Bab 51

8.7K 950 47
                                        

Bola mata Rani masih bergerak liar. Ini tidak mungkin terjadi, kan? Ini tidak mungkin terjadi pada dirinya. Rani memejamkan mata sejenak, dan luncuran airmatanya kian deras dan perih, ketika dibukanya kembali mata mobil masih melaju. Tangan Rani masih menggenggam erat di pegangan pintu, tolong, siapa pun, mohon hentikan kegilaan ini.

Rani tak mungkin pergi. Siapa yang akan mengurusi Melani, mengingat wajah Melani cairan yang keluar dari mata Rani langsung meluncur.

Rani kembali menolehkan kepalanya ke belakang, Guntur pasti menyusulnya, dia tidak mungkin membiarkan Rani dibawa pergi begitu saja. Tapi tak tampak apa pun di belakang kecuali kendaraan lain, mobil juga sudah memasuki jalan lintas, atau mungkin Guntur tertinggal?

Pikiran Rani tambah meracau, sementara di sebelahnya Mamanya menoleh dengan dengusan kasar.

"Begitu sampai di Medan, Mama akan siapkan tuntutan, bajingan itu tak akan lepas begitu saja."

Rani langsung menoleh dengan mata memelotot. "Kalau ada yang berani menuntut Bang Guntur, Rani akan bersaksi sejelas-jelasnya bahwa Bang Guntur sama sekali nggak bersalah."

"Tidak bersalah bagaimana? Dia menculikmu?!!"

"Rani melakukannya secara sadar, Ma... enggak ada penculikan!" balas Rani tak kalah keras.

"Jadi kenapa kamu bisa sampai di situ? Sudah pasti dia yang memaksamu. Tujuannya juga sangat jelas, karena dulu Papamu berhasil menjebloskannya ke penjara."

"Justru itu! Bang Guntur nggak bersalah, Rani di sana untuk membayar semua kesalahan Rani."

"Kesalahan apa?! Dia yang bersalah!"

"Bang Guntur nggak pernah perkosa Rani!" pekik Rani yang membuat Mamanya mengatupkan rahang sejenak.

Sambil memalingkan wajah, Mamanya berkata. "Jangan mengarang cerita kamu."

"Rani nggak mengarang cerita. Justru dulu Rani mengarang cerita, sampai-sampai Bang Guntur dipenjara. Rani nggak akan berbohong lagi."

"Diam!" bentak Abangnya dari kursi depan yang sejak tadi memperhatikan perdebatan itu dari balik spion dengan wajah keras. "Kita bahas ini begitu sampai di rumah."

"Enggak. Bukan Bang Guntur yang perkosa Rani," oceh Rani tanpa malu. "Rani juga akan mengatakan hal yang sama kepada siapa pun, kepada seluruh keluarga besar kita—"

"Lalu kalau bukan dia siapa??" bentak Mamanya menatap tak habis pikir. "Hasil visum jelas menyatakan kamu tidak perawan lagi. Kamu mau mempermainkan Mama?!"

"Fredy!" pekik Rani. "Mama pasti kenal dengan Pak Mustafa yang dulu ketua DPRD di daerah kita. Bu Yaviana?"

Tubuh Mama Rani menegang dan menatap tajam.

"Fredy sudah meninggal, Mama pasti masih ingat, kan?"

Mama Rani melipat tangannya, enggan mengomentari apa pun, meski otaknya berpikir keras.

"Ma..." ucap Rani lagi melihat tak ada respon dari Mamanya.

"Kamu sengaja menuduh lelaki itu pelakunya karena memang dia pantas jadi tertuduh, kan? Dan kamu di sini karena pria itu menuntut balas? Kalau begitu bagus, semua permasalahan sudah selesai tidak ada lagi yang perlu dibahas."

Rani menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak ada yang selesai, Ma... Rani sudah menikah..." seru Rani dengan keras kepala menunjukkan cincinnya. "Dan Rani harus kembali."

Sedangkan Mama Rani hanya melirik sinis sekilas.

"Ma..."

Mamanya tetap tak menanggapi.

Jejak DustaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang