Rani sedang berbaring di sebelah Melani yang sekarang sudah tambah besar dan aktif. Guntur memang mau berinteraksi jika berkaitan dengan Melani, tetapi nyaris melewati dua minggu pertamanya di sini, Rani semakin ketar-ketir.
Guntur jadi sama sekali tak mau bicara basa-basi dengan Rani. Tetapi hal itu tidak membuat Rani lebih takut dari sebelumnya, sebab sekarang dia jadi mengerti ketakutan Guntur yang sebenarnya. Rani memacu semangatnya. Dia pasti bisa menemukan cara. Dia pasti menemukan cara meyakinkan Guntur.
Rani berpikir keras hingga gigitan pada bibir bawahnya begitu kuat.
Apa Rani perlu merayu Guntur dengan cara ekstrem?
Kalau dia hamil lagi, Guntur tak akan menolaknya kan?
"Tapi gimana caranya memancing Bang Guntur keluar? Bang Guntur kan habis makan selalu kurung diri di kamar? Ish..." decak Rani sangat kesal karena dipaksa kembali berpikir. Atau dia harus sengaja membuat Melani menangis? Ah... mana mungkin dia tega.
Rani meremas-remas rambutnya sendiri, lalu menggulingkan tubuhnya, "Mama harus gimana, Melani..." gumamnya gemas sambil mengecup-ngecup genggaman tangan mungil Melani. Melihat tingkah Rani, bayi itu tertawa geli mengeluarkan suara bayinya.
***
"Bang..." Guntur langsung menolehkan kepalanya ke pintu. "Tolong jagain Melani sebentar dong, aku mau ke kamar mandi..."
Guntur serta-merta beringsut turun, berjalan menuju pintu, saat membuka pintu kamar, tak ada Rani di sana. Saat menolehkan kepalanya ke arah kamar mandi, Guntur yakin Rani sudah duluan masuk ke sana.
Guntur langsung menuju ke kamar depan. Dia langsung melangkah ke ayunan Melani, ketika membuka kain penutup dilihat Guntur, Melani yang tampak nyenyak. Dengan alis sedikit terangkat Guntur duduk di pinggir ranjang, sambil menggerakkan ayunan Melani.
Guntur masih mengayun ayunan Melani pelan, meski tahu bayi itu terlelap. Dan jika Melani tertidur seperti ini, harusnya tak masalah bagi Rani untuk meninggalkannya sejenak ke kamar mandi. Mengapa Rani harus memanggilnya?
Tetapi pertanyaan dalam hati Guntur itu tak membuatnya kesal, dia juga suka menjaga Melani yang semakin lama dilihatnya semakin mirip adiknya. Semakin mengingatkan Guntur kepada Maya. Guntur dan Maya lahir dari orang tua yang selalu bertengkar, lingkungan yang brutal dan menjalani hidup sebatas untuk mengisi perut. Tidak ada ucapan kasih sayang, tidak ada kumpul bersama keluarga, apalagi liburan bersama.
Sejak kecil Guntur yang menjaga Maya, dan membuat almarhumah adiknya itu lebih menurut padanya ketimbang ayah mereka. Guntur tak tahu mana yang terbaik, Maya yang masih hidup dan mengasuh Melani dengan mental yang bermasalah, atau Melani yang besar tanpa orang tua. Guntur memang bisa menjamin kesejahteraan Melani, tetapi Guntur sulit menjamin apakah Melani bisa hidup bahagia tanpa orang tua kandungnya.
Sebenarnya Guntur sangat tak ingin menyaksikan keponakannya juga mengalami kesusahan seperti dia dan Maya alami dulu. Lalu Rani hadir memberikan pengharapan besar, membuat background yang sempurna bagi Melani. Dan jika semua itu mendadak hilang, bukan hanya Guntur, Melani juga pasti akan tersakiti. Sekarang, Guntur tak tahu bagian mana yang harus disesalinya, mungkin semuanya. Mungkin yang patut disalahkan sejak awal adalah dirinya. Andai kemarahan tak menguasai pikiran Guntur, Guntur pasti tidak akan mendatangi Rani ke Jakarta waktu itu.
Suara daun pintu terbuka menyadarkan Guntur dari lamunannya. Dia langsung berdiri dari sisi ranjang. Dan... manik mata Guntur melebar dengan jantung berdenyut-denyut, sekaligus ada reaksi yang terasa familier di tubuhnya.
Sial! rutuk Guntur dalam hati, pasti inilah tujuan Rani.
Rani benar-benar memasang wajah polos padahal jantungnya berdetak tak keruan. Dia tahu Guntur tengah menatapnya lekat-lekat. Rani memakai tanktop bertali spageti berbahan sutra berwarna gold dengan aksen renda di dada yang berbentuk V, satu set dengan celana super pendek.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Dusta
RomanceGuntur Pradana Ginting pernah menjadi korban salah tangkap. Dan itu disebabkan oleh anak dari kepala polisi di desanya yang mengaku telah diperkosa oleh Guntur. Guntur membenci wanita yang bernama Aulia Maharani itu. Sepuluh tahun berlalu ia ingin m...
