APAPUN UNTUKMU

1.7K 54 39
                                    

Abang sama Dek Aram hadir lagi nih. Maaf telat ya.... Mau post tadi malam, ada hujan petir. Nggak berani. Maaf kalo kurang dapat feelnya. Maaf juga kalau banyak typo.

======000=====

Tiga bulan kemudian.

Aram beberapa kali melirik jam dinding yang ada dikamarnya. Berulangkali juga dia menghela nafas. Matanya masih menatap wajah suaminya yang masih tertidur pulas disampingnya. Masih bisa dimengerti sih kalau Rahim belum terbangun, karena memang masih jam 4 pagi.

Ingin membangunkan suaminya dia tidak tega. Jadinya dia hanya mengusap-usap lembut pipi Rahim dan memainkan telunjuknya menyisiri tiap senti bagian wajah pria itu. Bahkan sampai sekarang Aram masih terpesona dengan Rahim. Padahal hampir seumur hidup mereka selalu bersama, tetapi rasanya hati Aram tidak pernah bosan mengagumi kharisma lelakinya.

Meski Rahim adalah jenis laki-laki yang kaku, namun Aram justru bersyukur dengan hal itu. Setidaknya suaminya tidak punya keinginan dekat dengan perempuan lain. Begitu juga sebaliknya. Dia tidak peduli kalau suaminya hampir-hampir tidak pernah mengucapkan kata-kata romantis seperti laki-laki lain. Karena sejak awal Aram sudah tahu akan hal itu.

Namun itu dulu, sekarang entah kenapa Aram ingin sekali suaminya sesekali mengucapkan kata-kata romantis untuknya, meski hanya ketika bangun pagi dan menjelang tidur. Keinginan itu begitu kuat. Sementara dulu dia harus bersabar menunggu suaminya bangun dengan sendirinya.

Aram tidak sempat menghitung berapa lama dia memperhatikan suaminya yang tertidur ketika Rahim membuka mata dan menatapnya yang sudah tersenyum senang. Sesaat Rahim hanya diam, namun kemudian dia tersenyum tipis dan mengecup kening istrinya.

"Pagi dek." Sapa Rahim dengan suara serak. Aram tersenyum lebar.

"Pagi juga, abang."

Kembali Rahim sepertinya heran dengan senyuman istrinya itu. Ada yang tidak biasa dengannya.

"Kamu kenapa, dek? Sepertinya bahagia banget." Senyum Aram semakin lebar mendengar pertanyaan suaminya itu. Dia semakin merapatkan tubuhnya kepada Rahim yang masih dalam posisi miring menghadapnya.

"Abaaang," ucap Aram dengan suara manja, telunjuknya bermain di dada Rahim yang menaikkan sebelah alisnya melihat kelakuan istrinya.

"Hm?"

"Abang, kayaknya si baby pengen sesuatu deh." Kata Aram tanpa menghentikan gerakan tangannya.

"Oh ya? baby pengen makan apa, sayang?" Aram tersenyum malu. Dia menggeleng. "Lalu?"

"Baby pengen ayahnya nyanyi."

"Hah?" Rahim terlihat syok. Dia menatap Aram tanpa berkedip. Sementara Aram memasang wajah memelas.

Aram tahu. Bahkan sangat tahu kalau kualitas suara suaminya itu sangat parah. Dulu tak jarang dia mengejek suara Rahim ketika tidak sengaja menyanyi. Dan sekarang? Entah kenapa Aram ingin sekali mendengar suaminya menyanyi.

"Ayolah bang. Mau ya. ini demi baby kita, bang." Bujuk Aram. Rahim menggeleng.

"Enggak dek. Kamu tau sendirikan gimana suara abang. Bisa-bisa seisi kampung bangun semua." Elak Rahim berusaha untuk menolak. "yang lain aja ya." Aram menggeleng.

"Nggak mau! Pokoknya Aram mau abang nyanyi. Ini bukan Aram yang minta loh bang, ini baby kita. Ayolah bang. Mau ya? please, please..." lagi-lagi Rahim menggeleng.

"Maaf dek. Abang nggak bisa. Jangan paksa abang ya." sahut Rahim bangkit dari tidurnya, mengecup kening istrinya sebentar dan bergerak ingin turun dari tempat tidur.

BIARKAN AKU JATUH CINTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang