CEMBURU

4.5K 84 79
                                    

Hai, met malam, Inem datang lagi nih. Part kali ini isinya ringan saja, se-ringan kapas. Jadi sebelum baca pegangan dulu, takut ketiup angin ntar terbang. Wkwkwkwk...

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

Seminggu semenjak kematian Adam, setiap hari sepulang kerja Surya selalu mengantarkan Ruqaiyah untuk berziarah dan berdoa dimakam kakaknya. Dia masih merasa kehilangan satu-satunya saudara kandung yang dia miliki. Walaupun dimata orang lain kakaknya adalah sosok yang jahat, namun bagi Ruqaiyah, Adam adalah seorang kakak yang sangat menyayanginya melebihi siapapun di dunia ini.

Selesai berziarah, Ruqaiyah dan Surya masuk kedalam mobil. Namun pemuda tidak segera menjalankan mobilnya. Ruqaiyah itu membuka kacamata hitamnya dan menoleh kearah pemuda disampingnya itu, yang sejak tadi menatapnya. Wajah gadis itu terlihat sembab, matanya bengkak karena terus-terusan menangis. Meskipun dia mengatakan sudah ikhlas selepas kepergian kakaknya, tetapi tetap saja dia masih belum sepenuhnya keluar dari perasaan sedih dan kehilangan.

Surya mengusap kepala istrinya yang memakai kerudung hitam itu, dan mencium keningnya agak lama.

"Kamu yang sabar ya. Sedih boleh, tetapi jangan sampai larut dalam kesedihan. Mungkin memang ini yang terbaik buat Kakak." Hibur Surya dengan lembut. Ruqaiyah memaksakan diri untuk tersenyum.

"Aku hanya masih tidak percaya Kakak pergi secepat ini Sur. Rasanya masih seperti mimpi." Sahut Ruqaiyah sambil menghapus air mata yang kembali turun dari sudut matanya. Surya tersenyum.

"Aku tau. Dan aku juga masih tidak percaya. Tetapi mungkin memang takdirnya harus begitu, dan kita mau tidak mau harus menerimanya." Ruqaiyah mengangguk pelan.

"Iya aku akan berusaha, Sur. Makasih ya. Kamu selalu ada untukku. Aku tidak tahu apa jadinya kalau kamu nggak ada." Surya kembali tersenyum. Dia menggenggam tangan istrinya.

"Nggak usah ngomong begitu. Kamu sekarang sudah menjadi istriku, dan orang tuaku sudah menjadi mertua sekaligus orang tua kamu juga. Jadi, jangan merasa sendiri. Karena kami akan selalu ada untuk kamu. Ya?" ucap Surya tersenyum sambil menepuk-nepuk pipi istrinya dengan lembut. Ruqaiyah tersipu dan tersenyum, meski masih terlihat dipaksakan.

"Kok ya masih ada ya stok laki-laki sebaik kamu dan juga keluarga sebaik keluarga kamu." Surya terkekeh.

"Nyatanya masih ada kan? dan sekarang sudah menjadi suami kamu." Goda Surya. Ruqaiyah tertawa kecil, dan Surya senang sekali melihatnya. Istrinya sudah tidak terlalu sedih lagi, "sekarang kita kemana dulu?" tanya Surya lagi, "ingin makan-makan, atau jalan-jalan, aku temani." Ruqaiyah tampak berpikir sebentar. Dia menggeleng.

"Nggak ah, mataku masih bengkak. Malu dilihat orang nanti."

"Kan bisa pakai kacamata hitam tuh?" Ruqaiyah kembali menggeleng.

"Kapan-kapan saja, aku sekarang lagi nggak pengen apa-apa Sur. Maaf ya." Surya tersenyum.

"Nggak apa-apa kok. Aku hanya nggak ingin melihat kamu larut dalam kesedihan aja. Mestinya kita harus bahagia karena sudah menikah, yah walaupun sederhana, dan lebih membahagiakan lagi, Kakak juga ikut menyaksikan pernikahan kita. Ya kan?" Ruqaiyah akhirnya tersenyum, dia mengangguk.

"Kamu benar Sur, meski itu adalah saat terakhirnya tetapi aku senang Kakak nggak marah lagi sama aku dan menyaksikan aku menikah." Sahut Ruqaiyah dengan rona wajah yang mulai bersemangat, dan Surya merasa sangat senang sekali.

"Ya sudah kalau begitu, kita pulang aja ya." Ajak Surya.

"Hm, boleh nggak malam ini kita nginap dirumahku saja. Sekalian aku ingin mengambil barang-barangku." Surya mengangguk.

BIARKAN AKU JATUH CINTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang