Guys, ini beneran Bab 62 ya, Bab 61 warning 21+ jadi nggak aku upload di sini.
.
.
Saat Rani mengira mereka akan pergi dengan pikap lalu naik bus ke Medan. Guntur justru datang dengan mobil rentalannya.
Dengan mata membeliak Rani mendekati Guntur yang baru saja keluar dari dalam mobil. "Abang mau nyetir sendiri ke Medan?"
Guntur mengangguk.
"Tapi nanti Abang capek kalau nyetir sendiri..."
"Ya kalau capek berhenti."
Rani langsung mengerling, "Benar juga, kita bisa cari hotel—"
"Di Masjid, SPBU," sambung Guntur. "Menginap di hotel malah akan membuat lebih lama lagi sampainya."
Wajah Rani langsung berubah datar seraya mengerucutkan bibirnya.
"Sudah. Ayo," seru Guntur.
Rani memutari sisi mobil dan masuk ke kursi penumpang. Kedai ditutup lebih cepat, meski tadinya Ika ngotot bisa jaga kedai sampai malam. Tetapi Guntur bersikeras menutup kedai lebih cepat, mengunci semua pintu, dan sekarang mereka berangkat.
"Bang..." ucap Rani ketika mobil telah melaju. Guntur menoleh. "Aku... boleh nggak beli mobil terus bawa ke sini?" tanya Rani dengan nada hati-hati.
Pandangan Guntur kembali mengarah ke jalanan.
"Jadi, kan, kalau aku perlu apa pun dan harus ke kota, aku bisa bawa mobil sendiri."
"Kalau punya mobil sendiri kamu malah sering pergi-pergi," gumam Guntur.
Rani terkesiap sesaat, tetapi sesaat kemudian senyumnya mengembang, didekatkannya wajahnya ke pipi Guntur. "Abang takut aku kelayapan ya?"
"Itu kamu tahu," balas Guntur.
Senyum Rani semakin merekah lebar. "Tapi kalau nunggu Abang biasanya kan suka lama. Abang juga banyak kerjaan lain."
"Di sini keluar jauh. Mana mungkin aku biarin kamu nyetir sendiri. Yang nggak niat lakukan tindakan kriminal, bisa saja khilaf lihat cewek cantik nyetir sendirian."
Rani langsung tersentak, bukan karena kalimat Guntur yang menakut-nakuti, tetapi... "Cewek apa?"
Dahi Guntur mengerut. "Apa?" malah tanyanya balik.
"Ih... tadi Abang bilang cewek ... apa?"
Guntur melirik. "Ya kan, kamu sudah dengar tadi."
"Ya ulangi... apa susahnya sih tinggal bilang doang."
"Cewek cantik," ucap Guntur datar dan cepat.
"Oh... jadi menurut Abang aku cantik?" seru Rani dengan pipi bersemu dan tatapan menggoda.
"Memangnya kamu nggak merasa dirimu cantik?" balas Guntur. "Setiap wanita pasti merasa dirinya cantik."
Bibir Rani langsung cemberut, namun sesaat kemudian Rani memajukan wajahnya, mengecup pipi Guntur, lalu kembali duduk tenang di kursinya.
Namun, justru Guntur yang membeliakkan matanya. "Jangan begitu lagi," tegurnya keras.
"Kenapa?" balas Rani.
"Aku tidak fokus menyetir."
Sahutan jujur Guntur membuat Rani tertawa terbahak-bahak. Namun saat tawanya berhenti dan melihat senyum tipis di wajah Guntur, Rani jusru melengkungkan senyum getir. Sejak semalam dia berdoa dalam hati, agar pertemuan Guntur dengan keluarganya berjalan lancar. Karena jujur, Rani sangat tegang dan takut sekali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Dusta
RomanceGuntur Pradana Ginting pernah menjadi korban salah tangkap. Dan itu disebabkan oleh anak dari kepala polisi di desanya yang mengaku telah diperkosa oleh Guntur. Guntur membenci wanita yang bernama Aulia Maharani itu. Sepuluh tahun berlalu ia ingin m...
