Selamat malam semuanya, akhirnya aku bisa posting juga. Walaupun telat, yang penting janjiku terpenuhi. Oke. Langsung aja ya. Hehehe...
================000=================
Jodha menghela nafas, kedua tangannya masih menggengam syal berwarna hijau pemberian tuan mudanya. Dia tersenyum mengingat bagaimana tuan mudanya itu memaksa agar dia mau menerima pemberiannya. Ternyata oh ternyata, gadis itu dirinya. Berulangkali dia menampik pemikirannya kalau dia bukanlah gadis yang diinginkan oleh pemuda itu.
Tetapi, ketika tuan mudanya mengutarakan semua perasaannya, yang ada kini perasaan bimbang. Meskipun diakui, kalau dia sudah mulai menyukainya. Pikirannya sudah sering terganggu oleh bayangan majikan mudanya itu yang terkadang ketika dia sendiri, selalu datang menghampirinya.
Kini, enam bulan sudah berlalu semenjak kepergian tuan mudanya itu. Jodha berharap pemuda itu segera datang. Dia rindu keusilannya, rindu kata-kata gombalnya, rindu saat pemuda itu ngambek, rindu kebersamaan mereka selama ini, dan yang pasti dia rindu semua tentang majikannya itu.
Selama ini Jodha menghabiskan waktunya untuk belajar dan belajar, dia ingin menyelesaikan kuliahnya secepatnya. Selain itu, dengan terus belajar dia bisa melupakan sosok laki-laki tampan yang sudah mulai menarik hatinya itu. Skripsinya sudah dia selesaikan dengan baik. Hanya tinggal menunggu prosesi yudisium dan wisudanya saja lagi. Jodha sangat berharap, disaat dia diwisuda nanti akan ada ayahnya hadir disampingnya sebagai saksi atas keberhasilannya. Bisakah?
Perlahan Jodha meletakkan syal itu kembali di tempatnya. Namun pandangannya masih tertuju kepada benda itu. "Kok belum pulang juga sih Tuan? Masih betah ya disana? Apa disana lebih menyenangkan ya daripada disini?" gumamnya pelan.
Sekarang sudah lewat seminggu berlalu dari enam bulan yang dijanjikan itu. Tapi belum ada tanda-tanda kedatangan pemuda itu. Bahkan kabarnya pun tidak ada. Jodha ingin sekali bertanya kepada Bayu, namun dia malu. Dia tidak ingin nanti terlihat begitu mengharapkan kedatangan tuan mudanya.
Jodha keluar dari kamarnya bermaksud ingin melakukan tugasnya seperti biasa, bersih-bersih. Tetapi langkahnya tertahan ketika melihat di ruang keluarga, Bu Hamidah sedang menatap foto tuan mudanya yang berada di figura di atas buffet. Disana berjejer foto Pak Humayun, Bu Hamidah, dan tidak ketinggalan foto tuan mudanya beberapa tahun yang lalu. Dia memperhatikan majikannya itu yang lama menatap foto anaknya. Mungkin ibu rindu sama tuan muda, pikir Jodha. Dia perlahan berjalan menghampiri Bu Hamidah.
"Bu..." sapa Jodha. Bu Hamidah sedikit tersentak. Namun, kemudian dia menoleh dan tersenyum.
"Eh, kamu Jo."
"Saya ngagetin Ibu ya? Maaf ya Bu." Bu Hamidah tersenyum, dia meletakkan figura yang dipegangnya tadi.
"Nggak apa-apa. Ibu saja yang terlalu serius."
"Ibu kangen Tuan Muda ya?" Bu Hamidah menghela nafas, dia menatap kembali foto anaknya.
"Iya Jo. Ibu kangen. Sudah enam bulan lebih nggak pernah ketemu. Ingin sekali Ibu kesana menjenguknya, tapi sama Papanya nggak boleh. Nanti saja katanya, bentar lagi juga pulang. Gitu kata Papanya. Tapi, sampai sekarang kok belum pulang-pulang juga."
"Hm...mungkin Tuan Muda masih banyak kegiatan kali Bu. Makanya belum bisa pulang sekarang." Ucap Jodha menghibur Bu Hamidah, dan juga menghibur hatinya.
Kembali Bu Hamidah menghela nafas, dia merangkul bahu Jodha dan membawanya duduk di sofa depan televisi. Jodha menurut saja. Mereka berdua duduk berdampingan.
"Memangnya kamu nggak rindu sama Jalal, Jo?" tanya Bu Hamidah, membuat Jodha memerah dan tertunduk. Bu Hamidah tersenyum. Dia paham artinya itu, hanya saja dia pura-pura tidak tahu.

KAMU SEDANG MEMBACA
BIARKAN AKU JATUH CINTA
FanfictionAku bukan ingin mencintai karena nama dan kekayaan. Aku hanya ingin cinta yang sederhana, tidak rumit dan nyaman. Karena itu aku jaga hatiku agar tidak mudah luruh terhadap segala rayuan. Aku hanya ingin mencari yang benar-benar tulus, bukan hanya c...