Hai semua, ketemu lagi dengan keluarga besar Bang Bos dan Inem nih. Ada yang kangen mereka nggak? Hehehe... ah, gara-gara Mb Aey Zaww yang komen panjang lebar kemarin tentang Bang Bos dan anak-anaknya, jadinya aku kepikiran pengen bikin 1 part lagi sebelum aku ngetik J dan L. Sekalian memenuhin janjiku untuk bikin 1 part tambahan.
Aku nggak tau alurnya gimana ini, pokoknya nikmatin ajalah ceritanya. Namanya juga obat kangen. Ya nggak? Hihihi...
Di edit seadanya yaaa....
=====0000=====
Beberapa tahun kemudian.
Sabtu pagi.
"Fee, kakak-kakak kamu dan Zee sudah dikasih tahu belum dengan acara kita?" tanya Jodha sembari memasukkan adonan kue brownies ke dalam loyang. Setelah itu dia memasukkan ke dalam oven. Sementara Nafeeza mengatur meja makan untuk sarapan pagi.
"Sudah, Nda. Kak Aram sama Zee pagi ini kok mereka datangnya. Mungkin setelah Abang Rahim dan Bang Rio berangkat kerja. Kalau Kak Queen agak siang katanya. Soalnya bayi besarnya lagi rewel tuh." Sahut Nafeeza sembari terkikik.
Jodha menoleh.
"Fa kenapa, Fee?" Nafeeza tersenyum dan mengangkat bahu.
"Biasalah, Nda. Masa bunda nggak tau aja sih? kan kalau Kak Queen hamil, yang rewel pasti Kak Fa. Bukan istri dan anaknya. Heran deh." Jodha terkekeh mendengar ucapan Nafeeza.
Diantara kedua anak lelakinya, hanya Fatah yang terlihat sekali ingin diperhatikan oleh istrinya justru ketika Queen sedang hamil. Sekarang mereka sedang menunggu anak ketiga. Setelah Aby anak pertamanya berumur 7 tahun, dan Adelia 5 tahun.
Tentu saja Ruqaiyah dan Surya sangat gembira sekali dengan kehadiran cucu-cucunya. Bisa dimaklumi karena mereka berdua hanya memiliki putri satu-satunya.
"Tapi, Fa libur kan hari ini, Fee?"
"Katanya sih Kak Fa lembur hari ini, Nda. Ada kerjaan." Jodha berdecak sembari menggeleng.
"Libur kok masih kerja aja sih, Fa. Masa nggak ngasih waktu untuk keluarga. Main sama Abi dan Ade kan bisa. Apa segitu pentingnya kerjaan sampai harus lembur?" gerutu Jodha membereskan peralatan masak dengan dibantu oleh seorang asisten rumah tangganya.
"Nggak taulah, Nda. Kayak nggak ngerti Kak Fa aja. Orangnya gila kerja. Untung Arya nggak gitu, jadi anak-anakku nggak kehilangan papanya." Jodha mendengus.
"Nggak boleh gitu, Fee. Lagian Fa juga kerja untuk keluarga kita. Mungkin aja memang ada kerjaan yang mendesak untuk dia kerjakan sampai harus lembur." Lagi-lagi Nafeeza mengangkat bahunya.
"Tau ah, Nda. Kan bukan sekali ini aja Kak Fa kayak gitu. Udah sering kali, Nda."
"Ada apa sih? pagi-pagi kok rame banget?" Jalal datang bersama Fauzan dalam gendongannya. Sementara dibelakangnya Arya juga muncul bersama Fauzi. Anak kembarnya.
"Uzan sayang. Turun, nak. Jalan aja ya. kasihan kakek tuh kalau kamu minta digendong terus." Kata Nafeeza menghampiri puteranya yang berada dipunggung Jalal.
"Ndak mau. Uzan mau ama akek." Jalal dan Jodha tertawa.
"Iya. Tapi jangan minta digendong terus dong sayang. Ntar kakek capek gimana? Nggak bisa gendong Uzan lagi. Ayo turun dulu. Kita sarapan."
"Nggak apa-apa, Fee. Ayah masih kuat kok. Tenang aja." Nafeeza menghela nafas panjang.
"Tapi kasihan ayah loh. Masa tiap hari gendongin Uzan terus." Jalal menurunkan cucunya di kursi yang ada disampingnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
BIARKAN AKU JATUH CINTA
FanfictionAku bukan ingin mencintai karena nama dan kekayaan. Aku hanya ingin cinta yang sederhana, tidak rumit dan nyaman. Karena itu aku jaga hatiku agar tidak mudah luruh terhadap segala rayuan. Aku hanya ingin mencari yang benar-benar tulus, bukan hanya c...