JANGAN BERUBAH

2.5K 72 55
                                    

Hai, Inem datang lagi nih. Karena ini adalah season 2, jadi scene joja tidak bisa full seperti sebelumnya ya. namun mereka tetap selalu ada kok. Semoga tidak bosan membacanya.

Maafkan di part sebelumnya aku nggak sempat balas komen, karena mataku perih kelamaan lihat layar. Kayaknya aku bakal dapat bantuan buat ngeliat deh. Hehehe...

======000=====

Sebulan kemudian.

Ada yang berbeda kali ini yang Jalal rasakan. Dulu sebelum menikah, bangun tidur sekehandak hatinya saja. Biarpun mau bangun pagi, siang, atau bahkan seharian tidur juga tidak ada yang melarang. Tetapi ketika dia sudah menikah, pagi sudah ada yang membangunkan dan mengingatkannya untuk bekerja, dan sekarang ketika anaknya lahir dia harus belajar dan menerima ketika sewaktu-waktu terbangun disaat enaknya tidur karena puterinya menangis.

Bisa saja sih dia membiarkan istrinya yang bangun, tetapi dia tidak tega juga melihat istrinya terkantuk-kantuk bangun dan menyusui bayi kecil Aram, meski hanya menemani saja.

"Ngantuk, Yang?" tanya Jalal ketika melihat istrinya ingin bangun untuk meletakkan putrinya di box bayi, Jodha mengangguk, "sini, biar aku yang balikin lagi ketempatnya." Kembali Jodha mengangguk. Jalal segera mengambil bayi mereka yang sudah tertidur lagi dalam pangkuan istrinya dan mengembalikan Aram ke box-nya.

Jodha hanya tersenyum melihat suaminya menggendong anaknya. Sebelum dia menaruh kembali anaknya ke box, terlebih dahulu Jalal mencium lembut pipi bayi kecil Aram. Si kecil hanya menggeliat sebentar sebelum kemudian tidur lagi. Tidak bosan-bosannya Jalal menikmati pemandangan didepannya yang begitu menggemaskan.

"Sudah, Yang. Tidur lagi. Besok aja mandangnya." Tegur Jodha. Jalal tersenyum tanpa menjawab. Dia merapikan tempat tidur anaknya, meski hal tersebut tidak perlu dilakukan sebenarnya. Tetapi buat Jalal itu merupakan keasyikan tersendiri. Setelah puas, Jalal kembali ke tempat tidur, dimana istrinya masih duduk menunggunya.

"Iya Sayang, ini juga mau tidur." Sahut Jalal mengusap lembut kepala Jodha. Wanita itu tersenyum, ternyata suaminya tidak berubah. Masih perhatian kepadanya seperti saat-saat ketika dia masih hamil, "yuk." Jodha mengangguk. Dia membaringkan tubuhnya dan meringkuk dipelukan suaminya.

@@@@@

Minggu pagi.

Nadia yang sudah terbangun sedari tadi hanya memandang wajah suaminya dan mengelus-elus pipi Mansingh. Biasanya memang hari minggu mereka bangun agak telat. Setelah sholat subuh mereka kembali tidur lagi. Nadia tidak pernah merasaa bosan menatap suaminya seperti itu. Sesekali diciumnya bibir Mansingh. Lelaki itu tersenyum miring masih dengan mata terpejam, membiarkan istrinya membelai wajahnya dan tangannya memeluk pinggang istrinya.

"Bang."

"Hm..."

"Kita main ke resto yuk."

"Kapan Beb?"

"Tahun depan, Bang." Mansingh membuka matanya dan terkekeh.

"Gitu aja ngambek, Beb." Nadia memanyunkan bibirnya.

"Habisnya Abang kan tau kalau sekarang hari minggu, berarti hari ini dong Bang." Mansingh mencium sekilas hidung Nadia. Dia tersenyum.

"Iya deh. Apapun untuk istriku tercinta." Nadia tersenyum senang, "emang kita kesana ngapain?"

"Ikut grasstrack." Sahut Nadia santai. Mansingh kaget.

"Apa?" tanya Mansingh tanpa sengaja mendelik. Nadia malah terkekeh.

"Ih, Abang ekspresinya kok gitu? Aku kan lama nggak naik motorcross Bang. Kangen aku. Boleh ya Bang? Please!" ucap Nadia menangkup kedua tangannya didepan wajahnya. Mansingh menghela nafas.

BIARKAN AKU JATUH CINTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang