Maaf ya baru bisa update, akhir-akhir ini sering banget listrik mati sampai lama membuat mood saya untuk nulis agak berkurang. Berkurang karena peralatannya nggak bisa dipakai. Jadi harap dimaklumi ya kalau sering telat update. Hehehehe.....
Tapi ya, saya senang sebenarnya nulis cerita ini berasa lagi nulis diary kehidupanku sendiri. Padahal bukan. Tapi, tak apa anggap aja ini sebagai obsesiku yang tidak kesampaian. Wkwkwwk....
Warning : part ini ada sedikit adegan kekerasan. Untuk yang tidak kuat silakan di skip saja adegannya. Maaf kalau adegannya kurang begitu akurat penjabarannya, maklum lagi belajar. Hehehe....Yuk kita lihat aksi Inem dan Tuan Muda. Cekidot...
"Aku adalah calon suaminya."
Kembali Jalal dan teman-temannya terkejut. Dia tidak percaya semudah itu. Apalagi ketika melihat penampilannya begitu tidak cocok sekali dengan Inem. Tiba-tiba dia teringat cerita Inem yang mengatakan kalau dia kabur dari rumah karena mau dijodohkan dengan teman ayahnya.
"Nem, apa dia itu laki-laki yang kamu bilang ingin dijodohkan ayahmu denganmu?" bisik Jalal. Jodha menoleh ke arah tuan mudanya dan mengangguk.
"Iya Tuan. Memang dia orangnya. Tapi Tuan jangan melawannya. Saya takut Tuan kenapa-kenapa nanti." Kata Jodha pelan. Jalal tersenyum.
"Kamu tenang aja Nem, aku tidak akan kalah semudah itu." Jawab Jalal dengan percaya diri. Jodha hanya memutar bola matanya dengan malas. Tuannya belum tahu saja siapa itu Adam. Dikiranya Adam itu anak SD yang sekali pukul langsung keok. Atau jangan-jangan tuan mudanya yang sekali pukul sama Adam langsung ambruk. Jodha tertawa dalam hati. Dilihatnya lagi tuan mudanya yang sedang maju berhadapan dengan Adam dan dibelakang tuan mudanya berdiri Man dan Surya. Melihat keduanya Jodha tidak yakin mereka akan menang melawan Adam dan bodyguardnya itu. Namun, Jodha diam saja. Tidak menegur, ingin tahu sampai dimana keberanian tuan mudanya itu membelanya.
"Siapa kamu jadi berani mengakui kekasihku sebagai calon suaminya?" tanya Jalal dengan tersenyum sinis. Adam tertawa.
"Kekasihmu? Aku tidak perduli. Dia sudah dijual Ayahnya kepadaku." Jawab Adam dengan enteng. Membuat Jalal menjadi emosi. Dia tidak rela Inemnya di jual kepada laki-laki br*****k seperti yang di depannya ini.
Cuiihhh...Jalal meludah di hadapan Adam, membuat laki-laki itu menggeram mengetatkan rahangnya. Mereka berdua bertatapan untuk saling mengintimidasi. Jalal walaupun merasa masih muda dari laki-laki yang ada di depannya ini namun dia tidak merasa takut sedikitpun. Dia akan membuktikan kepada Inem kalau dia akan melindunginya.
Sementara itu Jodha memperhatikan mereka sambil bersidekap. Dalam hatinya dia salut juga atas keberanian tuan mudanya itu. Dia merasa tersanjung dan terlindungi. Ada kehangatan yang menjalar di hatinya melihat semua itu.
"Aku peringatkan, lebih baik kamu pergi sekarang daripada kamu akan menyesal nanti." Bentak Jalal lagi. Kembali Adam tertawa sinis, di susul kedua anak buahnya.
"Eh, anak muda jangan pernah berani-berani memerintahku. Kamu belum tahu siapa aku. Jadi lebih baik serahkan gadis itu." Jalal tersenyum miring.
"Aku tidak perlu tahu siapa kamu dan aku tidak perduli. Jadi jangan coba-coba mengancamku." Jawab Jalal tidak kalah sinisnya.
"Baiklah, karena kau yang meminta jangan salahkan aku bila aku tidak bisa menahan diri untuk menghabisimu."
"Buktikan kalau kau bisa." Adam menggeram marah.
Sementara Man berbisik kepada Jalal, "bos, yakin nih kita bisa menghadapi mereka?" tanya Man sedikit ketakutan. Melihat badan ketiga orang dihadapan mereka membuat Mansingh dan Surya agak menciut nyalinya. Berbeda dengan Jalal, walaupun dia tidak yakin menang namun dia tidak boleh menyerah begitu saja. Setidaknya dia bisa membuktikan kepada Inem kalau dia bukan anak mama yang manja.

KAMU SEDANG MEMBACA
BIARKAN AKU JATUH CINTA
FanficAku bukan ingin mencintai karena nama dan kekayaan. Aku hanya ingin cinta yang sederhana, tidak rumit dan nyaman. Karena itu aku jaga hatiku agar tidak mudah luruh terhadap segala rayuan. Aku hanya ingin mencari yang benar-benar tulus, bukan hanya c...