"Inem...ijinkan...AKU...CINTA...KAMU." ucap Jalal dengan satu kali tarikan nafas.
Jodha hanya melongo dengan mulut setengah terbuka mendengar ucapan pernyataan dari tuan mudanya itu. Dia terdiam. Mendengarkan antara percaya dengan tidak. Sesaat tidak ada kata-kata yang terucap dari mulut mereka. Keduanya hanya saling pandang. Bahkan tangan Jodha masih menempel di dada Jalal, dan tangan kanan pemuda itu juga masih menangkup sebelah wajah Jodha.
Jalal merasakan kelegaan yang luar biasa dalam hatinya. Kini rasanya dadanya terasa lapang. Dia berharap cintanya akan terbalaskan. Jalal tersenyum melihat ekspresi Jodha saat ini, gadis itu masih terdiam. Jalal sadar kalau pernyataannya ini akan mengejutkan Inem, tetapi Jalal tidak mau menunggu lagi. Dia tidak ingin di anggap pengecut oleh kedua sahabatnya itu.
"Nem..." panggil Jalal lembut, kembali ibu jarinya mengusap-usap lembut pipi Jodha. Membuat gadis itu tersadar. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya.
"I...i...iya Tuan. Kenapa?" tanya Jodha dengan gugup. Dia tidak habis pikir, kenapa jadi gugup begini. Tetapi, apa iya itu tadi tuan mudanya benar-benar mengatakan cinta kepadanya, atau itu hanya halusinasinya saja. Kan ini pantai, malam lagi. Siapa tahu Jodha salah lihat dan salah dengar. Bisa sajakan penunggu pantai itu berubah wujud menjadi tuan mudanya. Hiiiii.... Jodha menjadi menggidik sendiri dengan pikiran horornya.
"Kamu kenapa?" tanya Jalal dengan heran.
Tangan Jodha yang tidak dipegang oleh Jalal menjulur memegang dan mengusap wajah tuan mudanya untuk memastikan kalau itu benar-benar nyata, bukan halusinasinya. Hahahaha...
Jalal yang melihat kelakuan aneh Jodha menjauhkan wajahnya dari tangan gadis itu.
"Kamu kenapa Nem?" tanya Jalal sekali lagi.
"Ini benar-benar Tuankan?" tanya Jodha dengan tatapan nanar. Jalal mendecak. Dasar si Inem, suasana sudah romantis dibikin rusak saja.
"Ya iyalah ini aku, INEM. Nyata 100 persen. Lengkap dan tidak kurang satu apapun." Ucap Jalal dengan jengkel. Dilepaskannya tangan Jodha yang sedari tadi digenggamnya. Dia duduk di kap mobil menghadap ke pantai dengan wajah ditekuk. Jodha merasa tidak enak hati membuat majikannya jengkel. Dia mendekatkan tubuhnya disamping majikannya. Dengan takut-takut dia melirik ke arah tuan mudanya. Tetapi Jalal tetap cuek saja tidak peduli.
"Hm...Tuan..." panggil Jodha, tetapi Jalal tidak bergeming, "Tuan marah ya sama saya?"
"Menurutmu?" sahut Jalal dengan ketus. Jodha terkekeh.
"Maaf ya Tuan, kalau saya sudah membuat Tuan marah." Jalal mendengus kesal, "emang tadi Tuan ngomong apa sih? Bisa diulangi lagi nggak?" pinta Jodha dengan wajah bersalah sudah membuat majikannya marah.
"Tau ah. Nggak ada siaran ulang lagi. Kamu bener-bener pintar merusak suasana Nem. Bikin moodku hilang entah kemana." Kata Jalal sewot. Jodha nyengir.
"Ngambek nih ceritanya?" tanya Jodha sambil mengenggol bahu tuan mudanya.
"Sudah tau, malah nanya."
"Yaah, kok gitu sih Tuan? Saya janji nggak lagi deh kayak gitu. Bener. Sueerr!" ucap Jodha sambil tersenyum mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Jalal menoleh kembali ke arah Jodha. Dia menghela nafas panjang, mengumpulkan kembali perasaan tadi yang sempat terhempas karena kelakuan Inem. Dia mengubah posisi duduknya jadi menghadap Jodha.
"Kamu janji?" Jodha mengangguk cepat.
"Iya. Saya janji."
"Yakin?" tanya Jalal memastikan sekali lagi.

KAMU SEDANG MEMBACA
BIARKAN AKU JATUH CINTA
FanfictionAku bukan ingin mencintai karena nama dan kekayaan. Aku hanya ingin cinta yang sederhana, tidak rumit dan nyaman. Karena itu aku jaga hatiku agar tidak mudah luruh terhadap segala rayuan. Aku hanya ingin mencari yang benar-benar tulus, bukan hanya c...