MENGERTILAH

2.1K 70 87
                                    

Hai semua, met siang. Maaf telat update. Dua hari ini aku sibuk banget. Tadi malam aku kecapekan buat ngalanjutin tulisan. Masih ada seminggu lagi untukku melanjutkan ff ini sebelum aku benar-benar off pasca lebaran. Semoga masih ada yang menunggu ya, meski pada pulang kampung. Mungkin akan ada 2 part lagi sebelum lebaran. Ternyata nggak bisa tamat sebelum lebaran. Hikz...

Ternyata penggemar Aram-Rahim lebih banyak dari JoJa ya. Yang nanyain banyak juga. Kirain nggak terlalu diminati. Syukurlah kalau gitu.

Untuk yang sudah request scene Jalal CS, Insya Allah sebelum lebaran akan aku update. Jadi kita bisa menikmati reuni mereka bertiga, meski sudah tidak muda lagi. Hehehe...

====0000====

"Kenalkan, aku Rahim. Calon suami Karamina!"

Rio terkejut dengan pernyataan pemuda dihadapannya itu, yang sekarang sedang berjabat tangan dengannya. Untuk beberapa saat dia hanya diam tanpa bisa berkata apa-apa. Sementara Aram juga tidak kalah terkejutnya mendengar ucapan abangnya. Sungguh diluar dugaannya kalau abangnya akan berkata seperti itu.

Dhea dan Sita hanya bisa memandang mereka bertiga dengan tegang tanpa bicara, menduga-duga apa yang akan terjadi nanti.

"Oh." Suara Rio terdengar melemah, "maaf, aku nggak tau. Mbak Na nggak pernah ngasih tau." Ucap Rio melepaskan jabatan tangannya dan duduk agak menjauh dari Aram.

Aram merasa tidak enak dengan keadaan yang berubah kaku. Dia dapat merasakan kesedihan Rio. Sementara itu Rahim tersenyum penuh kemenangan. Dhea dan Sita hanya bisa saling pandang.

"Nggak apa-apa. Aku malah harusnya berterima kasih karena kamu sudah menjaga calon istriku." Rio tersenyum terpaksa. Dia mengangguk.

"Sama-sama. Aku sudah menganggapnya adikku sendiri. Jadi, nggak akan aku biarkan ada yang menyakitinya," Rahim tersenyum dan mengangguk, "ya sudah, aku istirahat dulu. Mari semuanya." Kata Rio sembari berdiri meninggalkan mereka berempat.

Aram, Dhea, dan Sita hanya bisa menatap punggung Rio yang semakin menjauh. Dia melangkah gontai menuju tendanya, dia menghela nafas sembari melangkah untuk membuang rasa sesak didadanya. Kenyataan tadi membuat hatinya terasa kosong. Harapan yang dia bangun selama berbulan-bulan ini ternyata hanyalah harapan yang sia-sia.

Gadis yang dicintainya ternyata hampir menjadi milik orang lain. Dia tau kalau dia tidak akan bisa mendapatkan impiannya itu. Kenapa disaat dia jatuh cinta pertama kali harus merasakan patah hati? andaikan dia perempuan, mungkin sekarang dia akan menangis sesunggukkan. Dan mungkin saja dia akan menjerit histeris.

Tapi tidak.

Bagaimanapun dia adalah laki-laki. Dia tidak boleh mengeluarkan air mata yang hanya akan membuatnya menjadi lemah. Setidaknya dia masih bisa menikmati senyum gadis yang telah merebut hatinya itu, meski mungkin tidak akan lama lagi sebelum hilang untuk selamanya.

Rio menuangkan kopi hitam yang tersedia kedalam cangkir dan membawanya duduk disamping tendanya. Mungkin untuk sekarang ini menyendiri bisa jadi pilihan terbaik untuknya. Setidaknya tidak ada yang tahu betapa hatinya patah setelah tahu gadis itu sudah ada yang memiliki.

"Dia adalah cinta pertama Kakakku." Rio terkejut ketika tahu-tahu seorang pemuda yang dia tahu adalah adik dari gadis yang dia cintai duduk disampingnya. Dia bahkan tidak menyadari kalau pemuda itu datang, saking larutnya dia dalam lamunannya.

"Fatih?"

Fatih tersenyum, dia duduk disamping Rio, "panggil Fi aja. Sama kayak keluargaku memanggilku." Rio mengangguk.

BIARKAN AKU JATUH CINTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang