Bab 41

11.3K 991 52
                                        

Pipi Rani masih benar-benar memanas atas ucapan Guntur semalam. Dia berpura-pura tidur ketika paginya Guntur sudah siap-siap ke pasar. Namun, dalam hati Rani menanti-nantikan kapan Guntur akan membangunkannya.

"Ran... aku pergi ya?"

Rani tak menyahut, masih pura-pura tidur. Mungkin saja dengan dia pura-pura tidur ada sesuatu yang terjadi. Seperti... Guntur mengecup keningnya?

Kelopak mata Rani kian mengerat, namun kupingnya awas mengenali pergerakan Guntur, dan yang justru di dengarnya kemudian adalah... suara handle pintu yang terbuka.

Ish... gerutu Rani dalam hati, yang serta-merta membuka matanya dan menelentangkan tubuh dengan bibir Rani mengerucut panjang.

Masa Guntur mau pergi begitu saja?

Ya memang setiap hari juga begitu, kan? ejek sisi batin Rani yang lain.

Dan meski sudah menahan diri, tubuh Rani seolah mengkhianati dengan beringsut turun, lalu keluar.

"Abang..." panggil Rani panjang dengan suara terdengar manja, setelah mencapai pintu, mata Rani mengerjap-erjap, karena yang duduk di teras adalah Pak Idrus.

"L-lho, Bang Guntur mana Pak?" tanya Rani dengan pipi semerah tomat.

"Kan masih di dalam."

Bibir bawah Rani terkulum menahan malu.

"Ran."

Rani serta-merta menoleh dengan tatapan kecut.

"Kenapa?"

"Hah? Oh... kukira Abang sudah pergi."

"Belum. Kenapa?" ulang Guntur.

Kenapa? Itu seperti pertanyaan jutaan dollar bagi Rani, karena dia tak tahu jawaban pastinya. Yang jelas, Rani... tak ingin Guntur jauh-jauh darinya, sementara yang dilakukan Guntur adalah pekerjaan yang sudah pasti menjadi rutinitas yang tak bisa ditinggalkan.

"Rendangnya akan kubeli siang nanti. Pagi-pagi belum ada yang buka."

Ekspresi Rani langsung berubah datar, siapa juga yang mau makan rendang pagi-pagi??

Peluk. Peluk. Peluk! Ya! Minimal peluk Rani sebelum pergi.

"Ada lagi pesananmu?"

Rani menggeleng kaku.

"Kunci pintunya," ujar Guntur seraya menyentuh pundak Rani.

Dengan wajah masam Rani melirik pundaknya, bekas pegangan tangan Guntur tadi. Sentuhan ini lebih cocok untuk rekan bisnis atau orang yang sudah lama tidak bertemu!

"Kalau suami istri harusnya di sini nih. Rangkul di pinggang! Terus kecup di kening," gerutu Rani seraya mengunci pintu dengan bibir cemberut.

***

Rani bolak-balik melirik ke arah Guntur. Sama sekali tak ada lagi pertanyaan Guntur tentang semalam. Yah... mungkin hanya Rani yang kepo dengan kehidupan Guntur, sementara Guntur biasa saja??

Rani menopang dagu, melirik dengan tatapan malas. Pria itu seperti biasa, berkutat dengan buku catatan, bon, dan sebagainya.

"Kenapa?" tanya Guntur dengan alis bertaut menyadari Rani memperhatikannya.

"Enggak kenapa-kenapa. Abang serius banget."

Dahi Guntur justru tambah berkerut mendengar komentar aneh itu. Setiap hari dia juga begini, sibuk dengan kerjaan dan rutinitas harian, mencatat apa-apa saja yang harus dibelinya besok. Guntur berusaha tak menghiraukan, jangan-jangan ada hal lain yang sedang diidamkan Rani? Semoga kali ini permintaan Rani adalah hal-hal sederhana. Tetapi yang Guntur dengar dari ibu-ibu yang sering belanja, ngidamnya ibu hamil bisa aneh-aneh.

Jejak DustaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang