Met malam, senang sekali bisa hadir lagi nih membawakan kisah abang Rahim dan dek Aram. Jadi ingin ketawa nih tanggapan readersnya di part yang lalu. Yang jengkel sama Rahim kenapa balik jadi kasihan? Hehehe...
Maaf ya kalau cerita season 2 ini lebih banyak mellownya. Aku juga nggak tau kenapa jadi begini. Tetapi semoga aja masih ada yang suka ya dengan alur yang aku buat.
Sebelumnya aku ingatkan, untuk yang baper, sediakan tisu sebanyak-banyaknya. Hehehe...
Met baca ya. maaf kalau typo.
========0000======
Aram tersentak ketika seseorang menepuk bahunya. Lamunannya buyar.
"Perasaan dari pertama datang sampai sekarang kamu kok melamun terus sih, Na?" kata Dhea sembari duduk disamping Aram. Dia sengaja minta dipanggil dengan sebutan Nana, dari namanya Karamina. Biar tidak terlalu teringat dengan keadaan rumahnya dan juga dengan seseorang yang selalu memenuhi hatinya.
Dhea adalah salah satu tenaga pengajar sukarela yang ikut program pemerintah Indonesia Mengajar. Dia akan mengajar di tempat itu selama kurang lebih setahun. Dia datang seminggu terlebih dahulu dari Aram. Usia mereka sebaya. Mereka berdua tinggal dirumah yang sama, namun pekerjaan mereka berbeda. Sudah tiga bulan mereka berdua melaksanakan tugas pengabdian. Terkadang mereka saling bertukar pikiran dan setiap 2 minggu sekali Dhea ikut Aram ke kota tempat tinggal om dan tantenya, dan mereka gunakan untuk menambah informasi yang akan mereka gunakan selama melaksanakan tugasnya. Aram tersenyum.
"Terus, mau kamu aku harus teriak-teriak gitu?" Dhea tertawa.
"Ya nggak juga sih, hanya aja aku lihat kamu emang hobi banget melamun ya?"
"Enggak juga tuh. Aku lagi senang menikmati ombak laut. Tempat tinggalku jauh dari pantai, karenanya mumpung masih disini aku ingin sekali menikmatinya." Sahut Aram sembari melepaskan pandangannya ke laut yang tidak bertepi itu.
Desa tempat Aram melaksanakan tugasnya adalah sebuah desa nelayan dipinggir pantai terluar di kalimantan dan terisolir. Tidak banyak yang tahu tentang keberadaan desa tersebut. Meski letaknya di pesisir pantai, namun jarang sekali tempat tersebut dilewati rute transportasi besar seperti kapal penumpang. Untuk mencapai tempat tersebut, dari ibukota membutuhkan waktu kurang lebih 6 jam menggunakan perahu kecil dan melewati sungai berarus deras. Sedangkan untuk menempuh perjalanan melalui darat akan membutuhkan waktu yang lebih lama karena beratnya medan yang harus dilalui.
Sebuah pertambangan batubara yang sudah berdiri sejak puluhan tahun milik kakek Aram, Pak Humayun yang sampai sekarang masih beroperasi. Untuk mencapai desa tempat Aram bertugas, harus melewati lokasi tambang tersebut. Meski agak terisolir namun desa tersebut mendapat bantuan dari perusahaan berupa solar cell yaitu alat untuk mengubah sinar matahari menjadi listrik. Meski tidak cukup untuk menghidupkan alat-alat elektronik yang mempunyai kapasitas watt yang lebih besar, namun untuk penerangan alat tersebut sudah lebih dari cukup.
Selain itu, desa tersebut juga mendapat bantuan dengan dibangunnya sebuah puskesmas pembantu, juga sebuah sekolah dasar. Meski hanya terdiri dari tiga ruangan namun hal tersebut cukup membantu setidaknya anak-anak di desa tersebut bisa mendapatkan pendidikan, minimal bisa baca tulis.
Puskesmas pembantu tersebut hanya dihuni oleh seorang mantri muda dengan status sebagai PNS yang sudah ditempatkan di desa tersebut selama 2 tahun. Sedangkan untuk sekolah dasarnya, hanya di ajari oleh seorang guru PNS yang dalam sebulan hanya bisa mengajar selama tiga minggu, dan seminggu digunakan untuk cuti di kota tempat tinggalnya. Dia dibantu seorang tenaga honorer sukarela dari daerah itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
BIARKAN AKU JATUH CINTA
FanfictionAku bukan ingin mencintai karena nama dan kekayaan. Aku hanya ingin cinta yang sederhana, tidak rumit dan nyaman. Karena itu aku jaga hatiku agar tidak mudah luruh terhadap segala rayuan. Aku hanya ingin mencari yang benar-benar tulus, bukan hanya c...