Karin memaksaku datang ke kampus lebih awal dari biasanya. Katanya mau bicarain hal penting. Entah hal penting apa yang membuatnya sangat tega terhadapku. Aku sih udah datang ontime jam 06.37. Padahal masuk perkuliahan pertama jam 07.45. Tapi si Karin sang pembuat janji, belum muncul juga dari hadapanku.
'Karin, gue kesel sama lo! Udah dibelain dateng sepagi ini, tapi kenapa lo belum dateng juga? Apa lo mau ngejebak gue?' batinku kesal.
Saat hatiku dilanda kekesalan yang luar biasa, Karin datang dengan gaya minimalis yang menyebalkan. Dia hanya memakai celana jeans warna krem dan kaos warna putih, serta tas warna coklat kesukaannya.
"Sejak kapan lo ada di sini? Gue kan mintanya lo dateng lebih awal, tapi kok lo datengnya pagi-pagi banget!" kata Karin renyah.
"Eh gue udah berbaik hati dateng pagi. Nah lo malah ngaretnya kebangetan. Udah setengah jam yang lalu gue datengnya! Lo kemana aja?" dengusku kesal.
Karin yang merasa tak bersalah, pasang muka jutek. Diambilnya beberapa lembar uang seratus ribuan dari dompetnya, lalu diserahkan kepadaku. Aku nggak memusingkan dengan jumlah nominal uangnya.
Permasalahannya di sini:
1. Pasti ada maksud dibalik pemberian sejumlah uang tersebut
2. Cara penyerahan sejumlah uang yang tidak sopan
3. Aku tak suka disuap meski aku sangat membutuhkan uang (kostan bulan ini belum ku bayar)Karin bersikeras menyodorkan uang miliknya dengan cara yang tak menyenangkan. Sungguh, aku tak suka! Sebegitu nistanya dia memperlakukan aku yang notabene masih sahabatnya sendiri.
"Ini duit untuk bayar kostan lo selama satu bulan. Jadi lo nggak usah khawatir untuk bulan depan. Be happy girl!" kata Karin.
"Maksudnya apa ya? Lo sok baik gitu, ada maksudnya kan?" tanyaku.
Karin membelalakkan matanya yang sipit. Tetep aja terlihat sipit! Selanjutnya berkacak pinggang seperti model pakaian.
"Gue tulus loh bantuin lo. Meski itu bukan uang gue. Bukan uang curian. Tapi uang pemberian. Terima aja deh! Daripada urusan makin panjang. Lo ngerti kan maksud gue gimana?" Karin membuka tasnya. Diambilnya sebuah ponsel kekiniannya yang masih baru. "Ini ponsel gue baru. Pemberian juga!"
"Karin, elo masih waras kan ya? Gue nanya apa, lo jawabnya apa? Gue kesel sama lo. Lo itu nggak ngerti tatanan bahasa. Ribet!" kataku mencelos.
"Selow.... gue dapet uang ini dengan cara halal. Ini hak gue setelah gue bisa nyelesain satu tugas penting. Apa ada yang salah?" tanya Karin.
"Salahnya lo, ngasih uang ini dengan cara nggak sopan! Gue mana mau uang yang bercitra songong. Itu penghinaan besar dalam hidup gue. Gue sangat menghargai identitas kehalalan harga diri gue sendiri. Kalo bukan gue siapa lagi coba?" jawabku dengan nada berapi-api.
Karin mendekatiku, memelukku, dan berbisik padaku.
"Sshhttt, ini rahasia kita. Ini sangat cukup untuk menopang hidup kita. Pengorbanan yang mudah dengan hasil yang melampaui batas maksimal kepuasan." kata Karin mantap.
"Ini uang apa dulu?" tanyaku lagi.
"Ini uang pemberian dari Nathan Ardian. Dia berjanji pada gue, akan memenuhi semua impian dan harapan gue. Asalkan gue bisa ngejaga elo." kata Karin mantap.
"Lo ngejaga gue dari apa?" ku tatap Karin yang sama sekali tak melihatku. Dia masih sibuk dengan ponsel barunya. "Karin, lo denger gue nggak sih?"
"Apa? Gue hanya disuruh mastiin kalo elo baik-baik aja. Lo itu prioritas gue sekarang! Lo aman gue aman! Prinsip kekinian ala Karin Soraya."
Karin semakin menyebalkan.

KAMU SEDANG MEMBACA
SEXY MAID & SEXY BOSS
Romance"Lo nangis? Sshhhtt, gue nggak mau lo nangis lagi. Gue mau lo bayar semua kerugian yang gue derita!" Dia mendekatiku dengan wajah sok iba. Aku kesal. Masalahnya dia hampir mengambil ciuman pertamaku. Ikh, ngeselin! PLAAAKKKK Sebuah tamparan ku tuju...