Bab 70 : Embun?

10 6 1
                                        


"Kak, gimana sama teman-teman kakak? Mereka masih didalam." Baru beberapa langkah Pelangi berjalan Embun tiba-tiba bertanya, lantaran cemas memikirkan keadaan mereka yang masih terjebak di dalam sana.

Pelangi terdengar menghela napas panjang sebelum menjawab.
"Kamu gak usah khawatir, pintu yang pertama itu juga jalan keluar yang benar kok, dan kakak yakin, mereka pasti udah keluar."

Embun mengangguk dengan hembusan nafas lega. "Syukurlah…" desahnya.

Pelangi tersenyum tipis lalu kembali mengayunkan kakinya, menjamah hutan yang begitu rimbun nan luas.

Tak ada jalan setapak, seolah tempat ini tidak pernah di lewati oleh manusia. Hal itu membuat pelangi mulai was-was. Entah bagaimana caranya agar bisa keluar dari hutan ini? Atau paling tidak, semoga saja ada orang yang bisa ia mintai pertolongan.

Jauh sudah kaki pelangi berjalan hingga kebas mulai menjalar di kedua tungkainya, tetapi tetap saja, semua masih sama.
Hanya ada pepohonan tinggi serta semak belukar yang menghalangi arah pandang.

Aneh!

Semakin ia melangkah, suara kicauan burung perlahan hilang. Kini hanya ada keheningan yang menyertai. seolah hutan ini tak lagi didiami oleh hewan apapun. Entah apa yang terjadi hingga hutan ini terasa seperti hutan kematian. Pelangi bergidik, merasakan kejanggalan.

Embun yang kelelahan pun akhirnya terlelap, meninggalkan pelangi yang membisu dalam kebingungan.

Kakinya bergerak gemetar, napasnya yang teratur mulai tercekat. Tersendat seolah paru-paru nya menolak udara yang masuk ke dalam sana.
Dalam kebingungan dan rasa putus asa yang menggelayuti, matanya memicing, sembari memutar tubuhnya mencari arah mana lagi yang akan ia ambil.

Tiba-tiba — grrruunggghhh!

Dari kejauhan, terdengar suara gergaji mesin yang menggerung tiba tiba, tanpa aba-aba.
Tak lama setelahnya, tanah tempat pelangi berdiri terasa bergetar bersamaan dengan suara pohon yang tumbang.

Embun tersentak, "kak…" panggil nya dengan wajah yang tiba-tiba memucat ketakutan. "I-itu apa kak?" Tanya nya.

Pelangi diam sejenak, lalu perlahan matanya menyorot jauh sembari bersuara lirih.

"Ada yang nebang pohon, mbun. Kayaknya dari arah sana!" Jemarinya menunjuk tepat di arah datang nya suara, nampak asap yang membumbung tipis dari kejauhan.

"Berarti ada orang kak, Kita bisa minta tolong sama orang itu!" Embun berseru dengan riang.

"Ayo kesana." Bisik pelangi dengan bibir pucat.

Mata bulat embun terlihat berbinar penuh semangat. Membayangkan akan segera bebas dari Scarlett saja sudah membuat ia senang bukan main, apalagi jika orang di dalam sana bersedia menunjukkan arah jalan untuk mereka pulang ke kota.

"Kak… semoga orang itu mau ya anterin kita pulang." Lirihnya. Pelangi hanya mengangguk singkat sambil terus berjalan dengan langkah pelan. Ia ingin cepat tapi tenaganya sudah sangat terkuras sedari tadi.

Di jarak yang tak lagi jauh, pelangi menghentikan langkahnya—memindai sekeliling, mencari sosok yang baru saja menebang pohon.

"Orang nya kemana?" Tanya embun. "Kayunya masih ada, kok ditinggal?" Bibir mungil embun terlihat tidak sabar—matanya pun tak henti mengedar mencari keberadaan seseorang.

Pelangi mulai cemas, langkah nya ia pacu mundur—mencoba menjauh dengan tergesa. Sepertinya ada yang tidak beres.

Kreekk

Suara ranting yang dipijak terdengar menggelegar di tengah kesunyian hutan.

Pelangi menoleh, namun belum sempat ia menyadari keberadaan seseorang, sebuah kayu besar telah menghantam embun di punggungnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 16 hours ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

sibling's Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang