JANGAN COBA-COBA

4.8K 98 41
                                    

Maaf, partnya lebih panjang dari sebelumnya, soalnya ingin men-cut setengah belum tercapai target tiap part jadinya segini panjangnya. Kalau ada yang bosan dan mual membaca karena panjang, silakan berhenti, tidak apa-apa tidak selesai. Hahahaha....

PART. 3 (JANGAN COBA-COBA)

"APAAA?"

Jodha berteriak kesal, tetapi lagi-lagi teriakan itu hanya sampai di tenggorokannya saja . Tidak ada nyali untuk mengeluarkannya meski sebesar apapun rasa kesalnya. Apalagi kedua majikannya sedang berada di antara mereka. Jodha hanya bisa mendesah pelan untuk mendinginkan rasa panas dikepalanya. Sementara Jalal masih memakan sarapannya dengan santai tanpa rasa berdosa sedikitpun, hatinya senang melihat wajah Jodha yang nampak kesal.

Memang sih kalau dilihat penampilan Jodha yang memakai celana panjang jeans agak ketat, dengan jaket army yang ngepres dibadan meski agak panjang hingga setengah dari pahanya dan dengan kerah yang dikancing menutupi leher sehingga kulit putihnya semakin terlihat bersinar karena kontras dengan pakaiannya yang serba gelap, rambut panjang Jodha di gelung dan dimasukkan kedalam topi, memakai sepatu casual, serta ditangannya memegang kacamata hitam, belum lagi earphone yang menjulur keluar dari dalam kerah jaketnya membuatnya memang terlihat seperti seorang bodyguard women. Sedangkan wajahnya dipoles dengan sentuhan bedak tipis dan bibirnya di olesin lipgloss pink membuatnya terlihat seksi.

"Apa perlu saya ganti pakaian Bu?" tanya Jodha. Bu Hamidah tersenyum dan menggeleng kepada Jodha. "Tapi nanti saya dikira bodyguard beneran gimana Bu?"

Bu Hamidah dan Pak Humayun tertawa, sedangkan Jalal hanya memasang wajah sinis padahal dalam hatinya dia tertawa.

"Nggak apa-apa kok Jo, penampilan kamu keren kok. Malahan kalau memang kamu seorang bodyguard sungguhan juga Ibu nggak keberatan. Dengan senang hati malahan." Ucap Bu Hamidah menghibur Jodha.

"Saya takut nanti Ibu malu dengan kehadiran saya?"

"Nggak akan Jo. Untuk apa Ibu malu? Sudah, kamu tenang aja, nggak usah di ambil hati perkataan Jalal tadi ya." Kata Bu Hamidah mengelus tangan Jodha dengan lembut. Jodha pun mengangguk.

"Benar Jo, jadilah dirimu sendiri. Selama kamu berpenampilan yang sopan kami tidak akan melarangmu. Mungkin Jalal takut kalau kamu berpakaian seperti itu nanti akan ada yang menyaingi dia yang terlihat macho." Ucap Pak Humayun.

Kembali Pak Humayun tergelak, begitu juga dengan istrinya. Jodha hanya tersenyum geli. Sedangkan Tuan Mudanya hanya cemberut.

"Ya sudah Jo, ayo kita berangkat. Nanti Ibu telat." Ajak Bu Hamidah. Jodha mengangguk.

"Baik Bu."

Mereka berdua pun akhirnya berangkat. sebelum menstarter mobilnya Jodha memakai kacamatanya yang memang membuatnya kelihatan macho sekaligus seksi. Namun dia tidak peduli. Memang ada alasan kenapa dia harus berpenampilan seperti itu. Untuk saat ini dia masih belum bisa memberikan alasannya kepada siapapun termasuk Bu Hamidah.

"Kamu nggak kuliah Jo?" tanya Bu Hamidah ketika sedang berhenti di lampu merah.

"Hm...nggak Bu. Mungkin selama seminggu ini saya akan ijin nggak ngikutin perkuliahan Bu."

"Kenapa? Jangan sampai kerjaan kamu membuat kuliah kamu terbengkalai. Ibu nggak pernah memaksa kamu kerja selain ngantar Ibu lo." Ucap Bu Hamidah menatap Jodha yang berada di depannya itu. Tanpa menoleh Jodha mengangguk.

"Iya Bu, hanya ada sedikit masalah saja."

"Baiklah kalau begitu. Kamu kalau ada masalah cerita sama Ibu, Ibu siap kok bantu kamu. Jangan sungkan." Ucapan Rektornya itu membuat Jodha menggigit bibir menahan haru. Masih ada orang yang peduli kepadanya.

BIARKAN AKU JATUH CINTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang