju kamar mandi, dan mandi dengan cepat seperti biasanya. Ketika Guntur selesai berganti baju, tatapannya sedikit mengedar, rumahnya tampak sangat tenang. Biasanya, Rani akan sibuk menyambutnya dengan berbagai pertanyaan.

Dengan alis bertaut Guntur melangkah menuju kamar depan. Saat di dekatkannya tubuhnya ke pintu sama sekali tak terdengar suara apa pun. Guntur tak membuka pintu kamar, dia langsung keluar dan memeriksa sandal yang sering dipakai Rani, dan memang tidak ada di sana.

"Ika..."

"Ya Bang..." sahut Ika yang langsung keluar dari pintu kedai.

Guntur diam sesaat, tetapi hari sudah semakin gelap ke mana Rani? Atau jangan-jangan dia sudah pulang? Kalau memang begitu, harusnya itu bagus bagi Guntur, tetapi Guntur sedikit tidak menyangka Rani akan menghilang pergi begitu saja.

"Nggak jadi."

"Kenapa Bang? Cariin Kak Rani ya?"

Guntur hanya menatap serius tidak mengangguk, ataupun menggeleng.

Jejak DustaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang