Hai....ini Inem datang lagi nih. Maaf baru bisa muncul lagi. Agak sibuk kemarin. Part ini lebih panjang dari part sebelumnya, semoga bisa mengobati kangen dengan Inem dan Tuan Muda. Hehehe....
==========0000==========
Jalal masih menatap dengan intens wajah cantik di depannya itu yang telah terpejam matanya dengan jantung berdebar keras. Naluri membuatnya memiringkan kepalanyanya ingin mengecup bibir setengah terbuka yang begitu menggiurkan itu. Tangannya yang mengacung memegang hp sudah diturunkan sedangkan tangan sebelahnya tanpa disadari keduanya sudah berada di tengkuk Jodha.
Jodha hanya diam mematung, dadanya juga terasa berdebar. Sedikit demi sedikit dia merasakan nafas hangat menerpa wajahnya, jantungnya semakin berdetak kencang dan dia tidak berani untuk membuka matanya. Hanya pasrah dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Hallo Nyonya,....iya Nya,.....Jodha sedang dipeluk Tuan Muda, Nya. Jadi belum bisa menjemput Nyonya dan Tuan di bandara sekarang." Kata Bi Ijah tiba-tiba saja berada di tempat itu dengan hp menempel di telinganya.
Jalal dan Jodha terkejut bukan kepalang mendengar ucapan Bi Ijah yang bahkan blak-blakan mengatakan kalau mereka berdua sedang berpelukan. Jodha dengan cepat membuka matanya dan nampak pucat pasi. Dia refleks mendorong dada Jalal dan menjauhinya. Sedangkan Jalal nampak terkejut dan frustasi juga salah tingkah karena ketahuan ingin mencium Inemnya. Tanpa menoleh ke arah Jodha dan Bi Ijah Jalal segera meninggalkan tempat itu.
Sepeninggal tuan mudanya Bi Ijah tertawa cekikikan sambil menutup mulutnya. Jodha bingung kenapa Bi Ijah nampak tenang-tenang saja. Padahalkan majikannya mau datang. Dengan perasaan tercampur malu karena diperhatikan oleh Bi Ijah yang nampak senyum-senyum penuh arti kepadanya Jodha memberanikan diri untuk menanyakan perihal kedatangan majikannya itu.
"Apa benar Ibu sama Bapak mau dijemput sekarang Bi?" tanya Jodha dengan suara pelan. Bi Ijah menggeleng. Jodha semakin tidak mengerti, "terus?" Bi Ijah kembali tersenyum.
"Belum Jo, mereka masih belum terbang kok. Tadi Bibi hanya menghentikan aksi Tuan Muda sama kamu aja. Makanya Bibi pake nama Nyonya biar Tuan Muda takut." Jelas Bi Ijah sambil tertawa.
Jodha menghembuskan nafas lega. Lega karena majikannya memang belum datang dan lega karena lepas dari aksi yang memalukan itu dengan Tuan Mudanya. Mengingat kejadian tadi membuat wajah Jodha terasa panas. Dia mengutuk dirinya yang ikut-ikutan terbawa suasana. Gilaaa....tatapan tuan mudanya itu begitu menghipnotis dirinya sehingga tanpa di sadari dirinya ikut larut dalam pesona laki-laki itu.
"Masih mengingat tadi Jo? Nyesel karena nggak jadi?" ledek Bi Ijah. Jodha semakin malu, menggeleng dan menunduk, Bi Ijah tersenyum, "nggak apa-apa kok Jo. Wajar aja kalau kamu tertarik sama Tuan Muda. Dia kan emang cakep, siapa sih yang bisa menolak pesonanya? Dan aku rasa Tuan Muda juga tertarik sama kamu." Jodha langsung mendongak menatap Bi Ijah. Dia menggeleng.
"Tidak Bi, itu tidak mungkin. Tuan Muda tidak mungkin suka kepadaku. Itu tadi hanya kebetulan saja." Elak Jodha. Dia tidak mau mengakui semua itu. Dia bahkan rela mendingan dia yang menyukai lelaki itu daripada tuan mudanya yang menyukai dirinya. Karena bila dirinya yang menyukai, dia tentu tidak akan membiarkan perasaannya berkembang lebih jauh lagi. Cukup hanya dihatinya saja.
"Apa yang tidak mungkin Jo? Tidakkah kamu lihat perubahan sikap Tuan Muda selama kamu berada disini? Apa kamu tidak tahu setiap pagi dia memperhatikanmu dari kamarnya ketika kamu sedang mencuci mobil Nyonya bersama Mang Diman." Jodha terkejut mendengar pernyataan Bi Ijah. Wanita itu tersenyum.
"Kok Bibi bisa tahu?"
"Pernah secara tidak sengaja Bibi memergokinya sedang berdiri dibalkon kamarnya bersandar di pagar. Saat itu Bibi tidak sengaja melihat ketika ingin menyapu halaman samping. Dari tempat Bibi berdiri Bibi melihat dia terus menatapmu tanpa sadar kalau Bibi juga memperhatikannya. Dia baru masuk lagi ke kamarnya setelah kamu selesai mencuci mobil. Bibi penasaran apa dia seperti itu hanya saat itu saja ataukah tiap hari. Besoknya lagi Bibi perhatikan lagi dari tempat yang sama ternyata seperti itu lagi yang dia kerjakan." Jodha terdiam. Dia masih tidak menyangka akan seperti itu kenyataannya. Dia bahkan tidak berani untuk berpikir lebih jauh tentang pertanyaan-pertanyaan tuan mudanya tadi pagi dan juga tingkahnya yang aneh. Ya Tuhan,...sekarang Jodha bingung harus bagaimana bersikap jika berhadapan dengan majikannya itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
BIARKAN AKU JATUH CINTA
FanfictionAku bukan ingin mencintai karena nama dan kekayaan. Aku hanya ingin cinta yang sederhana, tidak rumit dan nyaman. Karena itu aku jaga hatiku agar tidak mudah luruh terhadap segala rayuan. Aku hanya ingin mencari yang benar-benar tulus, bukan hanya c...