RASA INI

2.3K 66 83
                                    

Hai, Inem datang lagi nih. Hehe...

===========0000==============

"Bundaaa... Aram berangkat dulu yaaa..." teriak Aram berlari turun dari kamarnya. Dia nampak tergesa-gesa menuruni tangga.

"Eh, sarapan dulu Sayang. Ngapain sih berangkat pagi-pagi? Kan belum jamnya berangkat." sahut Jodha tidak kalah serunya. Dengan wajah sedikit ditekuk Aram menghampiri orang tuanya dan juga adik-adiknya yang sedang duduk sarapan. Dia menyalami Jalal yang sedang menikmati sarapan, juga Jodha yang ada disamping suaminya.

"Kamu nggak sarapan Sayang?" tanya Jodha mengulangi pertanyaannya. Aram menggeleng.

"Nanti aja di kantin Nda. Aram ditunggu sama Abang nanti." Jodha dan Jalal saling pandang.

"Loh, bukannya kamu berangkatnya bareng Ayah?" tanya Jalal heran. Aram cengengesan.

"Enggak Yah. Hari ini Aram mau berangkat ke sekolah bareng Abang naik motor. Kemarin Abang sudah janji mau nganter Aram." Kembali Jodha dan Jalal saling pandang.

"Sayang, Aram jangan sering-sering ngerepotin Abang. Abangkan juga punya kesibukan sendiri. Kasihankan kalau Abang nganter Aram terus." Ucap Jodha dengan lembut. Aram cemberut. Dia duduk dikursi yang biasa dia tempati. Sementara adik-adiknya hanya diam menikmati sarapan mereka.

"Tapi Abang sudah janji Nda. Aram nggak minta kok. Abang bilang kalau Aram bisa ngerjain tugas yang diberi sama bu guru waktu itu, Abang mau ngajak Aram naik motor." Jodha menghela nafas.

"Bohong tuh Nda. Pasti Kakak yang maksain Abang buat nganter ke sekolah." Celetuk Fatih. Diantara adik-adik Aram, hanya Fatih yang sering ngelawan kakaknya. Sedangkan Fatah lebih mirip Jodha. Selalu mengalah dan sedikit pemalu. Aram mendelik tak suka ke arah adiknya.

"Bener gitu Sayang?" tanya Jodha lagi. Aram menunduk.

"Maaf Nda." Sahutnya dengan suara pelan. Jodha menggeleng.

"Sayang, Abang itukan sekolahnya lebih tinggi dari Aram. Pasti Abang lebih sibuk. Kan dirumah juga bisa ketemu sama Abang?" ucap Jodha berusaha membujuk anaknya.

"Tapikan ikut Abang naik motor itu menyenangkan Nda. Nanti Aram bisa pamerin sama teman-teman disekolah kalau Aram punya Abang cakep." Sahut Aram dengan polosnya. Hampir saja Jalal tertawa mendengar ucapan anaknya. Bocah usia 10 tahun sudah mengerti yang namanya cowok cakep. Jodha hanya bisa mendesah pasrah.

"Ya sudah, Aram sarapan dulu sambil nunggu Abang menjemput. Tapi janji ya, jangan sering-sering ikut Abang naik motor. Kasihan nanti Abang repot." Aram tersenyum senang dan mengangguk.

"Iya Nda. Aram janji nggak sering-sering kok." Sahut Aram meraih gelas susunya dan meminumnya sampai habis.

Baru saja Aram meletakkan gelasnya di meja, dari depan terdengar suara bell. Wajah Aram nampak berseri. Dia bergerak turun, namun Jodha melarang.

"Habiskan dulu rotinya Sayang. Abang pasti nggak suka kalau Aram berangkat nggak sarapan. Ayo, dimakan sarapannya. Biar Bunda yang bukain pintunya."

"Iya Nda."

Dengan wajah ditekuk Aram meraih rotinya dan menggigitnya pelan. Jodha tersenyum. Dia beranjak dari kursinya untuk membukakan pintu. Nampak Rahim dengan pakaian SMU berdiri didepan pintu.

"Eh, Rahim." Sapa Jodha.

"Pagi Tante."

"Pagi juga Sayang. Tumben kesini?" Rahim tersenyum.

"Iya Tan. Mau menjemput Aram." Jodha menghela nafas.

"Kamu jangan terlalu memanjakan dia, Sayang. Kasihan nanti kamu yang repot." Kembali Rahim tersenyum.

BIARKAN AKU JATUH CINTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang