Selama sore, Inem datang lagi nih. Maaf telat posting ya, hehe...
=======000======
Sore harinya sepulang kerja, Jalal mendapati istrinya sedang duduk di teras depan rumah. Begitu melihat jeep suaminya memasuki pintu gerbang, wajah Jodha nampak sumringah. Wajahnya nampak segar dan juga cantik karena memakai make up. Dia mengenakan dress selutut dengan lengan pendek. Dia juga memakai anting minimalis dan sebuah jam tangan kecil dengan ukiran unik. Rambutnya dibiarkan tergerai kebelakang.
Jalal ingin tertawa saja rasanya. Istrinya berdandan. Sesuatu yang dulu terlihat mustahil dilakukan oleh wanita itu, sekarang seperti sudah menjadi kebiasaan barunya. Jalal turun dari jeepnya, dengan tersenyum manis dia menghampiri bidadarinya yang sejak tadi menunggunya.
"Ini siapa ya? Kok aku baru melihat?" sapa Jalal sedikit memiringkan kepalanya seolah menilai perempuan didepannya itu. Jodha tersenyum malu, dia menunduk. Wajahnya memerah. Perut Jalal rasanya kejang melihat tingkah istrinya itu karena harus menahan ketawa. Dia menjadi geli sendiri dengan ucapannya. Hahaha...
"A-aku cantik nggak Sayang?" tanya Jodha seraya mengangkat kembali kepalanya. Jalal mengangguk, dia merangkul bahu istrinya dan mencium rambut Jodha.
"Cantik. Sangat cantik. Istriku pasti cantik, dan tidak ada duanya lagi di dunia ini." Puji Jalal lagi, membuat Jodha semakin tersipu. Senyumnya semakin mekar saja.
"Makasih ya." sahutnya malu-malu. Jalal tersenyum dan mengangguk.
"Kita masuk yuk, aku nggak dikasih jatah nih ceritanya?" goda Jalal. Jodha terkekeh.
"Boleh. Ayo." Jalal menggandeng tangan istrinya masuk.
Diruang tengah mereka berdua melihat Bu Hamidah sedang duduk di sofa, seperti biasa dia membaca majalah wanita.
"Sore Ma." Sapa Jalal. Bu Hamidah mendongak, mengalihkan pandangannya dari majalah dan menatap mereka berdua.
"Sore juga Sayang, sudah pulang?"
"Iya Ma." Pandangan Bu Hamidah beralih kepada Jodha, yang bergayut mesra di tangan suaminya. Dia tersenyum.
"Mantu Mama kok cantik sekali ya?" puji Bu Hamidah. Jodha tersenyum malu, dia menyembunyikan wajahnya dibalik lengan suaminya.
"Mama bisa aja. Lagi belajar kok Ma." Sahutnya pelan. Bu Hamidah dan Jalal terkekeh pelan.
"Kok malu sih Sayang?" tanya Jalal sembari menepuk punggung tangan istrinya yang memegang lengannya.
"Iya Jo, nggak usah malu. Wajar kok kalau kamu sekarang suka berdandan. Terlihat lebih cantik." Sambung Bu Hamidah. Jodha mengeluarkan kepalanya dari balik lengan suaminya.
"Benar Ma?" Bu Hamidah mengangguk.
"Iya Sayang." Jodha tersenyum senang.
"Makasih ya Ma."
"Iya."
"Ayo Sayang kita masuk," Jodha mengangguk, Jalal berpaling kearah mamanya, "kami masuk dulu ya Ma." Bu Hamidah mengangguk.
Keduanya pun naik ke kamar, dan Jodha masih bergayut manja di lengan suaminya sembari senyum-senyum. Jalal rasanya ingin sekali tertawa, namun takut istrinya tersinggung. Jadinya dia hanya bisa menahan senyumnya saja.
"Kok dari tadi meluk lengan terus sih, Yang?" Jodha cemberut.
"Nggak suka ya? aku kan kangen."
"Bukan gitu Sayang. Aku juga kangen, maksudku kenapa cuma lengan aja yang dipeluk? Kok nggak badanku aja sekalian gitu? Kan sekalian gede, anget buat dipeluk. Hm?" akhirnya Jodha tersenyum lagi. Dia tidak segera memeluk suaminya, namun dia membuka jas yang dipakai oleh suaminya seperti biasa. Setelah itu barulah dia puas-puasin memeluk suaminya. Jalal hanya bisa tertawa melihatnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
BIARKAN AKU JATUH CINTA
FanfictionAku bukan ingin mencintai karena nama dan kekayaan. Aku hanya ingin cinta yang sederhana, tidak rumit dan nyaman. Karena itu aku jaga hatiku agar tidak mudah luruh terhadap segala rayuan. Aku hanya ingin mencari yang benar-benar tulus, bukan hanya c...